Konteks Sejarah Pembangunan Sosial

Posted: 29 Januari 2014 in Kumpulan Makalah SM 6

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah
“Perencanaan dan Kebijakan Pengembangan Sosial”
Dosen Pengampu : Muhtadi, M.Si
Disusun Oleh :
Ahmad Suheri
1110054000037

PENGEMBANGAN MASAYARAKAT ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH & KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN 2013
BAB I
PENDAHULUAN
Meskipun di dalam bab sebelumnya telah diupayakan definisi pembangunan sosial, namun konsep pembangunan sosial masih didefinisikan dengan banyak aspek. Salah satu definisi yang berbeda dikemukakan di dalam bagian akhir bab sebelumnya. Lebih baik menggunakan definisi pembangunan sosial sebagaimana yang ada di dalam bab ini, yang sangat berguna untuk menelusuri sejarah perkembangan pembangunan sosial.
Sebagaimana ditunjukan di dalam bab ini, pembangunan sosial telah dilakukan oleh berbagai kelompok masyarakat yang berbeda, dan dipengaruhi oleh berbagai pemikiran dan juga peristiwa. Untuk mengetahui bagaimana masyarakat, pemikirannya, peristiwa yang mempengaruhi perkembangan pembangunan sosial, akan dibahas lebih mendalam mengenai berbagai pembangunan sosial dalam berbagai aspek. Di dalam bagian ini dimulai dengan menguji mengenai peranan pemikiran tentang perubahan masyarakat dan intervensi sosial dalam kerangka pembangunan sosial. Di sini dibahas tentang sumbangan pemikiran mereka dan mereka yakin bahwa suatu idea dapat secara langsung mempengaruhi perubahan sosial.
Langkah ini muncul karena pada dasarnya bahwa kesejahteraan suatu negara dan perencanaan pembangunan di negara industri maju dipengaruhi oleh pemikiran mengenai pembangunan sosial yang akan dibahas berikut ini. Dalam bab ini akan ditelusuri mengenai perkembangan pembangunan sosial sebagai pendekatan praktis untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Di sini dijelaskan tentang peranan administrator kolonial yang mereka merupakan orang pertama di dalam menerapkan konsep kesejahteraan sosial setelah berlangsungnya perang dunia kedua. Konsep kesejahteraan sosial yang demikian disampaikan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan kemudian dilaksanakan di berbagai tempat kolonialisasi berada. Selanjutnya digunakan sebagai suatu rujukan bagi pekerja sosial di Amerika, dan pekerja sosial lainnya di seluruh dunia.
Dalam bab ini mencatat bahwa di tahun 1980-an ada pengaruh negatif terhadap konsep pembangunan sosial. Meskipun adanya hak asasi radikal, namun kelompok-kelompok politik mampu melaksanakan pembangunan sosial secara efektif dan menyebarkannya merupakan indikasi bahwa pembangunan sosial mulai dapat diterima sebagai suatu pendekatan yang baik terhadap upaya memperkuat kesejahteraan sosial. Sebagaimana akan nampak di sini, bahwa pemikiran dan peristiwa dapat mempengaruhi perkembangan saat ini mengenai pendekatan pembangunan sosial. Pemikiran tentang asal usul perubahan sosial dan darimana perubahan sosial dimulai merupakan pemikiran utama pembangunan sosial saat ini.
Serupa dengan itu, pembangunan sosial juga dipengaruhi oleh perluasan pelayanan sosial pemerintah dan peniruan perencanaan ekonomi selama abad ke 20. meskipun pengaruh pemikiran dan peristiwa tidak secara eksplisit terlihat, keduanya memainkan peranan kritis di dalam membentuk pendekatan pembangunan sosial yang muncul pada tahun 1950-an sampai tahun 1960-an.

BAB II
PEMBAHASAN
1. Teori Perubahan Sosial dan Intervensi
Sebagaimana telah disampaikan di dalam bagian akhir dalam bab sebelumnya, pembangunan sosial meliputi suatu proses perubahan yang berupaya untuk mendorong secara perlahan-lahan tindakan manusia. Jadi pembangunan sosial tidak hanya merupakan proses alamiah, spontan, tetapi memerlukan intervensi terorganisir. Pemikiran mengenai suatu perubahan dan intervensi merupakan kunci utama dalam pembangunan sosial dan keduanya sangat mempengaruhi perkembangan teoritis pembangunan sosial saat ini. Sehingga memahami ciri-ciri pokok dari pembangunan sosial harus dan membutuhkan juga mempelajari teori perubahan sosial dan kerangka konsep intervensi sosial.
Menelusuri perubahan sosial dapat dimulai dari sejarah masa lampau. Ahli sejarah sosial Rollin Chambliss (1954) telah menunjukan bahwa para filosof Yunani telah menulis secara lengkap mengenai perubahan sosial yang sebelumnya merupakan pemikiran tentang perubahan sosial telah muncul di dalam dongeng, legenda, dan agama di jaman Yunani kuno. Sebagai contoh, pengembangan keyakinan Cina kuno juga dirancang dengan menggunakan perubahan sosial. Di dalam kebudayaan Cina, perubahan dianggap sebagai suatu proses yang tidak pernah berahkir. Orang-orang Cina kuno yakin bahwa masyarakat pertama kali berkembang, menjadi lebih terorganisir dan makmur-sejahtera, kemudian mengalami kemunduran serta tidak terorganisir dan akhirnya hancur (runtuh). Akhirnya, perputaran dimulai dari titik nol lagi, dan masyarakat sekali lagi mengalami perkembangan menuju keteraturan dan makmur kembali.
Di masa Cina kuno ada juga suatu keyakinan bahwa di atas langit dapat mempengaruhi proses perubahan sosial di bumi. Demikian di dalam kebudayaan India kuno telah ada kepercayaan sebagaimana di masyarakat Cina kuno, bahwa perubahan sosial akan terus berputar naik dan turun, hanya saja di masyarakat India, perubahan sosial dimulai dari jaman emas yang mana masyarakat terus mengalami kemunduran sampai proses yang tidak akan pernah berakhir pula.
Ide mengenai kemunduran masyarakat yang dimulai dari jaman emas juga muncul di masyarakat lain seperti di agama Judaisme, Kristen, Islam yang kesemuanya menceritakan mengenai Adam dan Hawa, yang merupakan nenek moyang manusia, keduanya hidup di dalam surga yang akhirnya diturunkan ke dunia.
Kehidupan dunia merupakan hasil pengusiran dari surga dan kemudian mengalami kemunduran dan kelaparan, hanya bisa dikurangi ketika kedatangan Imam Mahdi untuk menyelamatkan kembali umat manusia. Berbagai agama itu yakin bahwa Tuhan merupakan penggerak utama perubahan dan perubahan itu mengikuti rencana yang dirancang oleh Tuhan dalam kehidupan dunia ini.
Pernyataan mengenai pemikiran di masa kuno tersebut menunjukan bahwa adanya berbagai perbedaan keyakinan mengenai jalan dan penyebab terjadinya perubahan sosial. Walaupun demikian, pemikiran kuno tersebut telah diyakini dan diterima sampai abad lalu yang perubahan sosial itu merupakan proses yang terus menerus dengan menghasilkan berbagai perkembangan di masyarakat. Serupa dengan jaman kuno itu yang melihat perubahan sosial itu dimulai dari jaman emas dan kemudian mengalami kemunduran, masyarakat di banyak bagian dunia sekarang ini yakin bahwa kondisi sosial masyarakat semakin memburuk.
Di antara mereka yakin bahwa kondisi yang memburuk itu merupakan hasil kemunduran atau konsep yang pesimistik tentang perubahan ketika mereka yakin bahwa kondisi dapat membaik kembali jika kita berpikiran maju dan optimis. Selain demikian, ada dua hal konsep penting, yakni penjelasan mengenai pandangan perubahan sosial merupakan proses yang terus menerus yang terdiri dari proses kemajuan dan kemunduran. Sebagaimana diuraikan di atas, pemikiran modern mengenai pembangunan sosial sangat dipengaruhi oleh pemikiran perubahan sosial itu sebagai suatu proses yang menuju kemajuan.
Untuk melengkapi pemikiran selanjutnya mengenai perubahan sosial sebaiknya dikombinasikan antar berbagai pendekatan.
Mungkin dapat dijadikan contoh di sini mengenai Teori Perkembangan, teori ini mengkombinasikan teori perputaran, yang mengatakan bahwa perubahan dipandang sebagai proses maju yang ditandai dengan terus berputarnya perubahan daripada perubahan yang linear. Teori perkembangan dapat dibagi menjadi dua hal yakni perubahan sosial dipandang sebagai proses linear menuju ke suatu kemajuan mantap dan perubahan sosial sebagai suatu proses yang telah melampaui tahapan tertentu secara jelas. Selain itu, banyak ahli sejarah memandang bahwa perubhan itu sebagai proses berjalan di tempat, yang tidak pernah terjadi perubahan apa-apa. H. W. Arndt (1978) mengatakan bahwa konsep statis itu sesungguhnya dipengaruhi oleh pemikiran sosial di Eropa Timur dan mendapatkan tantangan selama abad pertengahan sampai jaman kebangkitan. Jaman kebangkitan di Eropa dimulai pada abad ke-19 yang para filsof memuji nilai-nilai baru, yang kemudian masyarakat modern muncul untuk menggantikan sistem feodal lama. Para penulis di jaman kebangkitan menghargai ide modernisasi yang dicirikan dengan adanya individualisasi, rasionalisasi, dan kemajuan.
Tema-tema demikian menjadi bahasan teori perubahan sosial yang muncul saat itu. Robert Nisbet (1980) mengatakan bahwa pada waktu itu ide mengenai kemajuan sangat terkenal tidak hanya di dalam pemikiran sosial tetapi juga di kalangan ekonom dan bidang-bidang lainnya. Sebagai contoh, Adam Smith, sebagai bapak ekonomi modern, dia menulis bahwa kemajuan masyarakat dipengaruhi oleh perubahan sosial akan membawa dampak positif yakni menguntungkan semua anggota masyarakat. Di sini lain, dia menjelaskan bahwa keadaan yang tidak mengalami perubahan adalah tumpul dan penurunan adalah gila atau menyedihkan. Ada banyak penjelasan berbeda mengenai penyebab perubahan sosial. Sebagaimana telah dijelaskan di depan, di jaman Cina kuno ada suatu keyakinan bahwa planet dapat mengatur proses perubahan.
Sebagian besar ahli sejarah, semua itu telah diterima dan bahwa perubahan itu dikendalikan oleh yang punya kuasa (Tuhan). Di lain sisi, para pemikir sosial memandang bahwa perubahan yang terjadi bidang sosial dan ekonomi dipengaruhi oleh faktor di dalam masyarakat itu sendiri. Pemikiran mengenai umat manusia dapat dengan sengaja merencanakan sehingga bisa mendorong secara langsung proses perubahan di waktu sekarang ini. Di jaman Yunai kuno, juga telah memberikan sumbangan terhadap pemahaman mengenai perubahan sosial. Banyak teori ilmu sosial mengenai perubahan sosial berasal dari keyakinan orang Yunani. Pemikiran Yunani mengenai masyarakatnya yang telah mengalami kemunduran sejak jaman emas dan keyakinan itu ditemukan di dalam dongeng dan legenda yang ditulis oleh Hesiod.
Sekarang, keyakinan itu ditentang oleh seorang filsof Heraclitus yang menyatakan bahwa teori tentang perubahan sosial terdiri dari perputaran dan unsur kemajuan. Heraclitus yakin bahwa masyarakat akan lahir, berkembang, maju dan kemudian mengalami kemunduran, tetapi dia menyarankan bahwa seluruh perubahan akan menuju kemajuan yang abadi. Heraclitus yakin bahwa perubahan akan terjadi dan tidak ada sesuatu baik secara fisikal maupun sosial bersifat abadi. Dia menawarkan penyebab yang kompleks dari perubahan, menyarankan bahwa perubahan itu akan terjadi ketika ada unsur baru dan ada yang membuat hal baru. Pada waktu itu, hal-hal baru diikuti dengan hal yang baru lainnya, dan ketika keduanya melebur, hal baru lagi dapat direkayasa. Proses demikian itu disebut dengan ”dialektik”. Heraclitus menjelaskan bahwa di antara dialektika itu mendorong terjadinya perubahan.
Tulisan yang sangat penting tersebut telah mempengaruhi pemikir sosial Eropa di abad ke-18 dan ke-19. Mereka kebanyakan menerima pandangannya mengenai perubahan sosial sebagai suatu kemajuan dan proses yang tidak bisa dihindari. Sebagaimana pemikir George Hegel dan Karl Marx juga dipengaruhi pemikiran dialektika di dalam menjelaskan perubahan sosial. Plato juga dipengaruhi oleh pemikiran Heraclitus, tetapi lebih condong untuk menerima pemikiran yang mundur (retrogressive) tentang perubahan sosial. Plato yakin bahwa masyarakat di mana dia tinggal mengalami kemunduran dari peradaban yang sangat tinggi. Tetapi, dia setuju dengan Heraclitus mengenai masyarakat, sebagai mahkluk hidup, tumbuh dan berkembang, mengalami kemunduran, kemudian mati. Sebagaimana jaman Hebrews kuno, Plato yakin bahwa perubahan sosial dikendalikan oleh yang maha kuasa (Tuhan). Dia juga yakin bahwa ada faktor pendorong untuk mengendalikan masyarakat di masa itu.
Selama jaman emas, Plato mengatakan bahwa telah menjadi bagian dari mahkluk hidup dan terlibat langsung dalam mengendalikan masalah manusia. Namun, ketika dia tidak bisa mengendalikan masyarakat itu, maka akan terjadi kemunduran. Ketika Plato menerima suatu perubahan, dia tidak suka dengan perubahan itu, dan lebih suka hidup di dalam kondisi masyarakat yang stabil dan teratur. Pengaruh penting lainnya yang muncul dari teoritisi modern tentang perubahan sosial yaitu St Augustine, dia adalah ilmuwan di jaman kristen. Demikian pula Nisbet (1980) telah menjelaskan bahwa St Augustine telah menulis sehingga mendorong dan mempengaruhi teori perubahan sosial modern dibandingkan dengan jaman Yunani. Dia mengemukakan bahwa banyak teori perubahan sosial yang muncul setelah abad pertengahan yang terinpirasi dari tulisan Augustine tersebut.
Pemikiran Augustine melihat bahwa perubahan sosial adalah suatu proses kemajuan yang merupakan hasil dari kondisi tetap di dalam masyarakat yang telah diterima secara luas. Pemikiran ini juga mempengaruhi konsep mengenai pembangunan sosial. Augustine juga membuat teknik untuk membuat tahap proses teoritis waktu yaitu time series secara bijaksana. Selain pemikirannya tentang perubahan sosial yang tetap, yang mengikuti perubahan waktu, dia mengkategorikan ke dalam 6 tahapan, yakni tahap pertama masa Adam dan Hawa dengan segala hal yang berkaitan dengan mereka. Kemudian, banyak penulis menerima teknik itu, yang memandang perubahan sosial sebagai suatu proses dari peristiwa, tahap demi tahap.
Augustine juga menjelaskan bahwa proses perubahan akan mencapai puncaknya jika telah mencapai kesempurnaan. Selain itu ke enam tahapan, dia juga menyebutkan 7 (tujuh) tahapan termasuk jaman emas yang pada masa itu manusia akan hidup dalam perdamain dan harmonis di alam dunia. Tahapan itu akan diikuti tahapan akhir yaitu ketika dunia telah kiamat dan mereka memasuki surga untuk hidup penuh dengan kebahagiaan. Untuk Augustine, tujuan akhir dari suatu perubahan sosial adalah kesempurnaan sosial. Pemikiran demikian akhir-akhir ini dikembangkan oleh para penggagas dan juga mempengaruhi para pemikir pembangunan sosial. Akhirnya, sumbangan Augustine di dalam pengembangan teori perubahan sosial modern adalah membantu mengidentifikasi penyebab perubahan.
Ketika Augustine yakin bahwa Tuhan menciptakan waktu dan ikut campur dalam proses perubahan, yang pemikiran ini dipengaruhi oleh pemikiran Yunani mengenai dialektika dan keyakinan bahwa perubahan sosial merupakan persaingan antar kekuatan. Augustine, mengatakan bahwa dasar dari semua kenyataan sosial adalah berlangsungnya konflik antara manusia dengan Tuhan. Di sisi lain, antara kekuatan spiritual dan material. Ketika konflik terus berlangsung akhirnya diakhiri dengan datang dan berakhirnya waktu. Meskipun hanya sedikit studi mengenai perubahan sosial telah dipublikasikan antara masa Augustine dan abad ke-16, satu teori penting telah dirumuskan oleh Ibnu Khaldun, pada abad ke-14 yang merupakan sarjana Islam dari Afrika Utara. Teori Ibnu Khaldun sangat signifikan karena dalam teorinya dia mengatakan bahwa ada satu hal utama yang mempengaruhi perubahan sosial yakni kegiatan manusia. Khaldun menguraikan ada dua tipe masyarakat, adalah masyarakat nomaden asli yang teridi dari petani sederhana dan penduduk kota. Dia menjelaskan bahwa masyarakat yang berpindah selalu melakukan penyerangan terhadap penduduk yang menetap.
Karena mereka lebih kuat dan terbiasa dengan kegiatan demikian, mereka akhirnya dapat menaklukan mereka, karena dengan melakukan pekerjaan, maka mereka kemudian masyarakat yang menetap pula dan kemudian kehilangan kemampuan untuk berperang. Pada waktu itu, nomaden yang lainnya datang dan melakukan penyerangan terhadap mereka. Mereka juga melakukan hal yang sama dengan pendahulunya. Ibnu Khaldun, yakin bahwa hal demikian merupakan proses berulang yang terus berlangsung. Walaupun teori perputaran Ibnu Khaldun agak berbeda dengan kebanyakan teori yang melihat perubahan sosial secara linear, proses maju, yang didasari pada konflik kemanusiaan sebagai penyebab utama dari perubahan yang secara historis sangat penting.
Banyak teori perubahan sosial yang telah dirumuskan oleh filosof Eropa selama dan setelah abad kebangkitan. Kebanyakan dari teori bersifat optimis, yakin bahwa masyarakat akan berkembang maju, dalam bentuk linear. Teori yang lainnya lagi telah mengidentifikasi perbedaan tahap di dalam proses perubahan sosial. Banyak teori menuntut adanya tahapan akhir yakni menjadi satu situasi sosial yang komplit. Namun, teori di masa kebangkitan ditandai dengan penyebab perubahan sosial adalah berbagai faktor. Penjelasan demikian dapat dibagi menjadi dua yakni penekanan pada peranan pemikiran manusia yang menekankan pada peranan kekuatan ekonomi dan sosial dalam memperbaharui perubahan sosial. Penjelasan pertama dikenal dengan teori idialis, yang kemudian dikenal dengan istilah teori materialis.
Adam Smith adalah salah seorang yang menyarankan mengenai munculnya perubahan sosial karena dipengaruhi oleh kegiatan ekonomi. Dia mengidentifikasi 5 tahapan di dalam sejarah perkembangan manusia. Tahap yang paling rendah yang didominasi oleh pemburu, kemudian tahap pengembalaan, yang dilakukan oleh penggembala. Para penggembala digantikan dengan pertanian primitif yang kemudian digantikan lagi oleh petani maju. Selanjutnya tahap akhir adalah manusia yang mempunyai peradaban tinggi, yang Smith yakin bahwa ciri dari peradaban modern itu adalah pengembangan pabrik pengolahan dan diekspor ke wilayah lain. Perubahan kegiatan ekonomi demikian akhirnya mendorong masyarakat ke dalam tahap pembangunan yang tertinggi.
Teori Adam Smith ini sebagai sebuah contoh dari penjelasan materialistis mengenai perubahan. Di lain pihak, Georg Hegel, menjelaskan mengenai perubahan sosial yang ditekankan pada peranan pemikiran manusia sebagai pengaruh utama perubahan. Di sini dilakukan identifikasi mengenai tahapan melalui masyarakat yang telah lampau. Dia yakin bahwa pemikiran dari masyarakat yang berbeda akan menjadi sumber konflik di berbagai tahapan perkembangan masyarakat. Berbagai pemikiran yang bersifat konflik itu merupakan ekspresi atau perwujudan dari thesis dan antithesis, yang akhirnya menghasilkan suatu proses yang disebut synthesis. Ketika synthesis terjadi, masyarakat akan terdorong ke dalan tahapan berikutnya. Di sini synthesis sekarang menjadi pemikiran baru atau thesis, yang akhirnya menghadapi tantangan pemikiran baru lainnya atau antithesis.
Walaupun, dua pemikiran tersebut bisa bercampur menjadi satu, perkembangan tahap berikutnya akan dialami masyarakat ke dalam tahap yang lebih tinggi. Walaupun Plato dan penulis lainnya sebelumnya telah menekankan pentingnya pemikiran manusia di dalam perubahan sosial, teori Hegel mungkin menjadi yang terbaik dan lengkap untuk dijadikan contoh mengenai penjelasan idealis seperti di atas. Karl Marx dan para pengikutnya seperti Fredrich Engels merupakan tokoh yang sangat terkenal di dalam paradigma materialistis mengenai perubahan sosial. Marx tidak setuju dengan apa yang disampaikan Hegel berkenaan dengan peranan pemikiran manusia di perubahan sosial. Seperti halnya Smith, mengatakan bahwa kegiatan ekonomi sebagai pendorong perubahan sosial.
Marx menjelaskan bahwa perbedaan bentuk kegiatan ekonomi diikuti dengan bentuk eksploitasi dan konflik. Marx yakin bahwa bahwa konflik sosial bermula dari dialektika yang mendorong masyarakat menuju tahapan yang lebih tinggi. Marx mengidentifikasi beberapa tahapan di dalam proses perubahan yang meliputi sistem komunisme primitif, masyarakat dengan nilai budaya timur, perbudakan, feodalisme, dan sistem kapitalisme. Dengan melampaui sistem kapitalisme, masyarakat akan bergerak menuju kepada tahap yang lebih damai yang akhirnya pada tahap akhir yakni tahap sistem komunis yang sempurna.
Serupa dengan apa yang disampaikan oleh Augustine.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, teori perubahan sosial telah mempengaruhi terhadap masyarakat modern sekarang ini terutama berkaitan dengan pembangunan sosial. Sekarang, pembangunan sosial dapat didefinisikan sebagai suatu proses perubahan yang terjadi dalam kondisi linear dan menghasilkan peningkatan kemajuan bagi masyarakat. Dalam hal ini dapat dilihat bagaimana teori Barat mengenai perubahan sosial telah mempengaruhi definisi pembangunan sosial dan memberikan fasilitas sehingga bisa diterima.

2. Pemikiran Mengenai Intervensi Sosial.
Para ahli teori sosial kuno yakin bahwa perubahan akan muncul melalui kekuatan yang besar seperti pengaruh Tuhan atau kekuatan planet. Di akhir-akhir ini, banyak yang menyatakan bahwa perubahan sosial disebabkan karena kekuatan di dalam masyarakat. Sebagaimana ditunjukan sebelumnya, Ibnu Khaldun yakin bahwa perubahan masyarakat dapat terjadi melalui proses perang. Hegel percaya bahwa pemikiran manusia mendorong masyarakat untuk sampai ke tahap yang lebih tinggi lagi. Sebaliknya, Marx yakin bahwa perubahan masyarakat mengakibatkan ekspoitasi kelompok tertentu meningkat dan melampaui tindakan penindasan.
Tidak ada suatu teori yang menjelaskan bahwa perubahan sosial dianggap dengan sengaja dipengaruhi keputusan manusia, melalaui perencanaan, dan kemudian langsung berubah. Walaupun, kesemuanya isinya tentang perubahan sosial yang akan muncul secara alamiah sebagai hasil dari kekuatan lokal di dalam sistem sosial. Hal demikian, tentu benar, karena para teoritisi sosial seperti misalnya Marx dan Hegel menyarankan bahwa perubahan sosial dipengaruhi oleh kegiatan manusia secara langsung. Marx percaya bahwa tindakan secara revolusioner oleh kelompok mempengaruhi perubahan pada individu dan kemudian perubahan masyarakat. Meskipun Marx dan Hegel percaya bahwa tindakan manusia menyebar luas dan menimbulkan kekuatan yang tidak terhingga. Marx menyatakan bahwa kehidupan manusia menentukan sejarahnya sendiri, tetapi dia menggarisbawahi pernyataannya sendiri dengan mengatakan bahwa mereka melakukan kegiatan berdasarkan konteks sejarah dan proses sosial.
Dia juga percaya bahwa banyak sejarah hukum yang mengarahkan kegiatan masyarakat. Ketika kegiatan manusia memerlukan perubahan masyarakat, dan perubahan itu didorong oleh kekuatan sejarah dan keadaan masyarakat secra luas.
Pemikiran mengenai kesejahteraan manusia dapat ditingkatkan secara intensif di masyarakat dan membentuk masyarakat ideal merupakan hal yang diperjuangkan oleh para kelompok pemikir sosial yang sering disebut dengan kelompok Utopians. Mereka membuat perencanaan untuk mereka berpikir mengenai masyarakat yang sempurna. Meskipun seringkali menjadi bahan ejekan, mereka membela intervensi dan pemikiran perencanaan modern.
Pemikiran para utopia merupakan sejarah panjang pula. Plato merupakan salah seorang utopis. Dia mengembangkan suatu perencanaan lengkap mengenai masyarakat yang ideal itu. Masyarakat yang demikian akan diatur oleh filsof yang berfungsi sebagai penyelenggara pemerintahan dan menjaga harmonisasi masyarakat. Dengan demikian mereka akan didorong dan penuh perhatian untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, raja filafat, yang sering kita sebut, tidak akan menikah atau menjadi kaya. Plato tidak suka demokrasi, dia yakin bahwa kebanyakan manusia tidak mempunyai kapasitas mengatur dirinya sendiri. Selain itu, dia yakin bahwa demokarsi menciptakan bagian-bagian dan konflik. Di dalam angan-angannya, para raja filsafat tersebut berperan mewujudkan keseimbangan dan tertarik untuk meningkatkan kesejahteraan warga masyarakatnya.
Banyak contoh lainnya mengenai pemikiran utopis tersebut. Utopia sesungguhnya berasal dari orang Inggris yakni Thomas More di awal abad ke-16. Thomas More menggunakan istilah pulau imaginasi (impian) yang berisi mengenai konsep masyarakat yang paripurna.
Di akhir abad ke-19, sosiologi telah menjadi mapan sebagaimana disiplin ilmu pengetahuan lainnya, di banyak universitas di Eropa dan juga Amerika Utara, tetapi hanya sedikit sosiolog yang setuju dengan Comte yang sosiologi berupaya untuk menemukan solusi bagi masalah yang ada di masyarakat. Sosilog Inggris, Herbert Spencer, juga mengusulkan pemikirannya, memperdebatkan dan berusaha mencampuri perubahan sosial masyarakat sebagaimana proses alamiah dan lambat laut mengalami kemajuan menuju perdaban yang lebih tinggi. Spencer yakin bahwa masyarakat sebagaimana makhluk hidup, mengalami evolusi sebagai teori Charles Darwin. Di bawah pengaruh pemikiran Darwin, Spencer dan para pengikutnya seperti William Sumner dari Yale USA pernah mengusulkan program bantuan kesejahteraan sosial yang dilakukan oleh pemerintah, keyakinan mereka adalah bahwa di masyarakat juga terjadi proses seleksi alamiah. Di bawah seleksi alam itu, mereka menjelaska bahwa hanya yang terbaik akan tetap hidup.
Dengan membantu yang lemah dan menghidupkan kembali mereka, maka masyarakat secara keseluruhan masyarakat menjadi rusak. Di sisi lain, beberapa sosiolog yang sepakat dengan pandangan Comte. Lester Ward dari USA dan Leonard Hobhouse di Inggris, keduanya menolak kritikan terhadap campur tangan negara, dan yakin bahwa intervensi pemerintah berguna untuk meningkatkan kesejahteraan semua warga negaranya. Sebagaimana telah diungkapkan di bab sebelumnya, Hobhouse menekankan tentang pembangunan sosial sebagai wujud dari proses perencanaan perubahan. Istilah ini diambil dari Charles North, yang menggunakan istilah perencanaan sosial. Kesemuanya itu sesungguhnya merupakan istilah dari sosiologi terapan yang berarti menerapkan ilmu sosiologi kepada pengembangan sosial.
Argumentasi Smith sama dengan para pemikir ekonomi dari Perancis pada abad ke-18 yang mereka menyebut sebagai psisiokrat. Mereka adalah Frnqois Quesnay, Piere Dupon, dan Marquis de Mirabeau. Para psisiokrat tersebut yakin bahwa perekonomian akan dikendalikan oleh hukum alam dan mereka menggunakan istilah ”pasar bebas” yang tidak ada campur tangan pemerintah di dalam pasar. Serupa dengan pemikiran Smith, pendekatan psisiokrat muncul di abad ke-19 yang tokohnya lainnya adalah Stanley Jevons dari Inggris, Carl Menger dari Jerman, dan Leon Walrus dari Swis. Mereka semua yakin bahwa perekonomian berjalan secara otomatis, menggunakan sistemnya aturan sendiri, dan intervensi pemerintah terhadap operasi sistem pasar diharamkan. Di akhir abad ke-20, Alfred Marshall dari Cambride University merevisi pemikiran tersebut, dengan merumuskan secara lengkap sejumlah pekerjaan di dalam ekonomi pasar. Marshall dan para pengikutnya percaya bahwa tidak adanya intervensi ke dalam pasar, dan pandangannya itu telah mendominasi pemikiran ekonomi saat itu. Hanya sedikit para ekonom yang dengan semangat membela adanya keharusan keterlibatan pemerintah di dalam perekonomian. Thorstein Veblen, yang mendirikan sekolah ekonomi, mendorong pemerintah AS untuk melakukan intervensi, yang sementara itu di Inggris kabinet neo-klasik ditentang oleh pengikut Marshall, misalnya John Maynard, yang pemikirannya dapat diterima.
Veblen dan Keynes, sosiolog seperti Hobhouse dan Ward, percaya bahwa intervensi sosial bisa dilakukan melalui perencanaan. Tetapi, pemikirannya itu tidak bisa diterapkan dalam skala yang cukup di negara-negara industri maju sampai berakhirnya perang dunia kedua. Kenyataannya, perencanaan dalam skala nasional telah diterima di Uni Sovyet setelah partai Marxis berkuasa di tahun 1917. Hal demikian kiranya dapat dikatakan ironi karena Marxis mengolok-olok ahli utopia yang pertama kali menerima perencanaan secara lengkap, dan berhasil menjalankan sesuatu yang diangan-angankan saja.
3. Negara Sejahtera dan Perencanaan di Negara Industri
Pembangunan sosial sekarang meliputi pemikiran mengenai kesejahteraan manusia yang dapat diupayakan melalui intervensi terorganisir. Hal ini menolak anggapan bahwa upaya pelayanan sosial tidak bermanfaat bagi masyarakat. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, pandangan bahwa keterlibatan pemerintah di dalam menangani masalah sosial berbahaya bagi masyarakat itu sendiri, yang dikemukakan oleh para sosiolog seperti Herbert Spencer, ahli pasar bebas, pemimpin ekonomi dan orang-orang kaya di abad ke-19. meskipun mereka menyatakan sebaliknya, secara perlahan-lahan ada kecenderungan di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 untuk melaksanakan intervensi pemerintah di dalam kesejahteraan sosial.
Kecenderungan tersebut dimulai sesungguhnya dari Undang-undang Kemiskinan yang untuk pertama kalinya pihak pemerintah secara sistematis mengatasi masalah sosial. Di awal abad ke-19, yang penduduk perkotaan bertambah dengan cepat, kondisi kota menjadi sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, pemerintah mulai memperkenalkan sanitasi lingkungan, air bersih, dan sarana kesehatan lainnya. Setelah itu, di akhir abad ke-19, kebutuhan akan pendidikan meningkat dan pada waktu itu, sarana pendidikan umum diperkenalkan dibanyak masyarakat industri. Pembangunan prasarana jalan terus digalakkan dan diperluas untuk mendukung program sosial pemerintah, termasuk jaminan sosial, perumahan, dan pelayanan kesehatan secara lengkap.
Hari program jaminan sosial pertama kali ada di Jerman di tahun 1880-an yang dilaksanakan oleh Kanselir Count Otto von Bismarck, yang meyakini bahwa dengan bertambahnya dukungan partai politik yakni partia sosialis Jerman dapat memperkenalkan program kesejahteraan sosial. Walaupun banyak aristokrat dan pemimpin perusahaan yang menolak kebijakan Bismarck, dia terus memperkenalkan model asuransi sosial yang melindungi pekerja dengan berbagai kemudahan dan keuntungan. Keberhasilan di Jerman tersebut selanjutnya ditiru oleh negara industri lainnya, dan jaminan sosial menjadi program utama dan sebagai pioner mewujudkan kesejahteraan negara.
Banyak negara eropa juga memperkenalkan program sosial secara luas. Tetapi, di dalam kasus yang sama, negara-negara industri membagi kepada pemerintah lokal, atau terkadang oleh lembaga atau organisasi yang dikoordinir para kelompok pekerja sosial khusus. Selain memerlukan kemampuan untuk menangani hal yang baru, negara sejahtera Amerika tidak menyediakan pelayanan kesehatan atau bantuan keuangan terhadap keluarga, dan hal tersebut tergantung kepada program yang sangat diperlukan. Walaupun banyak diterima di negara maju, tetapi di negara sedang berkembang tidak mampu untuk memperkenalkan secara lengkap pelayanan sosial, karena pemerintah kolonial juga dipengaruhi oleh munculnya negara kesejahteraan di bangsa metropolitan.
Meskipun banyak kolonialis berupaya untuk memperluas pelayanan sosial oleh pemerintah, di bagian dunia lain seperti di India dan Ceylon, ada upaya seperti apa yang dilakukan Beveridge. Contohnya, komisi Ardarkar di India mengusulkan untuk memperkenalkan jaminan sosial bagi pekerja industri dan akhirnya memunculkan Jaminan Sosial Pekerja India di tahun 1948. Walaupun sedikit di negara sedang berkembang mampu memperkenalkan program jaminan sosial secara luas bagi buruh-buruhnya, munculnya konsep negara kesejahteraan dan pemikiran tentang peran pemerintah untuk bertanggung jawab terahdap peningkatan kesejahteraan sosial selanjutnya diikuti munculnya pembangunan sosial di negara berkembang. Di dalam negara industri maju, di lain pihak, munculnya konsep negara sejahtera diikuti munculnya pendekatan admnistrasi sosial. Sebagaimana akan terlihat di dalam bab akhir, pendekatan pembangunan sosial meliputi upaya kesejahteraan yang dilakukan pegawai pemerintah kolonial di dalam mengidenfikasi model pelayanan sosial yang dapat mendukung pembangunan ekonomi secara positif.
Adopsi Mengenai Perencanaan Perencanaan adalah suatu unsur penting di dalam pembangunan sosial. Sekarang ini, sudah banyak yang percaya bahwa tujuan pembangunan sosial dapat diwujudkan melalui perencanaan yang sistematis. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, bahwa perencanaan sesungguhnya merupakan pemikiran yang sudah tua. Telah dikemukakan oleh para utopis dan khususnya utopia sosialis di abad ke-19.

4. Kolonialisme dan Kesejahteraan Sosial di Dunia Ketiga
Upaya untuk menggabungkan antara kebijakan sosial dan program secara keseluruhan merupakan strategi pembangunan ekonomi yang menjadi inti gagasan pembangunan sosial. Pemikiran awal meliputi juga pembangunan di negara dunia ketiga. Sebagaimana diuraikan di depan, konsep pembangunan sosial muncul dari kegiatan administrator pemerintah kolonial di Afrika selama tahun 1940-an sampai dengan 1950-an. Sudah sejak lama kolonialisme hanya peduli terhadap eksploitasi sumber daya alam dan pertanian di wilayah kolonialnya.
Pemerintah kolonial khususnya hanya peduli kepada perusahaan swasta, terutama pada perkebunan, dan pertanian yang sangat menguntungkan. Para administrator kolonial bertanggung jawab kepada hukum dan keamanan serta menjaga penduduk yang melakukan perlawanan. Pemerintah kolonial juga bertanggung jawab untuk mendorong penduduk pribumi untuk bekerja di perusahaan kolonial. Ketika semuanya tidak mungkin, maka tenaga kerja didatangkan dari daerah lain sebagai tenaga kerja paksa. Pemerintah kolonial juga mengambil pajak untuk membiayai pemerintah kolonial, membangun infrastruktur yang diperlukan bagi ekonomi kolonial. Pemerintah kolonial akhirnya melihat bahwa kesemuanya harus diupayakan untuk kepentingan perusahaan kolonial dalam rangka eksploitasi.
Pada umumnya, administrator kolonial tidak secara langsung peduli terahdap pembangunan ekonomi. Keadaan mulai berubah di awal abad ke-20 ketika beberapa pejabat kolonialis mulai memperkenalkan rancangan perencanaan pembangunan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, yang pertama kali adalah Perencanaan Guggisberg untuk membangun tanjung emas di Afrika. Pembangunan dalam skala besar lainnya adalah keterlibatan pemerintah dalam menyediakan prasarana dan sarana ekonomi yang telah dilakukan pemerintah Inggris pada tahuan 1929, program demikian merupakan seri pertama dari Undang-undang yang merupakan kegiatan pembangunan kesejahteraan kolonial. Undang-undang itu dirancang untuk mendorong perdagangan dengan wilayah koloni. Menghadapi permintaan yang rendah barang produksi pabrik di masa resesi besar, pemerintah Inggris berupaya mencari pasar di luar negeri. Undang-Undang pembangunan dan kesejahteraan kolonial membuka pasar baru di wilayah koloni dan menyediakan anggaran untuk pengembangan pertanian, barang-barang industri komersial yang akan bisa mendorong bangkitnya industri di Inggris raya. Sehubungan dengan adanya UU tentang pembangunan dan kesejahteraan kolonial, pemerintah kolonial juga menyediakan anggaran untuk pendidikan dan proyek sosial. Serupa dengan peraturan di atas, pemerintah kota metropolitan Perancis juga mengadakan Francophone di wilayah jajahannya. UU tentang pembangunan dan kesejahteraan di wilayah jajahan tidak merupakan penjilmaan dari ekonomi kolonial, tetapi UU itu sebagai suatu gagasan tentang perencanaan ekonomi dan penggunaan sumber daya untuk pembangunan ekonomi. UU demikian juga dimaksudkan untuk mendorong pemikiran yang sumber daya itu tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi harus dijadikan suatu barang yang mempunyai nilai tambah tinggi. Pemikiran demikian menjadi tema pokok di dalam mengkampanyekan kemandirian atau swasembada dan bisa juga kepedulian pada kemandirian pemerintah atau negara.
Pada mulanya, pelayanan sosial tidak disediakan oleh pemerintah kolonial, tetapi organisasi para misionaris atau organisasi amal membangun perumahan dan juga mendidik penduduk lokal. Kegiatan tersebut selaras dengan lembaga kesejahteraan lokal. Namun, situasinya menjadi berubah sebelum perang dunia. Ketika kota di wilayah jajahan tumbuh berkembang dan juga pemukinan kumuh ada di mana-mana, akhirnya masalah baru bermunculan, penanganan sangat diperlukan. Kejahatan, pengemis, gelandangan, kemalaratan, dan masalah sosial lainnya harus dihadapi pemerintah kolonial untuk menyediakan sarana-sarana umum untuk mengatasi masalah mereka. Sebagaimana Lucy Mair (1944) melaporkan bahwa pemerintah Inggris untuk pertama kalinya menaruh perhatian untuk menyelidiki perlunya layanan pekerja sosial di wilayah jajahan di akhir tahun 1930-an, dan hal tersebut diikuti selama perang dengan membentuk departemen kesejahteraan kolonial yang mereformasi penjara, rumah bagi anak-anak dan lembaga lainnya untuk lanjut usia, sakit jiwa, dan orang miskin. Pekerja sosial di datangkan dari Inggris untuk menangani departemen kesejahteraan serta melatih penduduk asli menjadi pekerja di lembaga dan melakukan layanan sosial (Midgley, 1981).

5. PBB dan Mengenalkan Pembangunan Sosial
Sumbangan Inggris dalam pembangunan sosial sangat menentukan, tetapi dilengkapi dan disebarluaskan oleh PBB. Sejak pembangunan sosial dilahirkan, perserikatan bangsa-bangsa memainkan peranan besar dalam memajukan pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Walaupun organisasi tersebut (PBB) hanya sedikit yang bisa dilakukan, namun lambat laun dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Meskipun konsep tersebut diterima hanya sekedarnya, namun masalah sosial dapat diatasi melalui pelayanan kesejahteraan sosial dan pembangunan masyarakat.
Selama tahun 1950-an, PBB memberikan prioritas kepada kesejahteraan keluarga, perlindungan anak dan remaja yang bekerja yang merupakan inti pokok dari pembangunan sosial. Telah diselenggarakan berbagai penelitian sampai usaha kesejahteraan sosial, dan upaya memajukan maupun menyebarluaskan pekerja sosial di negara berkembang. PBB menekankan upaya kesejahteraan sosial sebagai kesimpulan akhir dari kegiatannya. Penghargaan luar biasa patut disampaikan karena faktor sosial dihargai sebagai keseluruhan proses pembangunan dan kebijakan sosial yang dirancang untuk menyokong atau meringankan daripada kegiatan positif dan dinamis di dalam bidang kesejahteraan (PBB, 1971). Walaupun, di pertengahan tahun 1960-an PBB telah menetapkan kepedulian terhadap usaha kesejahteraan sosial dan pendekatan baru yang lebih menitik beratkan pada peningkatan standar kehidupan dan pengurangan kemiskinan. Pendekatan tersebut berupaya untuk menghilangkan kontroversi antara pelayanan sosial dengan pembangunan ekonomi. Namun demikian, PBB menyarankan bahwa pembangunan sosial lebih mengintegrasikan antara perencanaan ekonomi dengan upaya memperkuat kesejahteraan sosial di luar dari makna yang sempit.
Di Swedia menggunakan istilah kebijakan sosial sebagai bagian yang tidak terpisahkan dengan pendekatan pembangunan sosial yang telah diselenggarakan oleh negara industri seperti misalnya Amerika Serikat. Selain itu di Amerika juga ada usaha yang sistematis sejauh ini guna meningkatkan tujuan pembangunan sosial di kalangan akademis. Sebagaimana diuraikan sebelumnya, upaya memajukan pendekatan pembangunan sosial di Amerika dengan mendorong usaha kelompok pekerja sosial Amerika yang bekerja di lembaga internasional untuk memperoleh pengalaman dari kondisi di dunia ketiga.
Kegiatan mereka dapat dirumuskan kembali di dalam pembela dan pendukung pembangunan sosial di Universitas Minnesota di bawah pimpinan John Jones (1971), dan kemudian menjadi bagian perspektif pembangunan sosial maupun kepada program pekerjaan sosial lainnya di Amerika. Sebagaimana Roland Meinert (1991) mengatakan bahwa membuat konsursium antar universitas bagi Pembangunan Sosial Internasional di akhir tahun 1970-an, dengan menyertakan pendidik dari beberapa universitas Amerika, untuk mengajari mereka membuat journal baru, issu pembangunan sosial, dan publikasi mengenai beberapa artikel penting maupun buku yang berkaitan dengan mata ajar pembangunan sosial (Paiva, 1977). Konsursium sekarang telah menyebar luas ke organisasi internasional yang antara lembaga dengan anggotanya terdiri dari banyak negara yang berbeda. Walaupun organisasi tersebut belum sepenuhnya mempengaruhi kebijakan sosial pemerintah Amerika Serikat, keadaan sekarang ini lebih kondusif dalam upaya yang terorganisir.
6. Hidup dan Matinya Pembangunan Sosial
Ketika upaya nyata di dalam memperkenalkan pendekatan pembangunan sosial di negara industri tahuan 1970, peristiwa politik menghambat upaya tersebut secar efektik, tantangan berasal dari pemikiran mengenai pemerintah yang harus bertanggung jawab dalam memajukan pembangunan sosial guna mempertinggi kesejahteraan penduduknya. Tantangan yang sangat serius berasal dari pihak oposisi yakni Kelompok Hak Asasi Radikal yang merupakan gerakan politik untuk mendapatkan kekuatan politik di Inggris, Amerika, dan negara lainnya di akhir tahun 1970-an (Midgley, 1991). Pembela hak asasi radikal telah mampu untuk mempengaruhi banyak pemilih dengan mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan kesalahan dengan banyaknya pengangguran, inflasi dan perampasan yang dilakukan oleh serikat dagang yang menjadi ciri pada masa itu. Dua kali terjadi krisis minyak di tahun 1970-an telah menyebabkan masalah ekonomi yang serius dan meskipun ada usaha dari pemerintah untuk mengatasi masalah melalaui penggunaan perencanaan ekonomi Keynesia, resesi, inflasi dan pengangguran tetap tidak teratasi.
Berdasarkan pemilihan umum pemimpin hak asasi radikal seperti misalnya Mrs Tatcher sebagai perdana menteri Inggris di tahun 1979 dan Ronald Reagen sebagai presiden Amerika di tahun 1980-an, keduanya percaya bahwa pemerintah akan bisa bertanggung jawab terhadap pembangunan sosial meskipun menghadapi tantangan yang serius. Chili dengan presidennya Allende yang dijatuhnya oleh kelompok hak asasi radikal, akhirnya merobak kebijakan ekonomi dan sosialnya. Tambahan lagi, IMF yang telah memberikan bantuan untuk pembangunan sosial sekarang mendapatkan kesempatan baru untuk mengarahkan kebijakan keuangannya dengan memberikan kredit di negara dunia ketiga.
Kelompok hak asasi radikal menghidupkan kembali model teori pasar bebas di abad ke-19. Kelompok hak asasi radikal melawan pemerintah dengan intervensi pemerintah yang yakin bahwa pembangunan sosial akan muncul secara alamiah sebagai hasil pertumbuhan ekonomi. Mereka juga percaya bahwa pertumbuhan ekonomi akan bertambah maju jika pemerintah menahan diri untuk perencanaan ekonomi dan lebih menekankan kebijakan dalam mengurangi pajak untuk membantu wirausahawan dalam meminimalkan keuntungan dan kekayaannya.
Kelompok radikal tidak menghilangkan negara kesejahteraan di negara industri, tetapi sangat sangat sedikit dalam memotong anggaran sosial, privatisasi atau melepaskan pelayanan sosial kepada penyedia layanan komersial dan membuat perhitungan dengan keuntungan dari pelayanan sosial. Hal tersebut berarti tanggung jawab pemerintah terhadap kesejahteraan sosial menjadi berkurang, terpusat, menyeluruh mengenai kesejahteraan negara berubah secara total.
Serupa dengan pembangunan di negara dunia ketiga selama tahuan 1970-an, ketika suku bunga menjadi rendah dan kredit tanpa bunga tersedia dengan cukup, pemerintah di banyak negara berkembang meminjam sejumlah besar dana yang digunakan untuk membiayai proyek pembangunan ekonomi dan sosial. Berdasarkan pada pengaruh kuat dari kelompok hak asasi radikal di negara industri, suku bunga menjadi membumbung tinggi, dan banyak negara berkembang tiba-tiba menghadapi hutang internasional yang tidak terhingga. Di antara negara berkembang kemudian meminjam dari dana IMF dan Bank Dunia untuk membiayai pembayaran hutangnya, sehingga mereka kemudian memangkas anggaran untuk program kesejahteraan sosialnya (Cornia, 1987). Dengan keadaan yang demikian, daya dorong untuk pembangunan sosial yang menjadi ciri tahun 1960-an dan tahun 1970-an, akhirnya menguap.
Sebagaimana telah diuraikan di dalam bab sebelumnya, masalah kemiskinan dan perampasan sosial bertambah lagi dengan proporsi yang serius tidak hanya di negara berkembang tetapu juga di semua negara industri maju. Memotong kembali di dalam investasi sosial, privatisasi program sosial, mengesampingkan perencanaan sosial dan kebijakan pembangunan lainnya yang disertai dengan munculnya hak asasi radikal menimbulkan tidak tercapainya kebutuhan sosial. Krisis internasional dan konflik sipil, kekerasan di dalam negeri dan kecenburuan etnis, politik yang represif, industrialiasasi yang mandeg di negara barat dan kemandegan ekonomi di banyak negara menambah luasnya masalah. Di abad ke-20 secara nyata kondisi kehidupan manusia sangat menyedihkan.
Untungnya, ada tanda-tanda pertumbuhan di dalam mengatasi masalah pada waktu itu dengan langkah yang sistematis. Suatu langkah menikung dari kelompok hak asasi radikal, yang para pemimpin politik tidak lama hanya di kantor, kebanyakan negar industri, kebanyakan pemilihnya memberikan dukungan terhadap partai politik yang berjanji untuk menyediakan kebutuhan dasar. Di tingkat internasional, kemiskinan dunia, kelaparan, dan penyakit sosial lainnya mendapat perhatian yang cukup. Meskipun ada upaya untuk menolak intervensi (anti intervensi) di tahun 1980-an, gagasan mengenai pembangunan berkelanjutan memasuki wilayah pembangunan untuk membangkitkan kembali pemikiran pembangunan ekonomi itu sendiri tanpa harus mencari upaya pemecahan masalah sosial yang dihadapi umat manusia. Meskipun, penganjur dari pembangunan berkelanjutan menghadapi kritik yang tajam mengenai kemunduran dari pertumbuhan dan keuntungan karena pembangunan menimbulkan kerusakan lingkungan dan kehidupan umat manusia. Di tahun 1990-an UNEP mempublikasikan seri pertama dokumen baru untuk menghadapi pembangunan sosial. Walaupun demikian organisasi tersebut (UNEP) menggunakan logika baru ”pembangunan manusia’, yang hal ini tidak berbeda dengan istilah pembangunan sosial. Keputusan PBB mengenai konferensi mengenai pembangunan sosial di tahun 1995 memunculkan keinginan dari bawah. Kegiatan tersebut diselenggarakan setelah masa kemunduran, yang pembangunan sosial menjadi agenda global masyarakat dunia. Dengan mendapatkan dukungan pemimpin dunia, masa depan memperbaharui pendekatan pembangunan sosial akan lebih baik daripada sebelumnya, semoga.

BAB III
PENUTUP/KESIMPULAN
Di masa Cina kuno ada juga suatu keyakinan bahwa di atas langit dapat mempengaruhi proses perubahan sosial di bumi. Demikian di dalam kebudayaan India kuno telah ada kepercayaan sebagaimana di masyarakat Cina kuno, bahwa perubahan sosial akan terus berputar naik dan turun, hanya saja di masyarakat India, perubahan sosial dimulai dari jaman emas yang mana masyarakat terus mengalami kemunduran sampai proses yang tidak akan pernah berakhir pula.
Ide mengenai kemunduran masyarakat yang dimulai dari jaman emas juga muncul di masyarakat lain seperti di agama Judaisme, Kristen, Islam yang kesemuanya menceritakan mengenai Adam dan Hawa, yang merupakan nenek moyang manusia, keduanya hidup di dalam surga yang akhirnya diturunkan ke dunia.
Para ahli teori sosial kuno yakin bahwa perubahan akan muncul melalui kekuatan yang besar seperti pengaruh Tuhan atau kekuatan planet. Di akhir-akhir ini, banyak yang menyatakan bahwa perubahan sosial disebabkan karena kekuatan di dalam masyarakat. Sebagaimana ditunjukan sebelumnya, Ibnu Khaldun yakin bahwa perubahan masyarakat dapat terjadi melalui proses perang. Hegel percaya bahwa pemikiran manusia mendorong masyarakat untuk sampai ke tahap yang lebih tinggi lagi. Sebaliknya, Marx yakin bahwa perubahan masyarakat mengakibatkan ekspoitasi kelompok tertentu meningkat dan melampaui tindakan penindasan.
Tantangan yang sangat serius berasal dari pihak oposisi yakni Kelompok Hak Asasi Radikal yang merupakan gerakan politik untuk mendapatkan kekuatan politik di Inggris, Amerika, dan negara lainnya di akhir tahun 1970-an (Midgley, 1991). Pembela hak asasi radikal telah mampu untuk mempengaruhi banyak pemilih dengan mengatakan bahwa pemerintah telah melakukan kesalahan dengan banyaknya pengangguran, inflasi dan perampasan yang dilakukan oleh serikat dagang yang menjadi ciri pada masa itu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Midgley, James, 1995. “Pembangunan Sosial” Direktorat Perguruan Tinggi Agama Islam (Ditperda Islam) Depag RI
2.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s