Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Desa Babakanlor Kec. Cikedal – Pandeglang Banten

Posted: 29 Januari 2014 in Kumpulan Makalah SM 6

Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN)
Desa Babakanlor Kec. Cikedal – Pandeglang Banten
Disusun Oleh :

Ahmad Suheri

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Petani, beberapa tahun lalu merupakan kaum termarjinalkan. Paradigma demikian muncul karena memang petani kebanyakan berada dalam golongan masyarakat yang hidup dalam kekurangan, dan memiliki tingkat pendidikan rendah. Kondisi itupula menjadikan kebanyakan orang enggan bercita-cita menjadi petani. Mau makan apa kita, sedangkan petani yang menanam padi maupun membudidayakan buah-buahan. Hanya mereka pulalah yang sanggup melawan terik matahari ataupun hujan, serta mengolah tanah untuk menjamin ketersediaan logistik yang dibutuhkan jutaan umat manusia.
Maka tak bijak kiranya jika pemerintah berdiam diri tatkala menyaksikan kehidupan malang petani. Menjadi keniscayaan bagi pemerintah untuk mewujudkan petani dalam kehidupan yang sejahtera. Pun, pemerintah wajib mengudar kusutnya daftar warga miskin yang mayoritas dihuni golongan mereka. kades lantas mengarahkan berbagai kebijakan untuk mewujudkan kesejahteraan mereka. Sektor pertanian pun dijadikan prioritas dalam melaksanakan pembangunan.
Desa Babakanlor merupakan desa yang tepatnya didaerah Pegunungan atau bisa disebut juga dengan wilayah dataran tinggi. Karena daerah ini berada didataran tinggi, maka persawahan disana sangat bergantung pada pengairan yang ada. Dalam hal ini, kurangnya pengairan didesa tersebut mengakibatkan para petani megalami kesulitan hingga berebutan air untuk tanaman/persawahan.
Oleh sebab itu, karena kasus tersebut maka di bentuklah Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN). Sehingga tercapailah hasil pertanian masyarakat yang lebih baik dan keberagaman hasil pertanian. Adapun hasil pertanian dari Gabungan Kelompok Tani Desa Babakanlor – cikedal adalah seperti, Padi, Sayur Mayur (Mentimun, Sawi, Caisim, Umbi-umbian, Melinjo dan lain sebagainya), Palawia (Sereh, Jahe, Kunyit dan lain-lain), dan cokelat.
Menurut hasil wawancara dengan warga/Masyarakat tersbut, bahwa dengan adanya GAPOKTAN ini, hasil pertanian semakin baik. Adapun Wawancara ini kami lakukan pada pagi hari dan menemukan beberapa warga/masyarakat yang kami wawancarai, diantaranya :
1. Wawancara dengan Ibu Ira :
Pada wawancara dengan Ibu ira ini, terlebih dahulu kami menanyakan “Apakah Ibu mengetahui/mengenal adanya GAPOKTAN didesa Babakanlor ini, Kemudian apa dampak serta keuntungan dengan adanya GAPOKTAN ini ?” Menurtnya, ia urang mengetahui tentang adanya GAPOKTAN mungin aren dia tida mempunyai lahan pertanian, dan saya tidak merasakan dampak dari adanya GAPOKTAN didesa babakanlor terebut serta, ia membeli beraspun harus ke desa sebelah. Jawaban Ibu Ira ini kami tanggapi, namun kami mengambil kesimpulan, kenapa Ibu Ira menjawab seperti itu. Mungkin karena ia tidak turun langsung/ tidak ikut dalam kegiatan bertani, karena alasannya, bahwa keluarganya tidak memiliki lahan pertanian (Sawah/Ladang). Begitupun dengan Ibu Eva, Ibu Fatimah dan Ibu Tini, mereka berpendapat bahwa adanya Gapoktan atau tidak danya gapoktan sama saja, tidak adanya perubahan.
Hasil wawancara dengan masyarakat tentang GAPOKTAN yang mana diantara mereka semua tidak ada yang termasuk dari anggota GAPOKTAN, dan mereka menanggapinya ada yang bilang GAPOKTAN itu tidak ada manfaatnya bagi masyarakat sekitar karena hasil GAPOKTAN sendiri tidak untuk dijual didaerah itu tapi diluar daerah dan merasa tidak ada dampak apa-apa setelah adanya GAPOKTAN tersebut.
Dan responden lainnya ada yang mengatakan bahwa setelah adanya GAPOKTAN itu irigasi air menjadi bagus selain bisa mengalir ke sawah-sawah air itu bisa juga dimanfaatkan oleh warga untuk kebutuhan sehari-hari dan membuat warga tidak kekeringan air jika kemarau tiba. Memang benar apa yang sudah disampaikan bahwa hasil dari GAPOKTAN itu dijual keluar karena disebabkan kalau para petani menjual didaerahnya harga jualnya lebih murah maka dari itu para petani menjualnya lebih banyak keluar daerah.
Analisisnya
Jadi tujuan dari GAPOKTAN ini adalah mensejahterakan para petani agar bisa tahu tentang pertanian secara keseluruhan tidak setengah-setengah dan menciptakan hasil panen yang bagus tidak cacat dan memberikan solusi jika ada kesulitan tentang pertanian seperti pengairan, alat-alatnya, bibit, dan lain sebagainya. Tapi sayang ada syarat yang terlalu berat jika ingin menjadi anggot GAPOKTAN, yaitu harus mempunyai sawah dulu untuk digarap. Dan GAPOKTAN ini kurang dikenal masyarakat secara keseluruhan, terbukti bahwa ada yang tidak mengetahui apa-apa tentang GAPOKTAN tapi hanya kenal namanya saja ada didaerah itu padahal GAPOKTAN sendiri sudah ada 3-4 tahunan. Apakah kurannya peran masyarakat yang bukan anggota disini terhadap GAPOKTAN yang menyebabkan warga disitu ada yang tidak mengetahui apa-apa tentang GAPOKTAN.
Padahal mengikut sertakan masyarakat itu tidak ada salahnya supaya orang-orang disitu mengetahui cara bagaimana menanam tanaman yang baik, bagaimana cara menjual hasil panen, bagaimana ukuran memberikan bubuk pada tanaman, dan lain sebagainya. Supaya warga disana menjadi tertarik dengan bertani agar banyak warga disitu yang mau bertani dan juga bisa membantu beban pemerintah dalam menghadapi pengangguran di Indonesia serta mengurangi jumlah orang yang berpindah ke kota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s