PERSPEKTIF TEORITIS TEORI SOSIOHISTORIS, EVOLUSI DAN DIALEKTIKA

Posted: 28 Desember 2012 in Kumpulan Makalah SM 5

BAB I

PENDAHULUAN

TEORI PERUBAHAN SOSIAL

 

 

Membahas teori perubahan social (social change theory), August Comte (1798-1857) membagi dalam dua konsep penting; yaitu Social Static (bangunan structural) dan Social Dynamics (dinamika structural). Bangunan structural merupakan hal-hal yang mapan, berupa struktur yang berlaku pada suatu masa tertentu. Bahasan utamanya mengenai struktur social yang ada dimasyarakat yang melandasi dan menunjang orde, tertib, kestabilan masyarakat. Statika social ini kemudian disepakati oleh anggota masyarakat dan karena itu disebut sebagai ‘kemauan umum’ atau ‘volonte general’ (KJ. Veeger, 1985: 25-26).[1] Hasrat dan kodrat manusia adalah persatuan, perdamaian, kestabilan atau keseimbangan. Tanpa unsure-unsur stuktural ini kehidupan manusia tidak dapat berjalan. Akan selalu terjadi pertengkaran dan perpecahan mengenai hal-hal yang sangat mendasar, sehingga kesesuaian paham sukar terbentuk. Pembedaan antara statika social dan dinamika social dengan demikian bukanlah pembedaan yang menyangkut masalah factual melainkan lebih tepat dikatakan sebagai pembedaan teoritik.

Perubahan social merupakan isu menarik yang banyak dibicarakan oleh ilmu social, baik dibidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum, teknologi, budaya dan lain sebagainya. Haferkamp dan Smelser mengungkapkan, “Setiap teori ilmu social apapun titik tolak konseptualnya, tentu akan tertuju pada perubahan yang menggambarkan realitas.[2] Namun berbeda dengan ilmu social lain yang menjadikan perubahan social hanya sebagai salah satu unsure kajiannya, maka sosiologi menekankan perubahan social sebagai konsep utamanya karena inti dari mempelajari sosiologi adalah masyarakat, proses social, dan perubahan social.

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

TEORI SOSIOHISTORIS

  1. A.    Teori Evolusioner (Unilinear)

Teori Evolusioner menyatakan bahwa perubahan social itu berjalan secara bertahap, serupa, tetap dan pasti karena kebenarannya tak terelakan. Aliran ini meyakini bahwa semua masyarakat didunia akan melampaui tahapan–tahapan sama yang bermula dari perkembangan awal menuju pada perkembangan akhir. Jika tahap terakhir telah tercapai, maka saat itupun perubahan evolusioner itu berakhir. Teori inipun biasa disebut sebagai teori Unilinear. Diantara tokohnya yang mempopulerkan adalah August Comte (1798 – 1857), sarjana prancis yang dikenal juga sebagai pendiri sosiologi. Masyarakat, menurutnya dapat diklasifikasikan kedalam tiga tahap perkembangannya, yaitu ;

  1. Tahap Teologis (Theological Stage), yang diarahkan oleh nilai-nilai (Supernatural), konsepsi teoritis meraka dilandaskan pada pemikiran mengenai keunggulan kekuatan-kekuatan adikodrati sehingga hasil pengamatan yang diperoleh melalui imajinasi atau penelitian ilmiah tidak dibenarkan.
  2. Tahap Metafisik (Methafisical Stage), yaitu tahap peralihan dimana kepercayaan tertahap unsure adikodrati berubah digantikan oleh prinsip-prinsip abstrak yang berperan sebagai dasar perkembangan budaya. Pengamatan masih dikuasi imajinasi tetapi lambat laun mengalami perubahan dan belakangan menjadi dasar bagi penelitian.
  3. Tahap Positif atau Ilmiah (Positive or Scientific Stage), dimana masyarakat dilahirkan oleh kenyataan yang didukung oleh prinsip-prinsip ilmu pengetahuan.[3]

Herbert Spencer (1820 – 1903) sarjana inggris yang menulis buku pertama berjudul Principles of Sosiology (1896) juga dikenal sebagai pendukung teori ini. Gagasannya ini dipengaruhi oleh pemikiran  Charles Darwin tentang Survival of the Fittest, maksudnya yang terkuat adalah yang akan menang. Dalam konteks masyarakat ia memandang orang-orang yang terampil, cerdas, kreatif dan energik akan memenangkan pertarungan hidup, sedang orang-orang yang malas dan lemah akan tersisih. Spencer juga melihat adanya persamaan antara evolusi organis dengan evolusi social dimana struktur social berkembang secara evolusioner dari struktur yang homogen menjadi heterogen,  dari yang sederhana kepada yang kompleks. Berkaitan dengan masyarakat ia melihat perkembangan masyarakat sebgai suatu proses evolusi yang ditandai oleh meningkatnya kompleksitas, berkembangnya keaneka ragaman struktur dan fungsi masyarakat serta berkembangnya saling ketergantungan diantara bagian-bagian yang beraneka ragam itu, sehingga kecil kemungkinan terjadinya disentegrasi. Menurut pandangannya, perubahan struktur berlangsung dengan diikuti perubahan fungsi. Pandangan ini kemudian dikenal sebagai “Darwinisme Sosial” dan banyak dianut oleh golongan kaya. Spencer membagi tahap perkembangan masyarakat termasuk perkembangan materi kedalam empat kategori, yaitu tahap penggandaan atau pertambahan, tahap kompleksitas, tahap diferensiasi atau pembagian, dan tahap pengintegrasian.

 

  1. B.     Teori Siklus

Teori ini meyakini bahwa perubahan dan perkembangan masyarakat tidak berhenti pada satu titik tertentu, tetapi kembali berputar ketahap awal dan berlanjut ketahap selanjutnya seperti perputaran Roda. Diantara tokohnya yaitu ; Oswald Spengler (1880-1936), filosof jerman, berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan. Proses perputaran itu memakan waktu sekitar seribu tahun. Pendapatnya ini didasarkan pada perjalanan sejarah peradaban dan kebudayaan monumental dari berbagai bangsa didunia seperti Yunani, Romawi, dan Mesir dan ia yakin bahwa peradaban Barat yang diwakili oleh Amerika dan Eropa pada gilirannya akan runtuh juga, seperti yang ditulis dalam bukunya, The Decline of the West (Pudarnya Barat).[4]  

Tokoh lainnya seperti, Pitirim Sorokin (1889 – 1968), sosiolog Rusia yang melarikan diri ke Amerika Serikat setelah meletusnya revolusi di negaranya, ia berpendapat bahwa semua peradaban besar berkembang dalam siklus tiga system kebudayaan yang berputar tanpa akhir, yaitu meliputi kebudayaan Ideasional, yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap supernatural; kebudayan idealistis, dimana kepercayaan terhadap unsure adikodrati dan rasionalitas yang berdasarkan fakta tergabung dalam menciptakan masyarakat ideal, dan Kebudayaan Sensasi, dimana sensasi merupakan tolak ukur dari kenyataan dan tujuan hidup.

 

 

 

 

  1. C.    Dialektik

Teori ini menjelaskan bahwa perubahan social merupakan gabungan dari teori linear dan siklus. Tokoh utama dari teori dialektik ini adalah hagel, tetapi Karl Marx-lah ynng berperan besar dalam mempopulerkan gagasan tersebut. Marx beranggapan bahwa perjuangan kelas terjadi antara mereka yang memiliki kepentingan untuk memelihara system reproduksi yang ada dan mereka yang ingin menggantinya dengan yang baru. Menurut Marx, sejarah perjuangan antar kelas ini akan berlangsung terus menerus dan setelah suatu kelas berhasil menguasi kelas lainnya, maka siklus yang serupa akan berulang lagi. Ia juga berasumsi bahwa masyarakat komunis pernah ada sebelum adanya feodalisme dan kapitalisme, yaitu masyarakat yang tidak mengenal pembagian kerja, yang didalamnya konflik diganti dengan kerjasama.

Sebaliknya, pemikiran Marx-pun mengandung benih pendekatan linear karena gagasannya bahwa kapitalisme yang berkembang pesat justru akan memunculkan konflik yang semakin hebat antara kaum buruh dan kaum borjuis, yang pada akhirnya kaum buruh akan meraih kemenangan dan kemudian membentuk masyarakat  terakhir yang dikenal dengan komunis. Pandangan Linear Marx juga tercermin dari idenya bahwa negara-negara yang dijajah Barat pun akan mengalami proses yang dialami masyarakat barat.

Tokoh lainnya yang memiliki pandangan dialektik adalah Max Weber. Gagasan Siklusnya dapat dilihat dari teorinya tentang tiga model wewenang, yakni Tradisional, Kharismatis, dan legal rasional. Menurutn ya, masing-masing wewenang akan mengalami rutinitasi sehingga beralih ketahap wewenang berikutnya.  Contohnya, wewenang tradisional akan mengalami rutinisasi sehingga beralih menjadi wewenang kharismatis, dan ini akan mengalami rutinitas pula, sehingga beralih ke wewenang legal-rasional. Wewenang ini pun kan mengalami rutinisasi sehingga kembali memunculkan wewenang tradisional, begitu seharunya. Dilain pihak, weber pun melihat adanya perkembangan linear dalam masyarakat, yaitu semakin menigkatnya rasionalitas.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

 

Dalam teori perubahan social meliputi, Perubahan social itu berubahnya system social (Perubahan pada Struktur, kultur dan interaksi social), perubahan struktur social, transformasi dalam perubahan masyarakat, serta perubahan apapun yang dapat diamati dan diukur.

Teori Evolusioner atau Unilinear yakni suatu peruabahan social itu terjadi atau berjalan secara bertahap, serupa, tetap dan pasti karena keberadaannya tak terelakkan.teori ini dikenalkan dan dipopulerkan ooleh August Comte yang membagi masyarakat kedalam tiga tahapan, yakni, Tahap Teologis (Theological Stage),Tahap Metafisik (Methafisical Stage),Tahap Positif atau Ilmiah (Positive or Scientific Stage).

Teori siklus ini dikenalkan oleh Oswald Spengler (1880-1936), filosof jerman, berpandangan bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan dan keruntuhan. Proses perputaran. Dengan kata lain perubahan dan perkembangan masyarakat tidak berhenti pada satu titik tertentu, tetapi kembali berputar ke tahap awal dan berlanjut kepada tahap selanjutnya seperti perputaran roda. Teori Dialektik, diantara tokohnya yakni Max Weber. Menjelaskan bahwa Gagasan Siklusnya dapat dilihat dari teorinya tentang tiga model wewenang, yakni Tradisional, Kharismatis, dan legal rasional. Menurutn ya, masing-masing wewenang akan mengalami rutinitasi sehingga beralih ketahap wewenang berikutnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

  1. Asep Saefudin Jahar, Banadjid, 2010. Sosiologi Sebuah pengantar “Tinjauan Pemikiran Sosiologi perspektif Islam. Jakarta : LSA
  2. DR. Zamroni, 1992. Pengantar Pengembangan Teori Sosial.Yogyakarta : PT. Tiara Wacana Yogya.
  3. Sumber Internet :

http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2174407-teori-teori-perubahan-sosial-kapitalisme/#ixzz289CFmakJ

 


[2] Piort Sztompka, Sosiologi Perubahan Sosial, Penej: Alimamdan (Jakarta : Prenada Media Group, 2007)

[3] Paul B. Horton & Chester L. Hunt, Sosiologi, Jilid ke-2, penej. Aminuddin dan Tita Sobari (Jakarta Erlangga).

[4] Kamanto Sunarto,Pengantar Sosologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s