Gender dan Pembangunan “Analisis Iklan”

Posted: 28 Desember 2012 in Kumpulan Makalah SM 5

BAB I

Pendahuluan

Usia tindak kejahatan dan kekerasan terhadap perempuan sudah berlangsung sejak adanya peradaban manusia. Tetapi kini kekerasa terhadap  perempuan telah menjadi suatu fenomena yang masuk dalam agenda global. Dalam konferensi Hak Asasi Manusia II di Wina (1993) kekerasan terhadap perempuan dinyatakan sebagai isu global dan ditetapkan sebagai pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).

Dengan ditetapkanya kekerasan terhadap perempuan sebagai suatu isu global dan sebagai pelangggaran HAM, maka sumbangan penting adalah adanya suatu definisi tentang kekerasan terhadap perempuan atau tentang “Gender Based Violence” yang disepakati secara Internasional. Bila mengacu pada definisi tersebut maka gender Based Violence adalah segala tindakan berdasarkan perbedaan jenis kelamin yang berakibat atau mungkin berakibat pada kesengsaran atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual dan psikologis, termasuk ancaman tindakan tertentu, pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi didepan umum atau dalam kehidupan pribadi.[1]

BAB II

Pembahasan

Sebelum saya membahas tentang video yang saya ambil, terlebih dahulu saya akan membahas atau mendefinisikan pengertian dari stereotype. Menurut ahli, stereotipe yakni seperangkat penilaian dari kelompok lain dalam hubungannya dengan ingroup dalam situasi terkini (Smith, 1999).

Stereotipe berasal dari bahasa latin yang berarti stereot yang artinya kaku dan tipos yang artinya kesan. Jadi secara keseluruhan adalah anggapan dari orang lain yang kaku dan seakan-akan tidak berubah. Oleh karena itu stereotipe adalah suatu kepercayaan yang dilebih-lebihkan atau keyakinan yang berkaitan dengan suatu kategori manusia atau suatu generalisasi yang berlebihan tentang ciri-ciri suatu kelompok tertentu.[2]

Walter Lippman mengatakan stereotipe itu adalah pictures in our head. Stereotipe adalah persepsi yang dianut yang dilekatkan pada kelompok-kelompok atau orang-orang dengan gegabah yang mengabaikan keunikan-keunikan individual.

Stereotipe adalah pendapat atau prasangka mengenai orang-orang dari kelompok tertentu, dimana pendapat tersebut hanya didasarkan bahwa orang-orang tersebut termasuk dalam kelompok tertentu tersebut. Stereotipe dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yang disusun oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, stereotipe adalah konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka subjektif dan tidak tepat.

Karena kata stereotipe ini berasal dari bahasa Inggris, maka perlu penulis juga artikan kata stereotype ini dari bahasa Inggris itu sendiri. Arti stereotipe dalam bahasa Inggris itu sebagai berikut: Stereotype is an image or idea of a particular type of person or thing that has become fixed through beingwidely held.1 (stereotipe  adalah suatu gambaran atau gagasan tentang suatu pribadi/suku tertentu atau barang tertentu dimana hal itu telah menjadi ketetapan/ketentuan yang dipegang/diyakini secara luas).

Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa stereotipe adalah pandangan atau penilaian mengenai sifat-sifat dan watak pribadi suatu individu atau golongan lain yang bersifat subjektif, tidak tepat dan cenderung negatif karena tidak lengkapnya informasi yang didapatkan.

Dalam Video “Iklan Djarum 76” ini menggambarkan bahwa, perempuan adalah orang atau makhluk yang digambarkan yang mempunyai sifat matrealistik, namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar seperti halnya yang dijelaskan oleh Jeanny M Fatimah, stereotipe merupakan gambaran tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi individu atau golongan lain yang bercorak negatif akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya subjektif, dimana penilaian-penilaiannya mengandung penyederhanaan dan pemukulrataan secara berlebih-lebihan.

Jadi, menurut pandangan masyarakat atau menurut pandangan penulispun sama bahwa perempuan adalah makhluk yang memiliki sifat Matrealistik, walau itu tidak sebenarnya, namun iklan itu sendiri dibuat atau didesign seperti layaknya masyarakat lakukan pada kehidupan sehari-hari.

 

Perbedaan peran dan fungsi antara laki-laki dan perempuan atau yang lebih tinggi dikenal dengan perbedaan gender yang terjadi di masyarakat tidak menjadi suatu permasalahan sepanjang perbedaan tersebut tidak mengakibatkan diskriminasi atau ketidak adilan. Patokan  atau ukuran sederhana yang dapat digunakan untuk mengukur apakah perbedaan gender itu menimbulkan ketidakadilan atau tidak adalah sebagai berikut:

Kekerasan (violence) artinya tindak kekerasan, baik fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh salah satu jenis kelamin atau sebuah institusi keluarga, masyarakat atau negara terhadap jenis kelamin lainnya.

Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.

Contoh :

  • Kekerasan fisik maupun non fisik yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya di dalam rumah tangga.
  • Pemukulan, penyiksaan dan perkosaan yang mengakibatkan perasaan tersiksa dan tertekan.
  • Pelecehan seksual.
  • Eksploitasi seks terhadap perempuan dan pornografi.

Beban ganda (double burden) artinya beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic.

Upaya maksimal yang dilakukan mereka adalah mensubstitusikan pekerjaan tersebut kepada perempuan lain, seperti pembantu rumah tangga atau anggota keluarga perempuan lainnya. Namun demikian, tanggung jawabnya masih tetap berada di pundak perempuan. Akibatnya mereka mengalami beban yang berlipat ganda.

Marjinalisasi artinya : suatu proses peminggiran akibat perbedaan jenis kelamin yang mengakibatkan kemiskinan.Banyak cara yang dapat digunakan untuk memarjinalkan seseorang atau kelompok. Salah satunya adalah dengan menggunakan asumsi gender. Misalnya dengan anggapan bahwa perempuan berfungsi sebagai pencari nafkah tambahan, maka ketika mereka bekerja diluar rumah (sector public), seringkali dinilai dengan anggapan tersebut. Jika hal tersebut terjadi, maka sebenarnya telah berlangsung proses pemiskinan dengan alasan gender.[3]

Contoh :

  • Guru TK, perawat, pekerja konveksi, buruh pabrik, pembantu rumah tangga dinilai sebagai pekerja rendah, sehingga berpengaruh pada tingkat gaji/upah yang diterima.
  • Masih banyaknya pekerja perempuan dipabrik yang rentan terhadap PHK dikarenakan tidak mempunyai ikatan formal dari perusahaan tempat bekerja karena alasan-alasan gender, seperti  sebagai pencari nafkah tambahan, pekerja sambilan dan juga alasan factor reproduksinya, seperti menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.
  • Perubahan dari sistem pertanian tradisional kepada sistem pertanian modern dengan menggunakan mesin-mesin traktor telah memarjinalkan pekerja perempuan.

Subordinasi Artinya : suatu penilaian atau anggapan bahwa suatu peran yang dilakukan oleh satu jenis kelamin lebih rendah dari yang lain.Telah diketahui, nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, telah memisahkan dan memilah-milah peran-peran gender, laki-laki dan perempuan. Perempuan dianggap bertanggung jawab dan memiliki peran dalam urusan domestik atau reproduksi, sementara laki-laki dalam urusan public atau produksi.

Pertanyaannya adalah, apakah peran dan fungsi dalam urusan domestic dan reproduksi mendapat penghargaan yang sama dengan peran publik dan produksi? Jika jawabannya “tidak sama”, maka itu berarti peran dan fungsi public laki-laki. Sepanjang penghargaan social terhadap peran domestic dan reproduksi berbeda dengan peran publik dan reproduksi, sepanjang itu pula ketidakadilan masih berlangsung.

Contoh :

  • Masih sedikitnya jumlah perempuan yang bekerja pada posisi atau peran pengambil keputusan atau penentu kebijakan disbanding laki-laki.
  • Dalam pengupahan, perempuan yang menikah dianggap sebagai lajang, karena mendapat nafkah dari suami dan terkadang terkena potongan pajak.
  • Masih sedikitnya jumlah keterwakilan perempuan dalam dunia politik (anggota legislative dan eksekutif ).
 
 

BAB III

Penutup

Kesimpulan

Dalam Video “Iklan Djarum 76” ini menggambarkan bahwa, perempuan adalah orang atau makhluk yang digambarkan yang mempunyai sifat matrealistik, namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar, itu merupakan gambaran tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi individu atau golongan lain yang bercorak negatif akibat tidak lengkapnya informasi dan sifatnya subjektif, dimana penilaian-penilaiannya mengandung penyederhanaan dan pemukulrataan secara berlebih-lebihan atau yang disebut dengan stereotype.

Jadi, menurut pandangan masyarakat atau menurut pandangan penulispun sama bahwa perempuan adalah makhluk yang memiliki sifat Matrealistik, walau itu tidak sebenarnya, namun iklan itu sendiri dibuat atau didesign seperti layaknya masyarakat lakukan pada kehidupan sehari-hari.

Peran gender telah membedakan karakter perempuan dan laki-laki. Perempuan dianggap feminism dan laki-laki maskulin. Karakter ini kemudian mewujud dalam ciri-ciri psikologis, seperti laki-laki dianggap gagah, kuat, berani dan sebagainya. Sebaliknya perempuan dianggap lembut, lemah, penurut dan sebagainya. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pembedaan itu. Namun ternyata pembedaan karakter tersebut melahirkan tindakan kekerasan. Dengan anggapan bahwa perempuan itu lemah, itu diartikan sebagai alasan untuk diperlakukan semena-mena, berupa tindakan kekerasan.

Beban pekerjaan yang diterima salah satu jenis kelamin lebih banyak dibandingkan jenis kelamin lainnya. Peran reproduksi perempuan seringkali dianggap peran yang statis dan permanen. Walaupun sudah ada peningkatan jumlah perempuan yang bekerja diwilayah public, namun tidak diiringi dengan berkurangnya beban mereka di wilayah domestic.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Fayumi Badriyah, Dkk, 2002. Isu-isu gender dalam Islam.Jakarta : PSW UIN Jakarta
  2. Fakih Mansour, 2003. Partisipasi Politik Perempua. Padang : LP2m Padang
  3. Hidayat Rachmad, 2004. Ilmu Seksis. Yogyakarta : Jendela Yogyakarta
  4. Batara Munti Ratna, 2005. Demokrasi Keintiman. Bantul : LKIS Yogyakarta


[1] Badriyah Fayumi “Isu-isu gender dalam Islam”.PSW : UIN Jakarta hal – 17

[2] Ratna Batara Munti, “Demokrasi Keintiman-Seksualitas diera Globalisasi”Bantul : LKIS Yogyakarta

[3] Dr.Mansour Fakiih “Partisipasi Politik Perempuan”. 2003 Padang : LP2M Padang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s