Ciri-ciri Perubahan Sosial

Posted: 28 Desember 2012 in Kumpulan Makalah SM 5
  1. I.                   Perubahan adalah Normal

Teori perkembangan melihat suatu perubahan adalah hal yang normal, karena setiap masayarakat yang hidup mempunyai sifat berkembang, yang berarti fikirannya tidak stagnan (diam). Perubahan terjadi karena sifat masyarakatnya juga yang seiring waktu terus mengalami perubahan. Perubahan terjadi menurut pola tertentu, tidak secara serampangan tanpa pola.

 

Teori fungsional-struktural memebrikan prioritas pada struktur ketimbang perubahan. Struktur social menurut mereka cenderung stabil. Perubahan dalam bentuk proses kemasyarakatn tertentu senantiasa terjadi, tetapi perubahan structural yang seseungguhnya adalah soal luar  biasa, dan biasanya disebabkan oleh kekuatan dari luar yang menimpa system social. Pusat perhatian utamanya dalam perubahan adalah masyarakat dan kebudayaan.

 

Perubahan struktur maksudnya adalah perubahan dalam nilai-nilai dasar yang menayatukan masayarakat. Parsons menyebutkan, terdapat dua jenis proses dalam perubahan, yakni perubahan structural dan perubahan evolusi social. Perubahan social berarti perubahan dalam system social itu sendiri (dalam nilai-nilai dasar yang menyatukan system). Jadi perubahan sikap, pola-pola interaksi atau dalam system stratifikasi komunitas dan sebagainya, secara teknis termasuk kedalam pengertian perubahan social.

 

Teori fungsional berlawanan dengan teori-teori lain, dia berasumsi bahwa, perubahan yang terjadi ialah suatu perubahan social yang mengacu kepada perubahan didalam system social  (Nilai-nilai) dan perubahan struktur (Peranan-peranan social).

 

 

  1. II.                Sasaran Perhatian Utama Tingkat Perubahan

Pada tingkat perubahan terdapat beberapa perbedaan arti perubahan, yakni perubahan individual dan perubahan peradaban. Perubahan adalah suatu hal yang normal, dan perubahan terjadi disemua tingkat realitas social. Teori Siklus memusatkan analisisnya pada tingkat peradaban dari perubahan, Teori pembangunan   fungsional – structural pada tingkat kebudayaan dan masyarakat, dan teori Psikologi social kebanyakan pada institusi social. Ada yang membayangkan perubahan sebagai akibat konflik, karena adanya elit kreatif , cara berfikir yang baru, kekuatan dari luar, motivasi individu untuk berprestasi dan masih banyak lagi penyebab lainnya.

Marx menghimpun pandangan matrealistik mengenai mekanisme perubahan dalam pernyataan terkenalnya yakni, “kincir angin menimbulkan masyrakat feodal dan mesin uap menimbulkan masyarakat kapitalis industry”. Perspektif klasik memandang perubahan social sebagai fenomena berskala luas dan yang dapat merembes, tetapi teori harus menerangkan realitas social baik pada tingkat yang lebih rendah maupun yang lebih tinggi.

 

 

  1. III.             Perubahan mempunyai arah atau pola yang dapat dikenali

Sosiolog klasik seperti Comte tidak meragukan lagi bahwa sifat progresif dari arah perubahan atau mengenai kemampuan manusia untuk menentukan secara rinci cir-ciri berbagai tingkat perubahan. Ada sebagian besar teoritisi memandang bahwa masa depan itu penuh kehebohan, sebagaian lagi memandang masa depan itu adalah hal yang netral, dan sebagian pula ada yang memandang netral serta memandang dengan penuh optimisme. Semuanhya berasumsi bahwa arah perkembangan masyarakat dimasa depan dapat ditentukan. Sebaliknya telah dinyatakan pula bahwa perubahan sebenarnya tidak dapat ditetapkan arahnya.

Seluruh teoritisi siklus hanya menegaskan arah perubahan dalam pengertian terbatas, seluruh peradaban lahir, berkembang dan hancur, sejarah umat manusia adalah sejarah perkembangan yang kemudian disusul oleh kelayuan peradaban. Namun sebaliknya, teori perkembangan  social, menggambarkan awal dan tujuan akhir masyarakat manusia dan dalam beberapa hal menggambarkan tingkat –tingkat antara permulaan dan tujuan akhir. Mereka berbeda pandangan mengenai tujuan akhir, namun semuanya mampu memebrikan tawaran ide-ide mengenai tata masyarakatyang menjadi tujuan akhir itu. Sedag teori funsional menawarkan ide-ide parsons mengenai penigkatan kemampuan adaptasi masyarakat sedang berkembang. Teori itu sendiri tidak memerlukan arah tertentu.

Teoritisi Psikologi – social tentang modernisasi memandang perlu memusatkan perhatian pada arah tertentu. Teori ini merumuskan modernisasi dalam arti bahwa menciptakan masyarakat modern pada dasarnya menciptakan masyarakat yang menyerupai masyarakat barat. teori ini kemudian memualai mengidentifikasi jenis individu yang diperlukan bagi masyarakat modern itu. Tetapi mereka tak bermaksud untuk menyatakan bahwa semua masyarakat harus memodernisasi diri menurut masyarakat barat.

 

 

  1. IV.             Perubahan dipengaruhi oleh tindakan manusia.

Hampir seluruh teoritisi telah membicarakan, memulai penyusunan teori mereka berdasarkan atas dua asumsi. Pertama, perubahan adalah normal dan merermbes. Kedua, arah perubahan dapat ditentukan. Sumsi ketiga yang melandasi semua teori umumnya dan terori perubahan social khususnya, menyangkut sifat manusia. Semua teori baik implicit maupun eksplisit, mempunyai suatu bayangan mengenai sifat manusia.

Seperti yang telah dikemukan oleh Shibutani, kenyataannya dalam setiap tatanan masyarakat terdapat semacam “Model Manusia”, ia menyatakan bahwa “Dalam suatu masyarakat tertentu, manusia dibayangkan menjadi rasional karena alam, dalam masyarakat lain, dibayangkan sebagai binatangyang diperbudak oleh hawa nafsu, dalam masyarakat lain lagi dibayangkan sebagai makhluk ciptaan Tuhan semata. Asumsi mengenai sifat manusia, tidak selalu diugkapkan secara eksplisit, tetapi asumsi itu selalu melandasi pikiran kita mengenai perilaku manusia.

Ibnu Khaldun menyatakan, sifat bawaan manusia adalah agresif. Karena itu seperti Hobbes, Khaldun yakin bahwa orang harus membpunayi kakuasaan yang kuat terhadap manusia untuk mengendalikan keagresifan mereka. Khaldun juga menekankanpengarus struktur social terhadap kepribadian individu. Begitu pula teoritisi lain menekankan bahwa   individu adalah produkdari lingkungan sosialnya.

Spencer menghubungkan kepribadian dengan tipe tantangan masyarakat yang beralaku. Marx menyatakan bahwa individu adalah cerminan dari keadaan meteriil kehidupan mereka. Dengan demikian teoritisi secara tidak langsung menyatakan bahwa manusia adalah mahluk yang mudah dibentuk (Plastic), yang dibentuk oleh lingkungan social mereka, dan jika ada, sifat bawaan manusia itu sedikit sekali, namun demikian juga penting bagi pemahaman kita menegnai perubahan social. Bagaimanapun, dilihat dari teori perubahan social, tidak ada sifat bawaan manusia yang patut diperhatikan.

Seperti yang telah dinyatakan secara tersirat oleh teoritisi, bahwa manusia mempunyai kebutuhan organis, kebutuhan moral, kebutuhan ekonomi, kebutuhan untuk berprestasi, kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan social dan alin sebagainya. Berbeda dengan yang mengatakan, bahwa manusia pada hakikatnya jahat atau agresif, baik atau suka bekerja sama. Kebutuhan itu sendiri lebih merupakan hasil dari definisi social ketimbang merupakan sifat bawaan. Seorang individu mempunyai kebutuhan untuk berprestasi, karena lebih disebabkan oleh lingkungan soaial ketimbang sifat bawaannya yang menciptakan kebutuhan itu.

Teoritisi perubahan social melihat manusia sebagai makhluk yang mudah dibentuk, yang sangat ditentukan oleh lingkungan sosialnya. Teoritisi ini berasumsi bahwa sifat mudah dibentuk dan kebutuhan terhadap interaksi social adalah ciri-ciri bawaan utama manusia. Semua teoritisi memandang manusia sabagai makhluk yang mampu berperilaku secara bebas dan dapat mempengaruhi perubahan. Tingkat kemampuan manusia dalam mempengaruhi jalannya sejarah itusangat berbeda-beda, mulai dari mempengaruhi laju perkembangan kearah yang telah ditentukan sebelumnya, hingga mempengaruhi sifat tatanan social di masa depan.

 

 

  1. V.                Mekanisme Perubahan

Khaldun mengemukakan konflik sebagai mekanisme dasar dari perubahan, dan dalam hal ini ia sependapat dengan Spencer. Toynebee berpendapat bahwa tantangan dan tanggapan manusia terhadap tantangan yang menjadi mekanisme perubahan. Sorokin menyatakan setiap system sosiokultural berubah berdasarkan atas aktifitas didalam system sosiokultural. Pada dasarnya Sorokin menolak adanya mekanisme yang mendorong perubahan selain dari sifat bawaan kehidupan social. Bagi Comte, evolusi intelektual adalah mekanisme yang mendorog evolusi social. Karena manusia memerlukan cara berfikir baru, mereka membantu menciptakan tatanan masyarakat yang seseui dengan cara berfikir baru itu. Marx berpendapat sebaliknya, factor utamanya adalah kondisi kehidupan materiil, dan khusunya kontradiksi antara kekuatan – kekuatan dan hubungan –hubungan produksi. Bagi Durkheim, perubahan dari solidaritas mekanik ke solidaritas organic adalah hasil dari pembagian kerja dalam masyarakat dan pembagian kerja adalah akibat dari peningkatan jumlah dan kepadatan penduduk.

Kurangnya oenekanan pada masalah perubahan dalam pandangan fungsionalisme structural tercermin dalam kekurangan ketegasan mengenai mekanisme perubahan. Parsons mengemukakan penyebab internal dan eksternal perubahan social. Bahasa dan institusionalisasi norma dalam nbentuk system hokum adalah dua factor penting evolusi social dalam arti luas, namun sejumlah factor tertentu  dapat menerangkan perubahan structural dalam masyarakat tertentu. Bagi Parsons tak ada lagi mekanisme khusus yang menjadi pembangunan ekonomi.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s