“Teori Sistem Terbuka; Suatu Pendekatan Menuju Integrasi Teoritis”

Posted: 2 April 2012 in Kumpulan Makalah SM 3

Tugas Makalah

“Teori Sistem Terbuka;

 Suatu Pendekatan Menuju Integrasi Teoritis”

Dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas

pada mata kuliah Teori Sosiologi Klasik dan Modern

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh;

  1. Ahmad Suheri                                        1110054000037
  2. Ahmad Taufiq Ramadhan                     1110054000007
  3. Tifla Syafitri                                           1110054000028

 

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2011

Bab I

Pendahuluan

Teori Sistem Terbuka

Suatu Pendekatan Menuju Integrasi Teoritis

Konsekuensi utama dari pertumbuhan minat masyarakat belakangan ini dalam bidang ekologi dan keseimbangan ekologis adalah meningkatnya kesadaran akan hubungan timbal balik antara bentukk-bentuk kehidupan yang berbeda, dan antara bentuk kehidupan itu dengan lingkungan fisiknya. Saling ketergantungan antara banyak macam element yang berbeda-beda dapat digambarkan dengan perkembangan struktur social dan ekologis dari suatu komunitas kota. Tidak seperti suatu organisasi formal, perkembangan suatu komunitas kota tidak begitu dirancang sengaja. Sebaliknya, keputusan-keputuusan individu dibuat sedemikian untuk mengambil keuntungan dari kesempatan-kesempatan yang ada, dan hasil akhirnya munculnya suatu sistem yang sangat saling tergantung. Untuk menggambarkannya dengan suatu contoh hipotesis, katakanlah, suatu pabrik didirikan dalam suatu kampong kecil didesa untuk menghindarkan diri dari pajak yang tinggi di daerah kota, supaya lebih dekat dengan bahan mentah, atau banyak lagi alasan lainnya.

Akibat dari yang langsung ini adalah menarik orang untuk mencari pekerjaan. Mulal-mula para pekerja bangunan dan kemudian para pegawai tetap karena itu, penduduk bertambah banyak. Begitu rencana itu jadi, berbagai kesempatan unuk usaha-usaha local dalm bidang perdagangan meluas, mulai dari bar dan rumah tempat tinggal para pekerja bangunan, sampai dengan perkembangan pemukiman dan took-toko para penghuni baru.

 

 

 

 

 

Bab II

Pembahasan

  1. I.                                                            MODEL-MODEL TEORI SALING KETERGANTUNGAN ALTERNATIF

Saling ketergantungan antara tindakan individu-indvidu, secara implisit, kalau bukan eksplisit, diakui dalam semua teori yang sudah kita diskusikan di depan. Dari antara teori-teori itu, fungsionalisme menekankan saling ketergantungan ini yang kiranya paling kuat. Pada tingkat antar pribadi, hal ini terlihat dalam pandangan bahwa peran individu saling melengkapi satu sama lain, dan kurang lebih bersifat harmonis. Saling ketergantungan secara harmonis ini merupakan hasil dari orientasi-orientasi nilai yang dianut bersama oleh pihak-pihak yang berinteraksi, dan dari kenyataan bahwa menyesuaikan diri dengan harapan-harapan orang lain itu, memenuhi kebutuhan masing-masing pihak. Pada tingakat institusional, kaum fungsionalis cenderung menekankan saling ketergantungan yang harmonis antara berbagai institusi sosilal dalam menyumbang pada pemenuhan persyaratan keseluruhan dari masyarakat itu sebagai suatu sistem social.

Teori konflik juga menerima kenyataan saling ketergantungan itu dalam kehidupan social, walaupun penjelasan nampaknya berbeda secara radikal dengan penjelasan kaum fungsionalis. Pada umumya teori konflik melihat saling ketergantungan itu sebagai hasil dari kekuasasan, mereka yang menguasai macam-macam sumber untuk memaksakan kemauannya pada orang lain.

Kedua teori masa kini yang didiskusikan terlebih dahulu interaksionisme simbol dan teori pertukaran menekankan pola-pola saling ketergantungan dalam sistem-sistem yang kecil pada tingkat antara pribadi, dari pada tingkat-tingkat institusional yang besar. Para penganut interaksionisme simbol menjelaskan saling ketergantungan sebagai hasil dari pemilikan simbol-simbol bersama dengan mana individu-individu dapat merundingkan tindakan masing-masing sehingga mereka cocok satu sama lain dalam suatu keseluruhan yang terorganisasi.

Teori interaksi simbol sedikit lebih umum dari pada ketiga teori lainnya dalam penjelasannya mengaenai saling ketergantungan. Perhatian utamanya adalah medium simbolis dengan mana pola-pola saling ketergantungan itu muncul dan dipertahankan. Gambaran yang umum mengenai realitas social yang dikemukakan oleh kaum interaksionisme simbol adalah bahwa tetap bertahannya atau perubahannya terus menerus tergantung pada komunukasi simbolis. Pandangan mengenai saling ketergantungan jelas mendasar dalam semua teori masa kini yang didiskusikan dalam empat bab yang terdahulu.

Dibalik ini, masing-masing teori mencerminkan suatu perspektif khusus dan terbatas pada sifat saling ketergantunangan ini. teori pertukaran mencerminkan tekanan yang utama pada kepentingan diri individu sebagai sumber akhir saling ketergantungan; individu-individu saling tergantung satu sama lain untuk berbagai penghargaan didalam teori fungsional, sumber  saling ketergantungan yang utama adalah orientasi nilai bersama karena komitmen moral individu terhadap nilai-nilai bersama ini, mereka mengesampingkan kepentingan-kepentingan individu yang sempit kalau diperlukan dalam melaksanakan tindakan-tindakan yang menguntungkan sistem social itu dimana mereka termasuk. Sesungguhnya, kepentingan pribadi individu dilihat, untuk semua tujuan praktis, sabagai benar-benar setara dengan pemenuhan persyaratan peran yang perlu untuk mempertahankan sistem itu.

Singkatnya, keempat perspektif masa kini yang  didikusikan disini terbatas pandangannya mengenai sifat saling ketergantungan itu. Perhataan ini terlampau menyedernakan dalam beberapa hal tertentu. Penganut teori pertukaran seperti blau, misalnya, mengakui pentingnya pengaruh nilai-nilai yang muncul dan pengawasan yang memaksa dalam proses pertukaran itu. Penganut teori fungsional mengakui bahwa kebutuhan pribadi para peserta dalam suatu sistem kurang lebih dipenuhi melalui pertukaran-pertukaran yang diungkapkan dalam penampilan-penampilan peran timbal balik.

  1. II.                                                            PERSPEKTIF DASAR TEORI SISTEM UMUM

Konsep inti dalam teori sistem umum adalah organisasi dalam pengertian yang luas. Ini mencakup seperangkat komponen atau elemen yang terdapat dalam hubungan-hubungan saling ketergantungan timbal balik. Dalam arti yang paling luas, konsep organisasi itu berlaku untuk dunia social, juga dunia biologis, dan fisik. Dalam karya Bertalantffy, seorang ahli biologis, teori sistem umum dianjurkan sebagai suatu perspektif yang cukup luas untuk meningkatkan semacam kesatuan dari semua ilmu pengetahuan fisika, biologi, dan ilmu social menurut pendekatan dasarnya pada berbagai pokok permasalahan.

Tekanan pada organisasi bagian-bagian untuk membentuk suatu keseluruhan dapat dibandingkan secara kontras dengan pendekatan ilmiah tradisional, yang mengandung pengertian bahwa gejala-gejala dapat dimengerti dengan baik sekali dengan merincinya kedalam komponen-komponen utama. Misalnya, strategi ilmiah tradisional yang digunakan untuk mengerti organisme biologis adalah menunjukan komponen-kompenen dasar yang membentuk gejala itu. Sebaliknya, teori sistem memandang bahwa keseluruhan itu lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya berdasarkan pola-pola organisasi yang diperlihatkan dalam keseluruhan.

Dengan memusatkan perhatian pada bagian-bagian individual yang termasuk dalam keseluruhan itu, kaum ilmuan tidak memperhatikan lagi organisasi atau saling ketergantungannya. Organisasi atau saling ketergantungan yang ditanyakan dalam keseluruhan itu tidak dapat direduksikan kebagian-bagian individual yang membentuk keseluruhan.

Model mekanik muncul dari usaha awal untuk menjelaskan perilaku manusia dan masyarakat secara ilmiah, atau sebagai bagian dari dunia alam obyektif. (comte menggunakan istilah’’fisika sosial’’ untuk menunjukan studi tentang masyarakat sebelum dia menciptakan istilah ‘’sosiologi’’) Buckley berargumentasi bahwa konsep ekuilibrium dan inertia diambil dari model mekanik ini. konsep dari ekuilibirium mencerminkan suatu hubungan yang sangat stabil antara bagian-bagian yang membentuk sistem itu. Gangguan-gangguan menyebabkan redistribusi bagian-bagian, yang memulihkan sistem itu pada keadaannya yang mantap. Kalau tidak ada gangguan, sistem itu memperlihatkan intertia, atau kecendrungan untuk mempertahankan strukturnya yang ada, sangat mirip dengan sebuah kolam air yang akan tetap tenang saja kalau sekiranya tidak diganggu oleh angina tau batu yang dilemparkan kedalamnya. Buckley mencatat bahwa parsons menggunakan konsep ekuilibrium dan inertia itu dalam usahanya meneggakkan suatu kerangka referensi yang mantap untuk menganalisa sistem-sistem social.

Model organik mengemukakan suatu tingkat organisasi yang lebih tinggi atau lebih kompleks daripada model mekanik. Kedua model itu menerima pandangan mengenai saling ketergantungan bagian-bagian dan bertahannya suatu keadaan yang mantap tetapi munculnya model organic mencerminkan pandangan bahwa masyarakat-masyarakat bukan sekedar sistem mekanik, melainkan sistem yang hidup. Jadi, biologi, bukan fisika, yang menjadi model untuk sosiologi. Diantara para perintis dalam sosiologi, spencer adalah salah satu dari beberapa yang menganalogikan organisme biologis dengan masyarakat. Popularitas teori Darwin mengenai evolusi social merupakan suatu dukungan yang kuat terhadap model organic.

Buckley mengemukakan bahwa model organic sebenarnya paling kurang meliputi dua tingkatan organisasi yang berbeda-beda tingkat organism individual dan tingkat spesies. Teoritis seperti spencer cenderung menggunakan organism individual sebagai model dasarnya untuk menekankan saling ketergantungan yang harmonis antara pelbagai “bagian” dalam masyarakat. Model ini juga tercemin dalam fungsionalisme masa kini, meskipun menurut Buckley, konsep fungsionalisme mengenai ekuilibirium sebenarnya berasal dari model mekanik. Suatu konsep yang lebih tepat menggambarkan sifat pengaturan sendiri dalam organism biologis adalah homoestasis. Homoestatis menunjukan pada semua proses dinamis dengan mana organisme itu mempertahankan struktur dan keadaan internalnya yang perlu supaya tetap hidup dalam menghadapi perubahan yang terus-menerus dan ancaman-ancaman gangguan dalam lingkungannya. Mekanisme-mekanisme pengaturan suhu dalam organisme adalah sebuah contoh yang digunakan oleh parsons.

Model sistem umum tidak mencakup asumsi-asumsi apapun yang terdapat didalamnya yang berhubungan dengan sifat hubungan antara bagian-bagian komponen dalam sistem itu. Menurut pelbagai teori yang sudah kita diskusikan di depan, hubungan-hubungan itu dapat bersifat koperatif atau konflik; hubungan-hubungan itu dapat didasarkan pada nilai-nilai moral bersama atau kepentingan-kepentingan induvidualistik; dapat juga hubungan-hubungan itu bersifat memaksa atau sukarela; juga sifatnya dapat simbolik atau simbiotik. Selain itu, apapun sifat hubungan-hubungan itu, kuatnya hubungan itu dapat bermacam-macam.

 

  1. 1.                                          Hubungan lingkungan

Sistem sebagai suatu keseluruhan dilihat sebagai yang terlibat dalam pelbagai macam transaksi dengan lingkungannya. Transaksi-transaksi ini dibagi lagi kedalam masukan-masukan yang berasal dari lingkungan dapat mempunyai bermacam-macam akibat pada hubungan dalam sistem itu tersendiri. Akan tetapi, sistem-sistem itu sangat berbeda menurut kemampuan untuk menembus batas-batas, dan suatu sistem dalam hal-hal tertentu dapat mengisolasi dirinya dari jenis-jenis gangguan lingkungan tertentu. Misalnya, sekte agama dapat berusaha menarik diri sebanyak mungkin dari masyarakat sekitar, atau mereka dapat mengembangkan pelbagai strategi untuk mencegah para anggotanya dari keterlibatan yang terlampau jauh dalam pelbagai instusi sekuler. Juga sama halnya, masyarakat-masyarakat selalu mengembangkan prosedur untuk mengamati dan mengawasi arus manusia atau barang yang melintasi batas-batasnya.

  1. 2.                                          Bagian-bagian Sistem

Sifat bagian-bagian komponen yang membentuk suatu sistem dengan sengaja ditinggalkan tanpa penjelasan. Alasannya ialah bahwa diskusi kita sejauh ini sudah meyangkut konsep yang umum mengenai sistem, bukan mengenai tipe sistem tertentu. Suatu pandangan yang popular adalah bahwa satuan komponen dasar sistem social adalah orang secara individual, atau mungkin kelompok-kelompok orang individual. Tetapi keterlibatan induvidu-induvidu dalam sistem social biasanya tidak mencakup keseluruhan kepribadiaannya, melainkan hanya beberapa bagian tertentu saja. Tingkatan keterlibatan itu akan berlainan menurut tipe sistem dan induvidu yang berbeda-beda. Namun demikian, dapat diberi argumentasi bahwa komponen sistem social yang utama bukan induvidu saja, melainkan tindakan induvidu dan interaksinya yang diatur dalam peran-perannya. Jadi satuan-satuan sistem social bukanlah berbeda-beda obyektif (seperti benda-benda fisik) melainkan peristiwa-peristiwa. Konsekuensinya, struktur dan proses tidak dapat di pisahkan, karena kalau proses tindakan dan interaksi yang membentuk sistem itu berhenti atau berubah, maka sistem itu sendiri akan lenyap atau berubah.

 

 

  1. 3.                                          Hubungan Informasi Antar bagian

Hubungan antara induvidu dan lingkungannya, dan antarinduvidu, pada dasarnya merupakan suatu hubungan informasi, bukan hubungan energy. Sebagai hasil dari proses adaptasi yang terus-menerus antarinduvidu dan dengan lingkungannya, mereka mengembangkan suatu’’ peta kognitif’’ (cognitive map), yakni suatu gambaran (representation) subyektif dari lingkungan materil dan yang social. Peta ini tidak harus lengkap atau tepat. Seperti yang sudah sering kali ditekankan oleh para ahli psikologi social, induvidu-induvidu bersifat selektif dalam presepsi dan interpresentasinya mengenai lingkungan. Persepsinya mencerminkan sikap, tujuan, dan watak subyektifnya yang khusus. Tambahan pula, peta itu tidaklah statis; dia terus-menerus berubah dalam adaptasinya dengan lingkungan. Kalau prsepsi induvidu yang tidak berhasil, mereka akan memperbaiki persepsinya. Misalnya, seorang yang menyimpan rahasia bersama temannya dan akhirnya mengetahui bahwa rahasia itu bocor, mungkin akan memperbaiki persepsinya mengenai temannya itu sebagai seseorang yang tidak akan menyimpan rahasia bersama orang itu lagi. Kehidupan social yang terogarnisasi meliputi sesuatu kumpulan yang berasal dari pengalaman-pengalaman sejumlah induvidu. Melalui proses belajar (dalam arti luas) masing-masing peta konogtif seseorang akan memasukan informasi yang berasal dari komunikasi simbol dengan orang lain.

  1.  III.            TEORI SISTEM DAN PERSPEKTIF SOSIOBOLOGIS: PENGARUH GENETIK VERSUS PENGARUH BUDAYA TERHADAP PERILAKU MANUSIA

Usaha orang masa kini untuk menjelaskan perilaku manusia menurut proses-proses biologis bukanlah hal yang baru. Penjelasan seperti itu sudah popular di eropa dan amerika di akhir abad ke Sembilan belas dan awal abad ke dua puluh, khususnya selama decade sebelum perang dunia I. hal ini jelas dalam pengaruh yang kuat dari Darwinisme social terhadap pemikiran social Amerika selama periode ini.

  1. 1.                                                                  Latar Belakang Historis: Darwinisme Sosial

Pada dasarnya, Darwinisme social memperluas prinsipi-prinsip evolusi social. Dalam dunia biologis dan dunia social ada suatu tekanan pada proses perjuangan kompetatif untuk bertahan hidup itu langka. Dalam dunia biologis, mereka yang berkompetensi itu bisa induvidu bisa juga spesies. Dalam dunia social, perjuangan kompetitif itu mungkin antara induvidu-induvidu, atau antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam suatu masyarakat, atau antara penduduk yang berbeda ras dan etnisnya, masing-masing dengan pola-pola budayanya tersendiri untuk menyusuaikan diri dengan lingkungannya. Hasil dari proses kompetetif ini adalah bahwa mereka yang paling bisa meyesuaikan diri, atau yang paling sehatlah yang dapat hidup terus (survival of the fittest). Sebagai hasil dari perbedaan alamiah ini, beberapa orang atau kelompok lebih di lengkapi daripada yang lainnya dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dengan hasil yang memuaskan. Mereka yang mampu menyesuaikan diri dengan hasil yang memuaskan pasti berhasil dalam perjuangan kopetitif, dan untuk menghasilkan lebih banyak lagi daripada saingannya, dan untuk menjadi dominan. Sebaliknya, mereka yang tidak mampu menyesuaikan dirinya secara berhasil dirundung malapetaka atau tunduk.

  1. 2.                                                                  Dasar Biologis dan Dasar Genetik Perilaku Sosial

Mengingat latar belakang sejarah ini, mungkin tidak mengherankan bahwa penjelasan sosiobiologis masa kini mengenai perilaku seperti merupakan suatu pendekatan baru yang radikal bagi para ahli ilmu social. Minat yang bertambah besar ini terhadap sosiobologis sudah membantu mengoreksi kekurangan yang senantiasa ada dari pengaruh-pengaruh boilogis terhadap perilaku manusia. Dalam banyak hal, sosiobiologi didasarkan dengan cukup kuatnya pada prinsip-prinsip Darwinisme tentang bagaimana perbedaan-perbedaan alamiah antara organisme itu menghasilkan perbedaan dalam kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan secara berhasil dan meneruskan keturunan. Pemahaman mengenai mekanisme tertentu dengan mana sifat-sifat yang menguntungkan itu ditransmisikan keturunan sudah sangat diperkuat oleh perkembangan-perkembangan modern dalam genetika. Pengakuan akan bagaimana perbedaan-perbedaan alamiah itu menghasilkan perbedaan dalam keberhasilan repreduktif tidak merupakan dasar apapun untuk menilai penduduk sebagai yang unggul atau tidak bagaimanapun juga, beberapa karekteristik mungkin mengutamakan dalam satu lingkungan tetapi tidak menguntungkan dalam lingkungan yang lain. Jadi tidak ada dasar untuk menarik implikasi-implikasi yang bersifat rasial dari model-model sosiobologis.

  1. IV.                                                         ARUS UMPAN-BALIK DAN PERILAKU YANG DIARAHKAN KETUJUANNYA

Informasi yang dibutuhkan untuk menyesuaikan dirinya dengan lingkungan dan berhubungan satu sama lain, diterima dalam tingkat kesadaran melalui norma-norma budaya dan dalam tingkat bawah sadar melalui hukum-hukum genetic. Dalam kerangka umum yang dibentuk oleh kecenderungan-kecenderungan yang dipengaruhi secara genetic dan karakteristik-karakteristik biologis, informasi khusus yang perlu untuk membimbing tindakan individu diperoleh dari lingkungan eksternal materiil dan social, dan dari keadaan internal dan menyesuaikan perilaku menurutnya, penting untuk perilaku yang direncanakan atau yang diarahkan ke tujuannya. Untuk memulai, individu didorong untuk bertindak menurut suatu cara tertentu untuk memnuhi suatu kebutuhan atau untuk bertindak menurut suatu cara tertentu untuk memenuhi suatu kebutuhan atau untuk mencapai suatu tujuan.

Mekanisme umpan – balik dalam teori sistem memungkinkan untuk menggambarkan analisa fungsional dan analisa motivasional tanpa membuat kesalahan logika yang mengasumsikan bahwa suatu peristiwa yang akan datang dapat menjadi sebab dari suatu kejadian sekarang . bukan konsikuensi-konsikuensi dimasa mendatang yang menyebabkan perilaku sekarang ini, melainkan keadaan tujuan yang diinginkan, atau gambaran subyektif mengenai konsekuensi-konsekuensi dimasa yang akan datang menurut kebutuhan-kebutuhan  sekarang ini serta kondisi – kondisi lingkungan yang merangsang atau member motivasi pada perilaku sekarang ini.

  1. V.                                                            PROSES MORFOGENIK VERSUS MORFOSTATIK

Penilaian mengenai umpan-balik dalam hubungannya dengan tujuan yang diinginkan, dapat berpengaruh macam-macam terhadap perilaku. Pada tingkat individual, apakah suatu perilaku tertentu itu diulangi atau diubah akan dipengaruhi oleh tipe umpan-balik yang diterima. Pada umumnya, kita dapat mengharapkan bahwa umpan-balik positif akan memperkuat suatu perilaku tertentu atau memperbesar kemungkinan bahwa perilaku itu akan terulang kembali. Sebaliknya, umpan balik negative dapat diharapkan merangsang perubahan perilaku.

Namun demikian, akibat umpan balik positif yang memperkuat sifatnya itu harus diimbangi dengan akibat-akibat yang memuaskan. Kalau seorang itu puas karena mencapai suatu tujuan tertentu, perilaku tertentu yang kiranya ada dalam usaha mencapai tujuan itu, kemungkinan kurang untuk diulangi, sekurang-kurangnya untuk jangka pendek. Individu akan mungkin mengembangkan suatu garis tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan yang lain. Tetapi kebutuhan  dan tujuan manusia itu tidak pernah terpenuhi semuanya, selalu ada semacam ketegangan antara aspirasi individu dan prestasi yang dicapainya.

  1. VI.                                                            PROSES MORFOGENIK DAN SIKLUS UMPAN-BALIK POSITIF

Konsep siklus umpan-balik positif sangat berguna dalam menganalisa tipe-tipe perubahan social.pada intinya, siklus yang demikian itu dimulai apabila suatu penyimpangan atau variasi dari suatu pola yang sudah mapan diperkuat, yang dengan demikian merangsang awal bisa hanya kecil saja dan tanpa ada pengaruhnya yang berarti penyimpangan itu menggerakkan suatu proses perubahan kumulatif. Artinya, dukungan positif terhadap penyimpangan kecil yang awal itu, merangsang suatu pentimpangan yang agak lebih besar dalam arah yang sama. Penyimpangan  tambahan ini, kalau didukung, diikuti oleh suatu penyimpangan yang lebih besar lagi, yang kalau didukung, akan didukung oleh suatu penyimpangan yang lebih besar lagi, dan seterusnya. Karena akibat-akibat yang positif ini menjadi lebih luas dikenal, maka penyimpangan yang meluas ini tersebar dikalangan para anggota sistem itu. Proses ini dilihat dalam bentuk yang lebih kecil lagi, misalnya dalam suatu keluarga dimana anak-anak “menguji batas-batas” toleransi orang tuanya terhadap kenakalan dengan melakukan perbuatan nakal yang dilarang, dimana mereka berusaha lolos sebelum ada campur tangabn dari orang tuanya.

Siklus umpan balik positif tercakup dalam pembentukan subkultur alternative atau subkultur para penyimpang dalam kelompok minoritas atau kelompok subordinat dalam satu masyarakat. Kalau dua kelompok beebda menurut penguasaan sumber-sumber dimana keduanya tergantung, proses konflik cenderung menghasilkan satu kelompok menjadi dominan dan yang lain tunduk.pada tingkat masyarakat, kelompok dominan lalu dapat menyusun undang-undang yang direncanakan untuk dilindungi kepentingannya dalam oposisinyaterhadap kelompok subordinat. Anggota kelompok subordinat lalu merasa lebih sulit untuk memenuhi keoentingannya secara sah. Beberapa diantaranya mungkin berusaha dengan mengembangkan strategi yang tidak legal. Kelompok dominan memberikan respon dengan mendirikan atau memperluas badan-badan yang mengadakan control social untuk menekan perilaku seperti itu, baik dengan menghukum maupun dengan mencoba untuk merehabilitasi orang yang bersalah itu.

 

 

  1. VII.                                                            PENGEMBANGAN DAN PENTEDERHANAAN STRUKTURAL

Meskipun Buckley menekankan proses pengembangan structural (structural Elaboration) dan kompleksitas yang semakin tinggi, dalam keadaan tertentu, sistem social dapat berubah kearah penyederhanaan strktural (structural simplification). Proses ini bertentangan dengan pengembangan structural. Hal ini berkurangnya tigngkat koordinasi dan pengawasan terpusat, berkurangnya tingkat spesialisasi dan saling ketergantungan, dan betambahnya ekonomi dan kemampuan mencukupi didri sendiri dari pelbagai bagian atau kelompok dalam masyarakat. Satu contoh penting dari sejarah misalnya keruntuhan kekaisaran Roma. Begitu abad pertengahan mulai, sistem politik yang sangat terpusat diganti oleh munculnya satuan-satuan politik yang terpisah dan berdikari (seperti komunitas kampong) yang lebih kecil lagi dan kurang memperlihatkan saling ketergantungan.

  1. Pengembangan Struktural dan Ketegangan

Kebutuhan untuk mengatasi ketegangan adalah kebutuhan universal yang tidak terbatas pada masyarakat modern saja. Walaupun demikian, kiranya kita percaya bahwa masyarakat industry kota yang modern dengan tingkat kompleksitas dan saling ketergantungan yang tinggi, menghasilkan tipe-tipe ketegangan tertentu yang berbeda dari ketegangan masyarakat sedrhana. Sebagai suatu prinsip, saling ketergantungan yang semakin tinggi yang merupakan hasil dari pengembangan structural mengandung control yang semakin tinggi pula terhadap berbagai satuan (individu,kelompok, organisasi dan lain-lain) yang membentuk sistem itu. Hal ini mengandung pengertian berkurangnya otonomi dari individu atau bagian-bagian lainnya (kelompok atau organisasi) yang membentuk sistem itu.

  1. Pandangan Dialektik menegenai Pengembangan dan Penyederhanaan Struktural

Sampai sejauh ini, kitamelihat bahwa keuntungan positif dari pengembangan structural disertai oleh keonsekuensi-konsekuensi tertentu yang bersifat negative. Seperti kita sudah kita lihat, jenis keuntungam utama yang merupakan hasil dari pengembangan structural adalah meningkatnya kemampuan meneyesuaikan diri dari masyarakat (atau suati sistem lainnya). Ini berarti bahwa ada efesiensi dan efektifitas dalam menggunakan sumber-sumber alam dalam lingkungan supaya memenuhi kebutuhan manusia yang semakin banyak. Hasil akhirnya adalah standar hidup yang semakin naik atau kesejahteraan meteriil untuk lebih banyak orang. Tetapi karena kesejahteraan ekonomi atau meteriil dari orang-orang itu bertambah, terjadilah perubahan-perubahan tertentu dalam tujuan dan pola motivasional individu. Seperti kita ketahui   dari teori Maslow mengenai aktualisasi diri, individu yang kebutuhan dasarnya untuk hidup dipenuhi, tidak lagi domotivasi dengan derajat yang sama oleh kebutuhan-kebutuhan ini, kebutuhan-kebutuhan baru dengan tingkat yang lebih tinggi menjadi  dominan. Mungkin akhirnya, suatu tingkat kepuasan tercapai dalam bidang kesejahteraan  materiil, atau sekurang-kurangnya kebutuhan materiil menjadi kurang penting dan jenis kebutuhan lainnya menjadi lebih penting. (tingkat kepuasan benda-benda materiil dapat diperbesar sebagai akibat dari iklan atau pengaruh-pengaruh lainnya).

  1.     VIII.                                       VARIASI DALAM STRUKTUR INTERNAL

Saling ketergantungan dalam satu artian adalah sentral dalam teori sistem. Gamabran yang mendasar tentang kenyataan social adalah bahwa individu-individu atau jenis-jenis satuan social lainnya kenyataan social adalah bahwa individu-individu atau jenis-jenis satuan social lainnya saling berhubungan, tindakan dari satu bagian apa saja dalam sistem itu akan mempunyai pengaruh terhadap bagian-bagian lainnya. Pada tingkat makro.

  1. Saling Ketergantungan Fungsional versus otonomi Fungsional

Dalam suatu skala yang lebih luas, suatu tingkat saling ketergantungan yang relative rendah akan muncul antara berbagai klan  dalam suatu masyarakat primitive yang mungkin mendiami daerah yang sama tetapi jarang berinteraksi satu sama lain. Sebaliknya, berbagai komunitas dan institusi social dalam masyarakat modern sangatlah tinggi salingketrgantunganya, dan hampir tidak dapat hidup, sekurang-kurangnya dalam bentuknya yang sekarang ini, tanpa hubungan timbal balik dengan berbagai bagian dalam sistem itu harus diteliti secara empiris.

  1.  Saling Ketergantungan Fungsional, Nilai dan Konsensus Normatif, serta Solidaritas Emosional

Saling ketergantungan bukan satu-satunya tipe ikata antara para anggota dalam suatu sistem social. Durkheim menjelaskan salingn ketergantungan fungsional itu sebagi satu dari dua dasar alternative  untuk integrasi social. Dasar yang lain adalah suara hati kolektif yang kuat, atau komitmen bersama terhadap nilai dan norma bersama. Tetapi Durkheim mengakui bahwa tipe solidaritas yang terakhir ini, yanhg meliputi consensus terhadap nilai  dan norma bersama, cenderung menjadi rusak karena pembagian pekerjaan bertambah tinggi dan tingkat heterogenitas bertambah besar. Dengan kata lain, peningkatan dalam saling ketergantungan fungsional menyebabkan berkurangnya solidaritas yang didasarkan pada consensus normative.

  1. Otoritas versus Kekuasaan sebagai Dasar Alternatif untuk Konformitas Normatif dan saling ketergantungan

Tidak seperti para ahli teori  interaksi simbol, tekanan buckley tidak terbatas pada tingkat interaksi antar pribadi secara mikro. Dia juga membahas organisasi dari tindakan dan pola interaksi yang kompleks sifatnya kedalam peran dan pola institusional. Tekanannya pada kecenderungan sistem sosio budaya untuk melaksanakan pengembangan structural yang menghasilkan kompleksitas yang semakin tinggi dan kemampuan mengadaptasi yang semakin tinggi pua, ada hubungannya dengan ini karena memperlihatkan perhatiannya terhadap analisa tingkat makro.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

Penutup / Kesimpulan

Saling ketergantungan secara harmonis ini merupakan hasil dari orientasi-orientasi nilai yang dianut bersama oleh pihak-pihak yang berinteraksi, dan dari kenyataan bahwa menyesuaikan diri dengan harapan-harapan orang lain itu, memenuhi kebutuhan masing-masing pihak. Pada tingakat institusional, kaum fungsionalis cenderung menekankan saling ketergantungan yang harmonis antara berbagai institusi sosilal dalam menyumbang pada pemenuhan persyaratan keseluruhan dari masyarakat itu sebagai suatu sistem social.

Teori konflik melihat saling ketergantungan itu sebagai hasil dari kekuasasan, mereka yang menguasai macam-macam sumber untuk memaksakan kemauannya pada orang lain. Teori konflik juga menerima kenyataan saling ketergantungan itu dalam kehidupan social, walaupun penjelasan nampaknya berbeda secara radikal dengan penjelasan kaum fungsionalis. Pada umumya teori konflik melihat saling ketergantungan itu sebagai hasil dari kekuasasan, mereka yang menguasai macam-macam sumber untuk memaksakan kemauannya pada orang lain.

Teori interaksi simbol sedikit lebih umum dari pada ketiga teori lainnya dalam penjelasannya mengaenai saling ketergantungan. Perhatian utamanya adalah medium simbolis dengan mana pola-pola saling ketergantungan itu muncul dan dipertahankan.

Konsep inti dalam teori sistem umum adalah organisasi dalam pengertian yang luas. Ini mencakup seperangkat komponen atau elemen yang terdapat dalam hubungan-hubungan saling ketergantungan timbal balik. akibat umpan balik positif yang memperkuat sifatnya itu harus diimbangi dengan akibat-akibat yang memuaskan. Kalau seorang itu puas karena mencapai suatu tujuan tertentu, perilaku tertentu yang kiranya ada dalam usaha mencapai tujuan itu, kemungkinan kurang untuk diulangi, sekurang-kurangnya untuk jangka pendek. Individu akan mungkin mengembangkan suatu garis tindakan yang disengaja untuk mencapai suatu tujuan yang lain. Tetapi kebutuhan  dan tujuan manusia itu tidak pernah terpenuhi semuanya, selalu ada semacam ketegangan antara aspirasi individu dan prestasi yang dicapainya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s