Sosiologi Sosial_“Kompilasi Makalah Hasil Study Lapangan/Observasi”

Posted: 2 April 2012 in Kumpulan Makalah SM 3

Tugas Makalah Mandiri

“Kompilasi Makalah Hasil Study Lapangan/Observasi”

Dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas

pada mata kuliah Sosiologi Perkotaan

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh;

Ahmad Suheri

1110054000037

 

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2011

 

 

DAFTAR ISI

  1. 1.      Daftar Isi _ 2
  2. 2.      Kata Pengantar _ 3
  3. 3.      Bab I

Pendahuluan_ 4

  1. 4.      Bab II

Pembahasan_5

  1. Kota sebagai Arena Kehidupan Sosial: “Masyarakat Idealis diperumahan Minimalis”_5
  2. Kota sebagai (kumpulan) Manusia: “Masyarakat Urbanisasi dikomplek Prumahan_7
  3. Kota sebagai pergerakan Ekonomi: “Pola-pola pencarian nafkah masyarakat komplek (Perumahan)_8
  4. Entrepreneurship dan Ekonomi Masyarakat Kota: “Pengalaman menjadikan sebuah Kemandirian”_9
  5. Kota sebagai Pemerintahan yang terorganisir: “Kantor Kecamatan Jatisampurna sebagai jalur pemerataan Masyarakat Kota Bekasi”_10
  6. Fungsi Kota dalam Kehidupan Sosial: “Perumahan Green Mension”_12
  7. Mall dan Pusat Perbelanjaan sebagai Ruang Publik: “Fasilitas Menjadi Pilihan Masyarakat Kota Kelas Atas”_14
  8. 5.      Bab III

Analisis kasus_16

  1. 6.      Epilog atau kesimpulan_18
  2. 7.      Daftar Pustaka_19

 

 

 

Kata Pengantar

Alhamdulillah hirobbil ‘alamin, puja beserta puji syukur saya panjatkan  kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat sehat rohani serta jasmani yang terkadang saya lupa, dan terlena oleh nikmat yag telah diberikan-Nya. Tanpa-Nya saya tidak akan dapat melakukan aktifitas apapun.

Banyaknya mata kuliah yang saya tempuh dari semester satu sampai dengan sekarang, menurut kacamata saya mata kuliah sosiologi perkotaan adalah mata kuliah  yang sangat menarik dan sangat menantang. Disini saya belajar diluar, yakni turun langsung kemasyarakat. “Kalian adalah Mahasiswa pengembangan Masyarakat, tempat kalian bukan hanya di kelas, melainkan di luar yaitu terjun langsung ke Masyarakat”.[1] Kata-kata seperti ini sering dilontarkan kepada kami oleh dosen pengampu mata kuliah Sosiologi Perkotaan tersebut.

Oleh sebab itu, kami diharuskan untuk terjun langsung kelapangan setiap minggunya ke masyarakat, belajar diluar dan melakukan observasi atau penelitian terhadap masyarakat. Disinilah saya banyak menemukan entah itu respon mereka (Masyarakat) ketika saya meminta ijin untuk melakukan observasi di lingkungannya, pola kehidupan dilingkungannya, dan berbagai macam problem atau masalah yang dihadapinya.

Melihat fenomena yang saya temukan dalam kehidupan masyarakat saat observasi tersebut, saya harus menyiapkan diri untuk menjadi masyarakat dan dapat diterima dalam masyarakat. Sebagai “PR” saya juga harus menjadi pengembang Masyarakat yang benar-benar dapat mengembangkan masyarakat.

Akhir kata, saya hanya dapat mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu mata kuliah sosiologi perkotaan yaitu Bapak Tantan Hermansyah, M.Si, semoga apa yang telah beliau sampaikan kepada saya dapat bermanfaan baik sekarang maupun dimasa yang akan datang.

 

 

Penulis

Ahmad Suheri

 

BAB I

Pendahuluan

Masyarakat adalah sekumpulan atau kelompok manusia yang saling berhubungan atau berinteraksi yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterikatan antara yang satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama (Koentjara Ningrat).

Masyarakat ialah tempat untuk kita bisa melihat dengan jelas proyeksi individu sebagai input bagi keluarga, keluarga sebagai tempat terprosesnya, dan masyarakat adalah tempat kita melihat hasil (output) dari proyeksi tersebut.

Masyarakat perkotaan sering disebut juga dengan Urban Community. Pengertian masyarakat kota lebih ditekankan pada sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda-beda dengan masyarakat pedesaan.

Perhatian khusus pada masyarakat yang ada diperkotaan tidak  terbatas pada aspek-aspek seperti pakaian, makanan dan perumahan, tetapi mempunyai perhatian yang lebih luas lagi. Orang-orang kota sudah memandang penggunaan kebutuhan hidup, artinya tidak hanya sekadarnya atau apa adanya. Hal ini disebakan oleh karena pandangan warga kota sekitarnya.

Mengenai arti  masyarakat, disini terdapat beberapa definisi dari berbagai  para ahli  sosilogi, seperti:

  1. R. Linton, seorang ahli antropologi mengemukakan, bahwa masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup/tinggal  dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya berfikir tentang dirinya dalam satu kesatuan social dengan batas-batas tertentu.
  2. M.J. Herkovits, mengetakan bahwa masyarakat adalah kelompok individu yang diorganisasikan dan mengikuti satu cara hidup tertentu.
  3. J.L. Gillin dan J.P. Gillin, mengatakan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang terbesar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama.masyarakat itu meliputi pengelompokan-pengelompokan yang lebih kecil.

 

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

  1. I.                   Kota Sebagai Arena Kehidupan Sosial

“Masyarakat Idealis diperumahan Minimalis”[2]

  1. Definisi Kota

Menurut Prof. Drs. R. Bintarto Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik.

Sedangkan Kota menurut Wirth adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.

  1. Ekologi Urban
  1. Lingkungan Kota

Seperti definisi kebanyakan orang, kota merupakan tempat dimana orang  yang tinggal di pusat keramaian, penuh kebisingan, modern dan sebagainya. Tak jarang jalan dikota ini hampir setiap hari terkena macet, karena banyaknya masyarakat yang beraktifitas atau melakukan kegiatan diluar tempat tinggalnya, sehingga kendaraan saling bertemu antara kendaraan dari kota yang lain dengan kota yang saya kaji.

  1. Deskripsi Kota (Tempat Tinggal)

Adapun tempat tinggal atau huniannya terbilang nyaman, dan jauh dari kebisingan.  Seperti gambar di bawah ini:

 

Gambar diatas nampak jelas, bahwa perumahan ini nampak nyaman, tetapi masyarakatnya kurang sosialisasi, karena mempunyai kesibukannya masing-masing.

 

 

 

 

 

 

 

Pada zaman yang globalisasi sekarang ini, banyak sekali anak-anak yang tinggal diperkotaan yang menurut saya hanya membuang-buang waktu saja, seperti anak-anak yang ada di daerah atau wilayah yang saya observasi ini saya menemukan kebiasaan anak-anak yang sering bermain PlayStation (PS). ketika sore dan malam hari, ditempat-tempat penyewaan/rental-rental game ini selalu ramai di penuhi oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang kecanduan dengan PlayStation maupun game online.

 

 

 

 

 

 

 

 

Anak-anak yang tinggal disekitar perumahan “matoa Residence” yang asyik bermain PlayStation (PS).

Gambar: 01                                         Gambar:  02

 

 

 

Ditengah-tengah kehidupan modern ini terutama yang hidup diperkotaan banyak sekali anak-anak yang kurang belajar tentang ilmu keagamaan, maka tidak heran semakin hari semakin banyak anak-anak yang tidak mempunyai moral yang baik, karena tidak adanya asupan pelajaran untuk rohaninya. Salah satunya yaitu ”mengaji atau belajar membaca Al-Qur’an”.  Hidup yang serba modern ini tentu akan menjadi budaya atau kebiasaan-kebiasaan yang berdampak pada penerus-penerus dimasa yang akan datang.

Dari kasus study lapangan ini, setelah saya mempelajari maka Perbedaan yang menonjol antara kehidupan kota dan desa, maka menurut pandangan saya  selain masyarakat kota yang idealis juga terdapat kebiasaan atau aktifitas anak-anak yang berada diperkotaan dengan anak-anak yang tinggal dipedesaan. Misalnya; aktifitas yang biasa dilakukan  oleh anak-anak yang ada didesa berbeda dengan aktifitas anak-anak yang berada dikota.

 

 

 

  1. II.                Kota sebagai (Kumpulan) Manusia :

“Masyarakat Urbanisasi dikomplek Perumahan ”[3]

Masyarakat yang saya observasi ini merupakan masyrakat yang bukan masyarakat asli kota Jakarta, kebanyakan masyarakat yang pindah dari desa ke kota atau yang biasa disebut dengan masyarakat urbanisasi, adapun masyarakat tersebut  berasal dari daerah jawa dan sumatera.

Ketika saya wawancara dengan warga sekitar (penghuni Matoa Residence),mengapa mereka pindah dari desa kekota? menurut alasan mereka pindah dari desa ke kota  adalah karena tuntutan pekerjan, selain karena  tempat tinggal mereka dekat dengan tempat pekerjaannya, juga hidup dijakarta itu sangatlah menjanjikan.

Dengan kata lain, bahwasanya hidup dijakarta itu lebih mudah untuk mendapatkan pekerjaan yaitu  bagi yang mempunyai skill atau kemampuan dan mempunyai pendidikan yang tinggi

Tetapi ketika saya wawancara dengan warga sekitar (bukan penghuni matoa residence) namun masyarakat urbanisasi juga yang bekerja sebagai “sopir angkut (mikrrolet) menurutnya hidup dijakarta itu sangatlah keras, jauh dari  rasa kekeluargaan, dan kurangnya rasa solidaritas. memang benar karena ketika saya lihat pekerjaanya, selain menjadi sopir itu melelahkan karena panas, juga seringnya berebut penumpang antara sopir angkot  yang satu dengan sopir angkot lainnya.

Hal seperti ini sering terjadi antara sopir angkot pendatang (urbanisasi) dengan sopir angkut yang tinggal disekitar (Suburnisasi). Maka tidak semua penafsiran yang hidup dikota itu dapat hidup dengan serba mewah atau hidupnya menjanjikan. Karena tidak semua orang yang hijrah dari desa kekota itu bisa hidup dengan serba kemewahan.

Hidup dikota yang serba modern ini cenderung banyak menarik perhatian masyarakat desa yang ingin pindah ke kota, mulai dari pakaian yang modern, alat-alat elektronik yang canggih, dan hidup yang serba modern lainnya.

 

 

 

 

 

  1. III.             Kota Sebagai Pergerakan Ekonomi

“Pola-pola Pencarian nafkah masyarakat komplek (perumahan)”[4]

Pengertian Kerja adalah orang yang melakukan suatu aktifitas yang mengahasilkan sesuatu yang dilakukanya secara rutin minimal 2 jam dalam seminggu, dan mengahasilkan apa yang menjadi tujuannya tercapai. Pola-pola kerja atau cara masyarakat mencari nafkah dikota banyak sekali macamnya, mulai dari yang bekerja diperusahaan-perusahaan, berwirausaha atau membuka lapangan usaha sendiri, bahkan adapula yang menjadi pengemis atau gelandangan sebagai pekerjaannya.

Ketika saya wawancara dengan warga sekitar yang bernama pak Idang, beliau bekerja dijakarta sebagai mandor atau pengawas di suatu peroyek pembuatan rumah. Saya bertanya kepada beliau factor apa saja yang menyebabkan bapak bisa bekerja dikota, “jika didesa factor yang paling saya rasakan adalah sempitnya lapangan pekerjaan, dan bekerja dikota bisa mendapatkan penghasilan yang lebih, karena ketika saya di desa keahlian saya disana tidak bisa saya gunakan untuk bekerja atau mencari nafkah, karena keahlian saya dulu sebagai tukang  (pembuat bangunan rumah) tidak dapat teraplikasikan, mungkin karena jarangnya masyarakat yang membangun rumah, akhirnya saya pindah kekota dan mendapatkan sebuah pekerjaan yaitu disebuah proyek pembuatan rumah dan akhirnya hingga saat ini saya bisa bekerja di proyek, bahkan sekarang ini saya menjadi mandor (pengawas) diproyek perumahan ini (Jawabnya).

Selain saya wawancara dengan mandornya, saya sempat mewawancarai atau bertanya kepada seorang yang bekerja diproyek itu, ia bekerja sebagai tukang kuli bangunan, menurutnya bekerja sebagai tukang kuli bangunan dikota bayarannya bisa lebih besar daripada bekerja sebagai tukang kuli bangunan di desa, selain itu dia juga ingin mendapat pengalaman dari luar dan mendapatkan teman yang banyak dari luar desanya. Factor yang membawanya bisa bekerja dikota adalah pengaruh teman atau ajakan teman dan ingin mendapatkan penghasilan yang lebih.

Kemudian wawancara saya lanjutkan dengan masyarakat yang tinggal di komplek perumahan, narasumber yang saya wawancarai  adalah seorang wirausaha yang bergelut di  bidang kontaktor, menurutnya pekerjaan yang sedang digelutinya merupakan pekerjaan yang jarang bahkan sulit utuk dilakukan didesa, sehingga menjadikan dia untuk pindah dari desa kekota. Penghasilannya pun cukup lumayan di bandingkan dengan penghasilan didesa, bahkan sekarang banyak sekali wirausaha-wirausaha yang bekerja dibidang yang sama seperti saya (ucapnya).

 

 

  1. IV.             Entrepeneurship dan Ekonomi Masyarakat Kota

“Pengalaman menjadikan sebuah Kemandirian”[5]

Pengertian Wirausaha, wirausaha adalah orang yang bekerja dalam bidang usaha yang diciptakannya atau dapat dikatakan juga sebagai pembuat lapangan kerja atau usaha. Kota merupakan pusat perekonomian, pemerintahan, pendidikan dan lain sebagainya. Dimana beberapa komponen tersebut dapat dijadikan magnet atau daya tarik masyakat yang berada di desa untuk pindah atau urban kekota. Seperti halnya penidikan, kebanyakan orang menginginkan belajar, baik sekolah maupun kuliah yang tempatnya didaerah kota, begitupula ekonomi yang berkaitan dengan wirausaha.

Ketika saya berkunjung untuk melakukan suatu observasi atau penelitian untuk tugas mata kuliah sosiologi perkotaan, disini saya mendapat seorang wirausaha yang lumayan cukup lama tinggal dikota, dan usaha ini merupakan usaha yang kelihatannya lumayan cukup sukses, adapun usahanya tersebut berbasis kreatifitas, yakni usaha dalam pembuatan pintu minimalis, kusen dan furniture lainnya.

Alasan seorang wirausaha yang bergelut dalam bidang ini, menurutnya usaha yang dipilihnya ini merupakan usaha yang pernah ia lakukan ketika ia ikut bekerja dengan orang lain yang menjadi Bossnya. Ketika itu ia bekerja di tempat orang lain yang jarak tempat bekerjanya tidak jauh dari tempat tinggal dikampungnya. Kemudian setelah ia lama bekerja dengan orang lain, ia mempunyai inisiatif untuk membuka usaha yang sama seperti pekerjaanya itu. Tetapi tempat atau lokasinya tidak disekitar kampungnya melainkan dia memilih untuk pindah dari kampungnya, yaitu ia pindah kekota  dan meninggalkan kampungnya.

Hal ini membuat saya bertanya-tanya, kenapa ia memilih untuk pindah kekota dengan rencana ingin membuka usaha yang pernah ia geluti…? Menurutnya ketika ia pindah kesuatu tempat dengan memiliki sebuah bekal yaitu keterampilan atau suatu  kemampuan (Skill), insyaAllah dengan keyakinan yang bulat serta kuat dan kesungguhan, maka usaha itu akan berhasil, walaupun sekarang masih dalam berjalan. Selain itu, alasan ia untuk berhenti dari tempat kerjanya dan membuka usaha sendiri dikota, menurutnya dengan mempunyai usaha sendiri ia tidak akan bekerja dengan penuh setiap harinya, tidak ada yang mengatur dalam kerjanya dalam artian mempunyai keleluasaan atau kebebasan, dengan membuka usaha sendiri ia dapat mempunyai penghasilan yang lebih besar  dan ia juga bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, khususnya orang yang dekat atau tetangga yang ada dikampungya.

Pada saat saya bertanya tentang modal dan pengahasilan yang didapat, ia langsung menjawab dengan penuh semangat dan dibarengi dengan senyuman, ketika pertama kali ia pindah kekota dan membuka usahanya sendiri, ia mempunyai modal sekitar Rp. 20.000.000,- (“Dua Puluh Juta Rupiah”), modal ini ia dapatkan dengan cara meminjam kepada tetangga dan temannya, kemudian ia memulai usahanya dikota, dan menurutnya ketika ia pindah dan membuka usahanya dikota, pada saat itu juga banyak proyek yang menggunakan hasil karyanya, yaitu pintu minimalis, ketika itu banyak sekali proyek-proyek perumahan yang meminta pesanan kepadanya dan akhirnya berlanjut hingga sekarang. Setelah usahanya berjalan dengan lancar, akhirnya ia dapat membayar atau mengembalikan uang yang pernah ia pinjam kepada teman dan tetangganya.

Lama setelah ia menjalankan usaha tersebut kemudian banyak orang yang mengikuti jejak usahanya, secara otomatis lawan atau persaingan dalam usanya tersebut langsung member i dampak pendapatan dalam penghasilan, namun katanya kita harus berfikir optimis dan positif Thinking terhadap lawan atau pesaing dalam usahanya, karena yang namanya usaha atau dalam hal apapun mempunyai pasangan-pasanganya masing-masing, ada untung ada rugi, ada kaya ada miskin, ada laki-laki dan ada juga perempuan. Selain itu menurutnya, hidup ini memang sudah ada yang mengatur, kadang kita sedang dibawah dan kadang juga kita ada diaatas.

Adapun cara pemasaran barang yang diproduksinya itu ialah melalui display atau pemajangan hasil produksinya di pinggir-pinggir jalan yang tepatnya didepan rumah produksinya. Dari hasil penjualan produknya, kini ia bisa menggajih para pegawainya yang sekarang jumlahnya sekitar 3-4 orang. Terakhir seorang wirausaha ini memberikan pesan kepada saya, “jika ingin menjadi seorang wirausaha yang sukses janganlah pernah menyerah, jika kita mau bersaing, bersainglah dengan cara yang sehat, jika menemukan kegagalan, coba dan cobalah hingga mendapatkan keberhasilan”

  1. V.                Kota sebagai Pemerintahan yang Terorganisir

“Kantor Kecamatan Jatisampurna Sebagai Jalur Pemerataan Masyarakat Kota Bekasi”[6]

Definisi Pemerintahan;

Secara etimologis, definisi pemerintahan berasal dari perkataan pemerintah, sedangkan pemerintah berasal dari perkataan perintah. Menurut kamus kata-kata tersebut mempunyai arti : perintah adalah perkataan yang bermaksud menyuruh melakukan sesuatu; pemerintah adalah kekuasaan memerintah sesuatu negara (daerah-negara) atau badan yang tertinggi yang memerintah sesuatu negara (seperti kabinet merupakan suatu pemerintah); pemerintahan adalah perbuatan (cara, hal urusan dan sebagainya) memerintah. (Pamudji, 1983 : 3).

Dari pengertian diatas dapat kita tarik suatu kesimpulan, bahwasanya pemerintahan adalah suatu lembaga yang mempunyai kekuasaan penuh atas apa yang akan mereka perintahkan, atas dasar norma-norma yang sudah ada.

Saat kami melakukan observasi, kami mengajukan beberapa pertanyaan kepada petugas pemerintahan kecamatan Jatisampurna tepatnya di wilayah kota bekasi. Hal yang pertama kami pertanyakan adalah, “mengapa Kantor Pemerintahan atau lembaga pemerintahan banyak di dirikan dikota atau dipusat-pusat keramaian…? Menurutnya, kota adalah tempat yang paling strategis, karena pusat pendidikan, perekonomian, perindustrian dan pemerintahan banyak sekali yang berpusat dititik kota atau daerah perkotaan, namun ketika kota itu sendiri sudah lebih maju, kemungkinan pemerintahan pun akan merambah atau berpindah tempat ke suatu daerah pedesaan atau kepulauan. Perpindahan ini merupakan sebuah tujuan untuk terciptanya suatu pemerataan dalam pembangunan.

Setelah itu kami juga menanyakan kegiatan atau aktifitas yang rutin di lakuakan oleh kantor kecamatan Jatisampuna kota bekasi. Menurtunya, setiap hari sabtu, mereka mengadakan acara bakti social seperti pembersihan lingkungan, dengan tujuan menjadikan kota bekasi sebagai kota bersih.

“Dalam mengupayakan dan menjaga keindahan, kebersihan Jl. Raya Alternatif Cibubur, yang merupakan Akses jalan yang di lalui Presiden SBY, Staf dan Masyarakat bersama melakukan kegiatan Sabtu Bersih (tusih) di Taman yang berada di sepanjang Jalan tersebut “

Selain itu, masyarakat bekasi juga sangat menjujung tinggi seni dan budaya, olehnya mereka atau warga setempat sangat menjaga seni dan budaya tersebut yaitu dengan cara memperkenalkan budaya tersebut kepada para generasi muda, selain itu, mereka juga mengadakan acara lomba pada acara lomba “Kelurahan tingkat Kota bekasi.

 PELESTARIAN SENI DAN BUDAYA 

 

 

 

 

 

 

 

 

Upaya Pelestarian Seni dan Budaya,  Padepokan Pencak Silat yang ada di Kelurahan Jatiranggon  di tampilkan pada acara Lomba Kelurahan Tingkat Kota Bekasi.

 

  1. VI.             Fungsi Kota Sebagai Kehidupan Sosial[7]

Pada temuan mengenai tata ruang publik, telah didapat informasi pada sebuah wilayah perumahan mewah di Jakarta Barat yakni perumahan Green Mansion. Dengan nara sumber yakni kepala keamanan di Green Mansion, Bapak Kasyanto. Yang telah bekerja selama dua tahun di Green Mansion.

 

 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan keterangan Bapak Kasyanto, mengenai perumahan Green Mansion. Perumahan tersebut dibangun sejak tahun 2008. Yang dibangun tepat menghadap jalan kota. Perumahan ini memiliki tiga tipe unit rumah yakni Tipe Spanyol, tipe Boston dan tipe Atlantis. Menurut keterangan bapak tersebut bahwa rumah yang paling mewah adalah tipe Boston.

Adapun Jumlah dari keseluruhan rumah tersebut mencapai 493 unit rumah, di atas tanah kurang lebih 12 hektar. Namun yang baru dihuni atau ditempati adalah sebanyak 99 rumah. Dengan fasilitas yang ada yaitu kolam renang, taman, mini market “Indomaret”, dan juga danau yang akan diperbaharui, serta rukan (rumah kantor) mewah yang letaknya di luar wilayah perumahan. Fasilitasnya memang masih sedikit, karena di Green Mansion tersebut pun masih ada pembangunan rumah. Yang masih ditawarkan kepada publik, mulai dari 3,7 Milyar. Dari harga sebelumnya yakni 3,6 Milyar. Setiap setengah tahun atau setahun sekali perumahan-perumahan seperti Green Mansion pasti naik harga jual rumahnya. Hal tersebut disesuaikan dengan harga bahan baku dalam pembangunan rumah-rumah tersebut. Karena mempengaruhi upah para pekerja bangunannya juga.

Dengan fasilitas yang sudah ada, ternyata tidak terlalu mempengaruhi aktivitas para penghuninya. Karena para penghuni yang sudah ada lebih cenderung menghabiskan waktunya diluar rumah, terutama pada hari-hari kerja. Dan pada hari libur pun, ternyata hanya sedikit sekali penghuni yang menghabiskan waktunya di rumahnya dengan menikmati fasilitas yang ada.

Untuk sistem keamanannya pun sangat ketat. Pintu masuk terdiri dari 2 pos penjaga, yakni pintu kiri dan pintu kanan. Dengan personil keamanan berjumlah 48 personil. Sistem keamanan yang berlaku adalah untuk para penghuni atau pemilik rumah yaitu saat keluar diberi kartu tanda pengenal, disebutkan nama kluster rumahnya , plat nomor kendaraan pun dicatat tak lupa pula keamanan diperumahan ini juga dilengkapi dengan kamera CCTV. Berlaku pula untuk para pekerja di perumahan itu. Yakni jika para pembantu rumah tangga ingin keluar rumah, harus ada izin dari sang majikan melalui telepon di pos keamanan, harus disebutkan maksud dari keperluannya. Dan tidak sembarang orang bisa masuk untuk bertemu dengan para penghuni perumahan tersebut, sekalipun orang yang berkunjung adalah sanak saudaranya. Penjagaan masuk dan keluar dengan 2 sistem, yakni pos penjaga sebelah kanan dibuka dari pukul 07.00-09.00 WIB. Sedangkan pos penjaga sebelah kiri dibuka 24 jam. Jumlah pos penjagaan pun terdiri dari 5 pos, dimulai dari pintu masuk dengan 2 pos dan di dalamnya terdapat 3 pos.

Pemilik resmi pembangunan perumahan Green Mansion adalah Bapak A Kwan. Seorang berkewarganegaraan China, yang sekarang tinggal di kawasan Pantai Indah Kapuk. Bapak Kwan bekerjasama dengan Agung Sedayu Group dalam pembangunan kawasan Green Masion tersebut. Dan bukan hanya perumahan Green Mansion saja yang sudah menjadi proyek perumahan miliknya. Termasuk diantaranya yakni Ancol Mansion, Kembangan Mansion, Cibubur City, dan masih ada beberapa lagi yang lainnya.

 

Nara Sumber

 

 

Sebagai Nara Sumber kami di lapangan, yaitu Bapak Kasyanto. Beliau berasal dari Yogyakarta. Sudah berada di kota Jakarta selama 20 tahun. Bekerja menjadi kepala keamanan di perumahan Green Mansion sudah 2 tahun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. VII.          Mall dan Pusat Perbelanjaan sebagai Ruang Publik :

“Fasilitas Menjadi Pilihan Masyarakat Kota Kelas Atas”[8]

Mall atau Pusat Perbelanjaan merupakan tempat bertemunya atau tempat terjadinya transaksi jual beli antara konsumen dengan produsen, dimana suatu terjadinya transaksi dilakukan atas dasar persetujuan antara kedua belah pihak, dengan kata lain terjadinya suatu transaksi jual beli atas dasar rela sama rela atau tidak berdasarkan paksaan.

Selain itu, Mall merupakan tempat atau ruang publik yang sekarang ini banyak dikunjungi oleh banyak orang, entah tujuannya itu untuk kegiatan jual beli (Transaksi), atau hanya sekedar untuk mencari hiburan semata. Mengapa Mall banyak sekali dikunjungi oleh banyak orang? Selain ruang atau tempat yang begitu bagus, modern serta bersih, mall juga banyak menyajikan atau menyediakan fasilitas yang begitu banyak sehingga menjadi pilihan orang-orang banyak (Masyarakat Kota “High Class”).

Saat observasi, kami berusaha untuk mendapatkan informasi dari para pengunjung atau konsumen yang datang ke Cilandak Town Square, ketika itu kami mengajukan atau melontarkan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka yang bersedia untuk diwawancarai, adapun orang yang kami wawancarai itu adalah seorang pria yang sedang santai menunggu temannya. Pertanyaan yang pertama kali kami ajukan adalah, mengapa masyarakat kota kelas atas lebih memilih pergi berbelanja ke Mall atau Pusat perbelanjaan dibandingkan dengan pergi berbelanja kepasar tradisional?

Menurut persepsinya, masyarakat kota sekarang lebih memilih Mall sebagai tempat tujuan untuk berbelanja karena, selain fasilitas yang terdapat di Mall itu sangatlah banyak, terdapat hal lain yang dapat menarik para pengunjung, yakni masalah Price atau harga barang-barang yang dijual oleh para  produsen sangatlah bagus, dilihat dari kwalitas serta kwantitasnya. Menurutnya harga barang disini sangat sesuai dengan kwalitas barang yang ditawarkan, berbeda dengan dipasar-pasar tradisional, barang yang ditawarkan belum tentu berkwalitas baik. Terkadang kebanyakan harga suatu barang dipasar-pasar tidak ditunjukan oleh seorang penjual.

Selain harga yang menjadi pengaruh bagi pengunjung yang mengujungi mall tersebut, kebersihan terkadang juga menjadi pusat perhatian bagi para pengunjung pasar, dipasar kebanyakan tempat dan suasananya jauh dari kebersihan, terkadang orang malas untuk pergi berbelanja kepasar karena banyak alasan seperti, tempatnya becek dan kotor, bau yang tidak sedap, kumuh, rawan pencopetan atau jambret, serta masih banyak yang lainnya.

Namun, persepsi yang telah mereka sampaikan merupakan jawaban yang relatif, karena tidak semua orang akan pergi ke Mall dikarenaka di perkotaan merupakan masyarakat yang penuh dengan ketimpangan, ketika orang yang tidak mempunyai penghasilan yang lebih, besar kemungkinan orang tersebut tidak suka untuk berbelanja ke Mall, mereka lebih memilih untuk berbelanja ke pusat perbelanjaan atau pasar tradisional.

Pertanyaan pun kami lanjutkan dengan mempertanyakan kepada mereka mengenai dampak negatif dan positif keberadaan Mall yang sekarang banyak menjamur disudut-sudut kota. Apakah dengan keberadaan Mall yang begitu banyak sekarang ini akan berdampak pada pasar tradisional yang ada, misalnya saja, mereka akan gulung tikar atau bangkrut karena konsumennya beralih untuk berbelanja ke Mall-mall…?

Menurutnya kemungkinan “iya”, dan kemunginan “tidak”, karena dalam masyarakat terdapat kehidupan yang tidak sama atau hidupnya tidak setara. Mengapa demikian, karena kebanyakan orang yang mempunyai harta atau pengahasilan yang banyak ia enggan untuk pergi kepasar trasional, dan sebaliknya bagi orang yang mempunyai harta atau penghasilan yang cukup ia akan tetap berbelanja kepasar tradisional.

Dari segi keamanan dan kebersihan, mereka yang termasuk kedalam orang-orang yang high Class atau kelas atas. Menurut mereka juga bila berbelanja di Mall keamanannya juga sangat terjaga beda sekali dengan saat berbelanja di pasar tradisional yang keamanannya dijaga oleh orang yang tidak seharusnya menjaga tempat itu atau bisa dibilang tukang parkir dadakan. Dan dari segi kebersihan jelas saja Mall lebih terjaga kebersihannya dikarnakan memang Mall tersebut memperkerjakan orang untuk bekerja membersihkan tempat itu, sedangkan dipasar tidak ada.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

Analisis Kasus

Dari pembahasan yang telah dipaparkan diatas, bahwa menurut pandangan saya ketika saya obeservasi dan akhirnya saya menulis laporan hasil observasi tersebut, saya menemukan banyak kasus yakni, banyaknya  kesenjangan atau ketimpangan social. Dimana banyak sekali masyarakat yang tinggal atau hidup dikota yang serba berkecukupan dan adapula yang serba kekurangan.

Dengan kata lain, mereka yang hidup berkecukupan adalah mereka yang mempunyai rumah serta fasilitas yang mewah, sedangkan masyarakat kota yang kurang beruntung ia hidup serba kekurangan. Hal ini menurut saya masuk kedalam beberapa teori yang di kontribusikan oleh para Tokoh klasik sosiologi seperti  diantaranya yaitu August Comte (1789-1857),Max Webber (1864-1920), Karl Marx (1818-1883) dan lain seagainya.

Beberapa hasil observasi yang telah saya paparkan diatas, saya mengambil Tiga teori dalam sosiologi utama yaitu yang pertama; teori perspektif fungsionalis, yakni menjelaskan bahwa bagaimana masyarakat melaksanakan fungsi-fungsi yangharus dilakukan. Misalnya, untuk menjaga keteraturan sosial, bagaimana masyarakat menyediakan makanan setiap harinya bagi setiap orang yang ada didalamnya (melalui institusi ekonomi; pasar, warung, pertokoan serta penjual keliling), bagaimana masyarakat menjaga dirinya dari serangan musuh (melalui institusi keamanan; TNI, Polisi maupun satpam), bagaimana masyarakat bisa terus menghasilkan generasi-generasi pelanjut (melalui institusi pendidikan) dan lain sebagainya (Zanden, 1988;29, Persell, 1987;13).

Jika fungsi-fungsi tersebut berjalan dengan baik, maka masyarakatnya bisa dikatakan telah berintegrasi dengan baik (Well Integrated) dan memiliki keseimbangan (Equilibrium). Tetapi dengan seiring berjalannya waktu, masyarakat akan mengalami perubahan sosial yang dipicu oleh gejolak sosial, kerusuhan, pertikaian atau pada level yang lebih ekstrim, revolusi radikal. Jika hal ini terjadi, maka masyarakat akan kehilangan fungsi-fungsi strukturnya. Yang ada, masyarakat menjadi lemah integrasinya karena strukturnya mengalami “dysfungsional” (Ibid).

Kedua; Perspektif teori konflik berakar pada penjelasan Marx dan Simmel, menurutnya, dimasa modern ini sebab terjadinya konflk itu seiring dengan munculnya kapitalisme. Pada masa kapitalisme ini, eksploitasi dan dominasi terjadi dimana-mana. Marx menunjuk bentuk konkrit ekploitasi dan dominasi ada pada perilaku kapitalis yang menekan pekerja untuk bekerja 12 jam selama 6 hari dalam satu minggu dimasa-masa awal munculnya kapitalisme. Marx yakin bahwa konflik kelas antara kelompok borjuis dan kelompok ploretar pada gilirannya nanti akan bisa merusak atau minimal membuat perubahan besar pada kapitalisme. Meski analisanya pada kapitalisme, tetapi Marx sampai pada kesimpulan bahwa masyarakat manapun yang membagi orang-orang kedalam kelas yang berbeda-beda, maka selamanya ia akan melahirkan konflik.

Teori Marx ini menjadi inti bagi perspektif teori konflik. Namun begitu, orang-orang mengkritik Marx karena terlalu menekankan sisi ekonomi, sebagai penyebab konflik. Bukankah tidak semua konflik muncul karena adanya ketidak adilan ekonomi, seperti yang dilancarkan oleh gerakan lingkungan dan gerakan perempuan? (Korn Blum, 2000. 20).

Selanjutnya kalangan sosiologi mempelajari peranan konflik dalam perubahan  sosial dan menemukan alternarif teori konflik yang dijelaskan oleh George Simmel (1858-1918). Sosiolog tersebut berpendapat bahwa konflik diperlukan untuk membentuk sebuah aliansi. Menurutnya, konflik bisa menjadi salah satu alat untuk membangun jaringan afiliasi kelompok. Berubah-ubahnya aliansi dalam jaringan ini bisa membantu menjelaskan siapa saja kelompok yang terlibat dan seberapa besar power yang bisa ia dapatkan.

Ketiga; Perspektif Interaksionisme, teori ini memandang keteraturan sosial dan perubahan sosial merupakan hasil dari berbagai interaksi diantaranya individu dan kelompok yang terjadi secara berulang-ulang. Adanya keluarga, perusahaan, pendidikan, organisasi, masyarakat dan apa saja bentuk sosial lainnya, adalah hubungan antar personal yang terjalin melalui komunikasi, proses take and give, kebersamaan bahkan persaingan. Apa jadinya jika tidak ada interaksi antar manusia, tidak ada pertukaran barang, informasi cinta dan sebagainya, mungkin tidak adanya kehidupan.

Singkatnya, perspektif interaksionisme selalu menanyakan secara cermat bagaimana individu itu berinteraksi, bagaimana mereka menginterpretasikan tindakan dirinya dan orang lain, apa akibat tindakannya itu bagi kelompok lain yang lebih besar (Korn Blum). Selanjutnya perspektif ini memiliki dua aliran utama, yakni pilihan rasional dan interaksionisme simbolik. Yang satu membahas isu-isu mengenai pertukaran dan pilihan: bagaimana keteraturan sosial akan bisa tetap stabil jika orang-orang lebih mementingkan motivasi pribadinya?. Yang kedua mengangkat isu tentang bagaimana sebenarnya orang-orang mengkomunikasikan nilai-nilai mereka dan bagaimana mereka bisa sampai pada tahapan saling memahami satu sama lain (Mutual understanding).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab IV

Epilog dan kesimpulan

Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang hidup dan tinggal pada suatu tempat yang berkelompok yang berorganisasi dan mempunyai kebiasaan-kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan yang sama dalam persatuan.

Masyarakat kota adalah masyarakat yang rasa solidaritasnya kurang atau hidupnya hanya mementingkan dirinya sendiri (individual), dan masyarakat kota ini kehidupan keagamaannya kurang dibandingkan dengan masyarakat desa. Sedangkan masyarakat desa adalah masyarakat yang rasa persaudaraannya sangat kuat, karena seringnya berinteraksi dan berkumpul antara satu dengan yang lainnya.

Masyarakat kota cenderung hidup dengan idealisme atau kurang sosialisasi maupun interaksi antara sesama, mereka hidup dengan kesibukan pekerjaanya masing-masing, adapun jenis pekerjaannyapun bersifat heterogen. Maka dengan kesibukan aktifitas tersebut menjadi sebab bahwa masyarakat kota kurang untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Kota Jakarta merupakan kota pusat pemerintahan, perindustrian dan kota pusat untuk orang yang pindah dari desa kekota atau melakukan urbanisasi. Banyaknya masyarakat yang pindah dari desa ke kota merupakan hal yang sudah menjadi kebiasaan atau menjadi budaya. Hal ini disebabkan karena banyaknya factor yang menyebabkan bahwa masyarakat itu harus pindah dari desa kekota, mulai dari karena tuntutan pekerjaan, gaya hidup dan sebagainya.

Namun kebanyakan orang yang pindah dari desa ke kota itu disebabkan karena pola fikir mereka yang salah, yaitu mereka berfikiran bahwa agar hidupnya menjadi lebih baik dan mendapatkan pekerjaan yang enak. Padahal jika orang tersebut tidak mempunyai skill atau pendidikan yang  tinggi tidak mungkin mereka akan mendapatkan pekerjaan yang baik “Enak”.

Banyak masyarakat yang hidup di kota menyebabkan banyaknya penumpukan penghuni didalam kota, dengan demikian kota mengalami banyak peningkatan, entah itu dari konsumsi, produksi, ekonomi, pendidikan serta Agamapun menjadi banyak ragamnya. Selain hal tersebut banyak juga akibat dari penumpukan masyarakat dikota, yakni kota menjadi sumpek, jalanan menjadi macet, dan kemiskinan meluas.

Jika menurut saya, seharusnya pemerataan terhadap akses yang dilakukan pihak pemerintah tidak seharusnya selalu dilakukan di pusat kota, melainkan didaerah-daerah perkampungan atau pedesaan, meskipun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Memang sekarang-sekarang ini, pembangunan pabrik atau industri dan perumahan sudah merambah ke daerah-daerah, tetapi masih banyak orang-orang desa yang tetap pergi kekota, entah hal apa yang dapat menarik mereka sehinngga mereka pergi dan bertempat tinggal dikota.

 

 

Daftar Pustaka

  1. Nurdin Amin. 2006. Mengerti Sosiologi “Pengantar untuk Memahami Konsep-konsep Dasar”. Jakarta: UIN Jakarta Press
  2. Robert M. Z, Lawang. 1986. Sosiologi Klasik Modern jilid I. Jakarta: Gramedia

 


[1] Tantan Hermansyah, M.Si (Dosen Sosiologi Perkotaan-Semester III)

[2] Pada pembahasan bab ini, saya melakukan study lapangan disebuah perumahan tepatnya di daerah Ciganjur Jakrta Selatan, yakni di perumahan “Matoa Residence”

[3] Observasi atau Study lapangan ini dilakukan di komplek perumahan “Matoa Residence” Jakkarta Selatan

[4] Study Kasus ini saya lakukan di daerah Jakarta selatan yakni di komplek perumahan Matoa Residence dan sekitarnya.

[5] Observasi atau tugas lapangan ini di lakukan di daerah Ciputat, yaitu di Jl. Kompas daerah kelurahan Jombang, Ciputat-Tangerang Selatan.

 

[6] Observasi ini saya lakukan di kantor Kecamatan Jatisampurna, kota Bekasi – Jawa Barat.

 

[7] Lokasi Observasi, yaitu di Daerah Jakarta Barat yakni perumahan Green Mension

[8] Observasi ini saya lakukan di Mall “CITOS” (Mall Cilandak Town Square), Jl. Cilandak Raya – Jakarta Selatan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s