“Mekanisme Pasar Islami”

Posted: 2 April 2012 in Kumpulan Makalah SM 3

Tugas Perbaikan Makalah

“Mekanisme Pasar Islami”

Dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas pengganti UTS

pada mata kuliah Sistem Ekonomi Islam

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh;

Ahmad Suheri

1110054000037

 

 

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

                                                        2011             

Bab I

Pendahuluan

Sungguh elok kehidupan ekonomi yang diatur secara islami. Bila diterapkan dengan disiplin, tidak akan pernah ada praktek-praktek yang tidak sehat dalam bisnis karena sejak awal Rasulullah SAW telah melarangnya. Beliau tidak menganjurkan campur tangan apapun dalam proses penentuan harga oleh negara ataupun individual, apalagi bila penentuan harga ditempuh dengan cara merusak perdagangan yang fair antara lain melalui penimbunan barang. Diriwayatkan dari Anas, ia mengatakan bahwa harga pernah mendadak naik pada masa Rasulullah SAW., para sahabat mangatakan, Wahai Rasulullah, tentukan harga untuk kita. Beliau menjawab, “Allah itu sesungguhnya adalah penentu harga, penahan, pensurah, serta pemberi rizki. Aku mengharapkan dapat menemui Tuhanku dimana salah seorang dari kalian tidak menuntutku karena kedzaliaman dalam hal darah dan harta.” (at-Tirmidzi,” al-Bayu”, bab 73; dan Sunan Abu Dawud, al-Bayu”, bab 5)

Diriwayatkan dari said al-Mussayab, dari Mu’ammar ibnu Abdullah, dari Rasulullah SAW., bahwasanya belilau bersabda, “Tidak ada yang melakukan penimbunan barang kecuali pembuat kesalahan (dosa).” (Shahih Muslim, “al-Muzara’ah”, hlm. 157,158).

Islam diturunkan ditanah kelahiran yang memiliki kegiatan ekonomi yang tinggi. Bangsa Arab sudah berpengalaman selama tak kurang dari ratusan tahun dalam beraktivitas ekonomi. Jalur perdagangan bangsa Arab ketika itu terbentang dari Yaman sampai kedaerah-daerah mediteranian. Ajaran islam sendiri diwahyukan melalui Nabi Muhammad SAW., seorang yang terlahir dari keluarga pedagang, Muhammad menikah dengan seorang saudagar yakni Siti Khadijah dan beliau melakukan perjalanan bisnis sampai ke syiria (kafilah/caravan). Kemunculan budaya Islam memberikan kontribusi yang sangat besar kepada kemajuan pembangunan ekonomi dan teori  ekonomi itu sendiri. Dalam sejarah ekonomi, Murray Rothhbard memberi catatan bahwa pemahaman yang sudah maju mengenai definisi dan fungsi pasar (Scholastic) di temukan pada bahan kajian akademik para sarjana (School of Salamanca) pada abad keenam belas, dengan sejarah peradaban Yunani kuno sebagai bahan kajian perbandingan. Diperkirakan kajian para sarjana muslim mempengaruhi perkembangan pemikiran disekolah tersebut. Kajian akademik yang berasal dari penerjemahan buku-buku Arab diwariskan kepada peradaban Yunani dan bahkan spanyol (Imad Ahmad: 2002).

Bab II

Pembahasan

 

  1. A.    Mekanisme Pasar Islami

Ibnu Taimiyah memiliki pandangan yang jernih bagaimana dalam sebuah pasar bebas, harga dipertimbangkan oleh kekuatan penawaran dan permintaan. Ia berkata “Naik dan turunnya harga tak selalu berkait dengan kezaliman (Zulm) yang dilakukan seseorang. Sesekali, alasannya adalah adanya kekurangan dalam produksi atau penurunan impor dari barang-barang yang diminta. Jadi, jika membutuhkan peningkatan jumlah barang, sementara kemampuannya menurun, harga dengan sendirinya akan naik. Disisi lain, jika kemampuan penyediaan barang meningkat dan permintaannya menurun, harga akan turun. Kelangkaan dan kelimpahan tak mesti diakibatkan oleh perbuatan seseorang. Bisa saja berkaitan dengan sebab yang tak melibatkan ketidakadilan. Atau, sesekali bisa juga disebabkan ketidakadilan. Maha besar Allah, yang menciptakan kemauan pada hati manusia.

Ibnu Taimiyah mencatat beberapa faktor yang berpengaruh terhadap permintaan dan konsekuensinya terhadap harga:

  1. Keinginan penduduk (al-raghbah) atas jenis yang berbeda-beda dan sesekali berubah-ubah. Perubahan itu sesuai dengan kelimpahruahan atau kelangkaan barang yang diminta (al-matlub). Sebuah barang sangat diinginkan jika persediaannya sangat sedikit ketimbang jika ketersediaannya berlimpah.
  2. Perubahannya juga tergantung pada jumlah para peminta (tullab). Jika jumlah dari orang-orang yang meminta dalam satu jenis barang dagangan banyak, harga akan naik dan terjadi sebaliknya jika jumlah permintaannya kecil.
  3. Itu juga akan berpengaruh atas menguat atau melemahnya tingkat kebutuhan atas barang  karena meluasnya jumlah dan ukuran dari kebutuhan, bagaimanapun besar atau kecilnya. Jika kebutuhan tinggi dan kuat, harga akan naik lebih tinggi ketimbang jika peningkatan kebutuhan itu kecil atau lemah.
  4. Harga jual berubah-ubah, sesuai dengan  (kualitas pelanggan) siapa saja pertukaran barangn itu dilakukan  (al-Mu’awid). Jika ia kaya dan dijamin membayar utang, harga yang rendah bisa diterima darinya, ketimbang yang diterima dari orang lain yang diketahui sedang bangkrut, suka mengulur-ulur pembayaran atau diragunan kemampuan membayarnya.

Dalam konsep ekonomi Islam penentuan harga dilakukan oleh kekuatan pasar yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran. Pertemuan permintaan dan penawaran tersebut haruslah terjadi rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa terpaksa untuk melakukan transaksi pada suatu tingkat harga.

Dalam konsep Islam, monopoli, duopoli, oligopoli, dalam artian hanya ada satu penjual, dua penjual atau beberapa penjual tidak dilarang keberadaanya, selama mereka tidak mengambil keuntungan diatas keuntungan normal yang biasa disebut monopolistic rent.

Islam mengatur agar persaingan di pasar dilakukan dengan adil, setiap usaha yang menimbulkan ketidakadilan dilarang. Praktek yang dilarang antara lain :

  1. Talaqqi Rukban, yaitu pedagang membeli barang penjual sebelum mereka masuk kota.
  2. Mengurangi timbangan.
  3. Menyembunyikan cacat barang.
  4. Menukar kurma kering dengan kurma basah.
  5. Transaksi najasy.
  6. Ihtikar.
  7. Ghaban faa-hisy, yaitu menjual harga barang diatas harga pasar.

 

  1. B.     Islam dan Sistem Pasar

Ajaran islam dengan tegas menolak sejumlah ideology ekonomi yang terkait dengan keagungan private property, kepentingan investor, asceticism (menghindari kehidupan duniawi), economic egalitarianism maupun authoritarianism (ekonomi terpimpin atau paham mematuhi seseorang atau badan secara mutlak).

Oleh sebab itu, sangat utama bagi umat Islam untuk secara kumulatif mencurahkan semua dukungannya kepada ide keberdayaan, kemajuan, dan kecerahan peradaban bisnis dan perdagangan. Islam secara ketat memacu umatnya untuk bergiat dalam aktivitas keuangan dan usaha-usaha yang meninggalkan kesejahteraan ekonomi dan social.

Berdagang adalah aktivitas yang paling umum dilakukan dipasar. Untuk itu teks-teks Al-Qur’an selain memberikan stimulasi imperative untuk berdagang, dilain pihak juga mencerahkan aktifitas tersebut dengan sejumlah rambu atau aturan main yang bisa diterapkan dipasar dalam upaya menegakkan kepentingan semua pihak, baik individu ataupun kelompok.

Konsep Islam menegaskan bahwa pasar harus berdiri diatas prinsip persaingan bebas (perfect competition). Namun demikian bukan berarti kebebasan tersebut berlaku mutlak, akan tetapi kebebasan yang dibungkus oleh frame aturan syariah.

  1. C.    Harga dan Persaingan Sempurna Pada Pasar Islami

Konsep Islam memahami bahwa pasar dapat berperan efektif dalam kehidupan ekonomi bila prinsip persaingan bebas dapat berlaku secara afektif. Pasar tidak mengharapkan adanya intervensi dari pihak manapun, tak terkecuali Negara dengan otoritas penentuan harga atau private sector dengan kegiatan monopolistic ataupun lainnya.

Karena pada dasarnya pasar tidak membutuhkan kekuasaan yang besar untuk menentukan apa yang harus dikonsumsi dan diproduksi. Sebaliknya, biarkan tiap individu dibebaskan untuk memilih sendiri apa yang dibutuhkan dan bagaimana memenuhinya. Inilah pola normal dari pasar atau keteraturan alami dalam istilah Al-Ghazali berkait dengan ilustrasi dari evolusi pasar. Selanjutnya, Adam Smith menyetakan serahkan saja pada invisible hand, dan “dunia akan teratur dengan sendirinya”. Dasar dari keputusan para pelaku ekonomi adalah voluntary, sehingga otoritas dan komando tidak lagi terlalu diperlukan. Biaya untuk mempertahankan otoritas pun diminimalkan.

Dari pemahaman itu, harga sebuah komoditas (barang dan jasa) ditentukan oleh penawaran dan permintaan, perubahan yang terjadi pada harga berlaku juga ditentukan oleh terjadinya perubahan permintaan dan perubahan penawaran. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Annas bahwasanya suatu hari terjadi kenaikan harga yang luar biasa dimasa Rasulullah SAW., maka sahabat meminta nabi untuk menetukan harga pada saat itu, lalu nabi bersabda: Artinya, “Bahwa Allah adalah Dzat yang mencabut dan memberi sesuatu, Dzat yang memberi rezeki dan penentu harga…” (HR. Abu Daud).

Dengan demikian, pemerintah tidak memiliki wewenang untuk meakukan intervensi  terhadap harga pasar dalam kondisi normal. Ibnu Taimiyah mengatakan jika masyarakat melakuka transaksi jual beli dalam kondisi  normal tanpa ada bentuk distorsi atau penganiayaan apapun dan terjadi perubahan harga karena sedikitnya penawaran atau banyaknya permintaan, maka ini merupakan kehendak Allah.[1]

 

  1. D.    Intervensi Pasar

Dalam konsep Islam, cara pengendalian harga ditentukan dengan menilik pada penyebabnya. Bila penyebabnya adalah perubahan murni pada demand dan supply, mekanisme pengendalian dilakukan melalui intervensi pasar, sedangkan bila penyebabnya adalah distorsi terhadap demand dan supply murni, mekanisme pengendalian dilakukan melalui penghilangan distorsi termasuk penentuan intervensi harga untuk mengembalikan harga pada keadaan sebelum distorsi.

Intervensi pasar menjadi sangat penting dalam menjamin ketersediaan barang kebutuhan pokok. Dalam keadaan kekurangan barang kebutuhan pokok, pemerintah dapat memaksa pedagang yang menahan barangnya untuk menjualnya kepasar. bila daya beli masyarakat tengah, pemerintahpun dapat membeli barang kebutuhan pokok tersebut dengan uang dari baitul mal. Untuk selanjutnya enjual dengan tangguh bayar seperti yang telah dilakukan Umar ra. Bila harta yang ada di baitul mal tidak mencukupi, pemerintah dapat meminta si kaya.

Intervensi pasar tidak selalu dilakukan dengan menambah jumlah ketersediaan barang, tetapi juga menjamin kelancaran perdagangan antar kota. Terganggunya jalur perdagangan antar kota akan menyebabkan pasokan barang berkurang atau secara grafis kurva penawaran bergeser ke kiri. Intervensi pemerintah dalam mengatasi terganggunya jalur perdagangan, akan membuat normal kembali pasokan, yang secara grafis digambarkan dengan kurva penawaran yang bergeser ke kanan.

Adapun macam-macam intervensi pasar adalah sebagai berikut : intervensi harga ceiling price, intervensi harga floor price, intervensi harga Islami.

Lebih jauh lagi Ibnu Taimiyah membatasi keabsahan pemerintah dalam menetapkan kebijakan intervensi pada empat situasi dan kondisi berikut:

  1. Kebutuhan masyarakat atau hajat orang banyak akan sebuah komoditas (barang maupun jasa), para fuqaha sepakat bahwa sesuatu yang menjadi hajat orang banyak tidak dapat diperjualbelikan kecuali dengan harga yang sesuai.
  2. Terjadi kasus monopoli (penimbunan), para fuqaha sepakat untuk memberklakukan hak Hajar (ketetapan yang membatasi hak guna dan hak pakai atas kepemilikan barang) oleh pemerintah.
  3. Terjadi keadaan al-hasr (pemboikotan), dimana distribusi barang hanya terkonsntrasi pada satu penjual atau pihak tertentu
  4. Terjadi koalisi antar para penjual, dimana sejumlah pedagang sepakat untuk melakukan transaksi diantara mereka sendiri, dengan harga penjualan yang tentunya di bawah harga pasar.

 

  1. E.     Distorsi Pasar; Perspektif Islam

Dalam konsep Islam, penentuan harga dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pasar, yaitu kekuatan permintaan dan kekuatan penawaran. Pertemuan antara permintaan dan penawaran tersebut harus terjadi rela sama rela, tidak ada pihak yang merasa tertipu atau adanya kekeliruan objek transaksi1 dalam melakukan transaksi barang tertentu (Q) pada tingkat harga tertentu (P). demikian Islam menjamin pasar bebas di mana para pembeli dan para penjual bersaing satu sama lain dengan arus informasi yang berjalan lancar2 dalam kerangka keadilan.

Hal di atas tentunya merupakan situasi ideal. Namun pada kenyataannya, situasi ideal tersebut tidak selalu tercapai, karena seringkali terjadi gangguan/interupsi pada mekanisme pasar yang ideal ini. Gangguan ini kita sebut sebagai distorsi pasar (market distortion). Pada garis besarnya. Ekonomi Islam mengidentifikasi tiga bentuk distorsi pasar sbb :

  • Distorsi penawaran dan permintaan
  • Tadlis (penipuan)
  • Taghrir (dari kata gharar=uncertainty, kerancuan)

Dalam fiqh Islam, distorsi penawaran (false supply) lebih dikenal sebagai ikhtikar, sedangkan distorsi pada permintaan (false demand) dikenal sebagai bai’ najasy. Tadlis (penipuan=unknown to one party) dapat mengambil empat bentuk, yakni penipuan menyangkut jumlah barang (quantity), mutu barang (quality), harga barang (price), dan waktu penyerahan barang (time of delivery). Taghrir (kerancuan, ketidakpastian=unknown to both parties), juga mengambil empat bentuk yang menyangkut kuantitas, kualitas, harga dan waktu penyerahan barang. Tadlis dan taghrir, keduanya disebabkan oleh adanya informasi yang tidak sempurna.

  1. A.  Distorsi Permintaan dan Distorsi Penawaran
  2. Bai’ Najasy

Transaksi najasy diharamkan karena si penjual menyuruh orang lain memuji barangnya atau menawar dengan harga tinggi agar orang lain tertarik pula untuk membeli. Si penawar sendiri tidak bermaksud untuk benar-benar membeli barang tersebut. Ia hanya ingin menipu orang lain yang benar-benar ingin membeli. Sebelumnya orang ini telah mengadakan kesepakatan dengan penjual untuk membeli dengan harga tinggi agar ada pembeli yang sesungguhnya dengan harga yang tinggi pula dengan maksud untuk menipu. Akibatnya terjadi “permintaan palsu” (false demand).

  1. Ikhtikar

Bersumber dari Said bin al-Musayyab dari Ma’mar bin Abdullah al-Adawi bahwa Rasulullah Saw. Bersabda, “tidaklah orang yang melakukan ikhtikar itu kecuali ia berdosa.”ikhtikar ini seringkali diterjemahkan sebagai monopoli dan atau penimbunan. Padahal sebenarnya ikhtikar tidak identik dengan monopoli dan atau penimbunan. Dalam Islam, siapapun boleh berbisnis tanpa peduli apakah dia satu-satunya penjual (monopoli) atau ada penjual lain. Menyimpan stock barang untuk keperluan persediaan pun tidak dilarang dalam Islam. Yang dilarang adalah ikhtikar, yaitu mengambil keuntungan di atas keuntungan normal dengan cara menjual lebih sedikit barang untuk harga yang lebih tinggi, atau istilah ekonominya disebut monopoly’s rent. Jadi dalam Islam, monopoli boleh, sedangkan monopoly’s rent tidak boleh.

Suatu kegiatan masuk ke dalam kategori ikhtikar, apabila komponen-komponen berikut terpenuhi :

  • Mengupayakan adanya kelangkaan barang baik dengan cara menimbun stock atau mengenakan entry-barriers.
  • Menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga sebelum munculnya kelangkaan.
  • Mengambil keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan keuntungan sebelum komponen 1 dan 2 dilakukan.

 

  1. B.       Tadlis (penipuan)

Kondisi ideal dalam pasar adalah apabila penjual dan pembeli mempunyai informasi yang sama tentang barang yang akan diperjualbelikan. Apabila salah satu pihak tidak mempunyai informasi seperti yang dimiliki oleh pihak lain, maka salah satu pihak akan merasa dirugikan dan terjadi kecurangan/penipuan.

Kitab suci Alquran dengan tegas telah melarang semua transaksi bisnis yang mengandung unsure penipuan dalam segala bentuk terhadap pihak lain.seperti dala surah Al-An’aam: 152 yang artinya: “dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikul beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya”.

Dalam system ekonomi Islam hal ini (ketimpangan informasi tentang barang yang akan diperjualbelikan) juga dilarang karena dengan adanya informasi yang tidak sama antara kedua belah pihak, maka unsure “an Tarradin Minkum” (rela sama rela) dilanggar.

Beberapa macam Tadlis:

  1. Tadlis kuantitas

Tadlis (penipuan) kuantitas termasuk juga kegiatan menjual barang kuatitas sedikit dengan harga barang kuatitas banyak

  1. Tadlis kualitas

Termasuk dalam Tadlis kualitas adalah menyembunyikan cacat atau kualitas barang yang buruk yang tidak sesuai dengan yang disepakati oleh penjual dan pembeli.

  1. Tadlis harga

Tadlis harga ini termasuk menjual barang dengan harga yang lebih tinggi atau lebih rendah dari harga pasar karena ketidaktahuan pembeli atau penjual. Dalam fiqh disebut ghaban.

  1. Tadlis waktu penyerahan

Seperti tadlis (penipuan) kuantitas, kualitas, harga, tadlis waktu penyerahan juga dilarang. Yang termasuk penipuan jenis ini misalnya si penjual tahu persis ia tidak akan dapat menyerahkan barang pada besok hari, namun menjanjikan akan menyerahkan barang tersebut pada besok hari.

 

 

 

 

 

 

  1. C.       Taghrir (ketidakpastian kedua belah pihak)

Taghrir berasal dari kata bahasa Arab gharar, yang berarti akibat, bencana, bahaya, resiko, ketidakpastian, dan sebagainya. Sebagai istilah dalam fiqh mu’amalah taghrir berarti melakukan sesuatu secara membabi buta tanpa pengetahuan yang mencukupi; atau mengambil resiko sendiri dari suatu perbuatan yang mengandung resiko tanpa mengetahui dengan persis apa akibatnya, atau memasuki kancah resiko tanpa memikirkan konsekuensinya.

Menurut Ibnu Taimiyah, gharar terjadi apabila seseorang tidak tahu apa yang tersimpan bagi dirinya pada akhir suatu kegiatan bisnis atau jual beli. Taghrir maupun tadlis keduanya terjadi karena adanya incomplete information. Bedanya dalam tadlis, incomplete information ini hanya dialami oleh satu pihak saja (unknown to one party, misalnya pembeli saja, atau penjual saja), sedangkan dalam taghrir incomplete information dialami oleh kedua belah pihak (baik pembeli maupun penjual). Karena itu, kasus taghrir terjadi bila ada unsur ketidakpastian yang melibatkan kedua belah pihak (uncertain to both parties).

Adapun Macam-macam taghrir itu adalah:

  1.         1.  Taghrir Kuantitas (sistem ijon)
  2.         2.  Taghrir Kualitas (anak sapi masih dalam kandungan induknya)
  3.         3.  Taghrir pada Harga (Harga kredit dan tunai)

4. Taghrir pada Waktu Penyerahan (jual beli barang hilang)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

Penutup

       Dalam Konsep Ekonomi Islam penetuan harga dilakukan oleh kekuatan pasar yaitu kekuatan permintaan dan penawaran. Pertemuan permintaan dengan penawaran tersebut haruslah terjadi secara relasama rela, tidak pihak yang merasa untuk melakukan transaksi pada suatu tingkat harga.

Keadaan rela sama rela merupakan kebalikan dari keadaan aniaya yaitu mana kala salah satu pihak senang diatas kesedihan pihak lain. Dalam hal harga , para ahli fiqh merumuskannya sebagai The Price of the equivalen (haraga padan). Konsep harga padan ini mempunyai implikasi penting dalam ilmu ekonomi, yaitu keadaan pasar yang kompetitif.

Dalam konsep Islam, monopoli, duopoly, oligopoly dalam artian hanya ada satu penjual, dua pennjual, atau beberapa penjual tidak dilarang keberadaannya selama mereka tidak mengambil keuntungan diatas keuntungan normal. Ini merupakan konsekuensi dari konsep harga padan.

Pada garis besarnya ekonomi islami mengidentifikasi tiga bentuk distorsi pasar : distorsi penawaran dan distorsi permintaan, tadlis (penipuan), taghrir (ketidak pastian).

  1. 1.    Distorsi Penawaran dan Distorsi Permintaan:

(1) Bai al-Najasy

(2) Ihtikar

Suatu kegiatan masuk dalam kategori ikhtikar apabila memenuhi komponen sebagai berikut :

  1. Mengupayakan adanya kelangkaan barang.
  2. Menjual dengan harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga sebelumnya  muncul kelangkaan.
  3. Mengambil keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan keuntunagn sebelum komponen 1 dan 2.
  4. 2.    Tadlis (Penipuan)
  5. Tadlis Kuantitas (per kontainer)
  6. Tadlis Kualitas (komputer Pentium 3)
  7. Tadlis pada Harga (harga taxi)
  8. Tadlis pada Waktu Penyerahan (pesanan spanduk)
  9. 3.    Taghrir (Ketidakpastian)
  10. Taghrir Kuantitas (sistem ijon)
  11. Taghrir Kualitas (anak sapi masih dalam kandungan induknya)
  12. Taghrir pada Harga (Harga kredit dan tunai)
  13. Taghrir pada Waktu Penyerahan (jual beli barang hilang)

Daftar Pustaka

  1. Karim, Adiwarman. 2002. Ekonomi Mikro Islami. Jakarta: IIIT Indonesia.
  2. Nasution, Mustofa Edwin. 2006. Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam. Jakarta: Kencana perdana Media.
  3. A. Islahi, A. 1997. Konsepsi Ekonomi Ibnu Taimiyah. Surabaya: PT. Bina Ilmu
  4. Najetullah Siddiqi, Muhammad. 1991. Kegiatan Ekonomi dalam Islam. Jakarta: Bumi Aksara
  5. Aswar Karim, Adiwarman. 2001. Ekonomi Islam Suatu Kajian Kontemporer. Jakarta: Gemar Insani


[1] Atiyah As-Sayyid Fayyadhi : 1997

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s