“Masyarakat Individualistik diperumahan Minimalis”

Posted: 2 April 2012 in Kumpulan Makalah SM 3

Tugas Proposal

Masyarakat Individualistik diperumahan Minimalis

Dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas pengganti UAS

                   pada mata kuliah Metodologi Peneletian Kwalitatif

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh;

Ahmad Suheri

1110054000037

 

 

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2012

BAB I

Pendahuluan

  1. Latar Belakang Masalah

Masyarakat adalah sekumpulan atau kelompok manusia yang saling berhubungan atau berinteraksi yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterikatan antara yang satu dengan yang lain untuk mencapai tujuan bersama (Koentjara Ningrat).

Masyarakat ialah tempat untuk kita bisa melihat dengan jelas proyeksi individu sebagai input bagi keluarga, keluarga sebagai tempat terprosesnya, dan masyarakat adalah tempat kita melihat hasil (output) dari proyeksi tersebut.

Definisi Masyarakat diatas memang benar adanya, namun hal ini tidaklah sesuai dengan masyarakat yang saya jumpai saat observasi untuk tugas mata kuliah sosiologi perkotaan, masyarakat yang saya jumpai ini merupakan masyarakat yang Individualistik yang tinggal di perumahan “Matoa Residence” yang beralamat di Jl. Timbul Raya kelurahan Jagakarsa-Jakarta Selatan.[1]

Hampir semua penghuni atau orang-orang diperumahan ini jarang berinteraksi bahkan tidak sama sekali, mungkin karena masyarakat disini mempunyai kesibukan yang luar biasa, bisa kita bayangkan, pagi hari mereka pergi untuk bekerja dan pulang pada malam hari, maka sangatlah tidak mungkin jika mereka dalam keadaan lelah meluangkan waktunya untuk “ngobrol”atau interaksi dengan tetangganya pada malam hari.

Disini saya melihat perbedaan yang begitu menonjol, jika saya bandingkan antara masyarakat desa dengan masyarakat kota, bahwa masyarakat kota cenderung hidup dengan sendiri-sendiri (individual), berbeda dengan masyarakat desa.

  1. Rumusan Masalah

Melihat latar belakang yang telah diuraikan diatas, terdapat banyak permasalahan yang harus dikaji kembali secara luas. Berkenaan dengan latar belakang permasalahan diatas, saya merumuskan masalah dalam hal sebagai berikut:

  1. Apa sebab-sebab mereka yang hidup di perumahan minimalis menjadi masyarakat yang individualistik?
  2. Bagaimana kehidupan Masyarakat yang Individualistik ini terbentuk?
  3. Apakah sikap masyarakat ini sama ketika berada dilingkungan luar?           
  4. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan serta manfaat dari penelitian ini adalah untuk dapat mengetahui hal-hal sebagai berikut:

  1. Mengetahui kehidupan Masyarakat yang hidup dalam  atau  tinggal diperumahan Komplek
  2. Mengetahui sebab dan akibat Masyarakat yang hidup secara Individualistik

Adapun manfaat dari penelitian ini sendiri bagi penulis adalah:

  1. Memberikan tambahan ilmu pengetahuan dan menambah wawasan bagi penyusun mengenai hal-hal yang mengenai kehidupan inividualistik
  2. Membuka wawasan tentang konsep hidup individualistik ini.
  3. Metode Penelitian

Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Objek atau subjek study;
    1. Objek (Rumah sebagai study penelitian), yaitu perumahan Matoa Residence, perumahan ini merupakan perumahan yang tergolong baru, dimana perumahan ini merupakan rumah type minimalis.
    2. Subjek (Masyarakat sebagai study penelitian), disini masyarakat/penghuni rumah tersebut ialah masyarakat yang aktif dalam kesehariannya.
    3. Waktu dan Tempat Study

Adapun waktu dan tempat study yang saya lakukan adalah hari rabu tanggal 05 Oktober 2011 yang bertempat di perumahan Matoa Residence Jl. Timbul Raya. Jagakarsa jakarta selatan.

  1. Penggalian Data

Data yang saya dapat ini merupakan hasil dari pengamatan pengambilan gambar (untuk Sampel) dan wawan cara dengan petugas penjaga atau security perumahan setempat. Adapun wawancara ini dilakukan secara terbuka.

 

BAB II

Pembahasan atau Landasan Teoritis

 

  1. Definisi Kota

Menurut Prof. Drs. R. Bintarto Kota adalah suatu sistem jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang heterogen, dan corak kehidupan yang materialistik.

Sedangkan Kota menurut Wirth adalah suatu pemilihan yang cukup besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya.

Menurut warga sekitar Kota dalah tempat keramaian dan pusat aktifitas dalam perekonomian, adapun orang-orangnya kurang solidaritas dan cenderung hidup dengan idealisme.[2] Adapun perbedaan antara kota dan desa itu sendiri dilihat dari lapangan pekerjaannya, adalah “dikota mau kerja apa aja ada, makannya lebih gampang nyari kerja dikota, karena kota adalah pusat perekonomian”tuturnya.

Maka dari semua definisi diatas dapat disimpulkan bahwasanya kota adalah suatu tempat atau wilayah yang ditempati atau dihuni oleh sekumpulan orang-orang/masyarakat yang bebeda-beda (Heterogen) baik dari sisi adat istiadat, ekonomi/materi, agama dan lain sebagainya.

  1. Ekologi Urban

Lingkungan Kota

Seperti definisi kebanyakan orang, kota merupakan tempat dimana orang yang tinggal di pusat keramaian, penuh kebisingan, modern dan sebagainya. Tak jarang jalan dikota ini hampir setiap hari terkena macet, karena banyaknya masyarakat yang beraktifitas atau melakukan kegiatan diluar tempat tinggalnya, sehingga kendaraan saling bertemu antara kendaraan dari kota yang lain dengan kota yang saya kaji.

                                                      BAB III      

Deskripsi Kota (tempat Tinggal)

 

 Adapun tempat tinggal atau huniannya terbilang nyaman, dan jauh dari kebisingan.  Seperti gambar di bawah ini:

 

 

 

 

 

 

Disini jelas, bahwa perumahan ini nampak nyaman, tetapi masyarakatnya kurang sosialisasi, karena mempunyai kesibukannya masing-masing.

 

Pada zaman yang globalisasi sekarang ini, banyak sekali anak-anak yang tinggal diperkotaan yang menurut saya hanya membuang-buang waktu saja, seperti anak-anak yang ada di daerah atau wilayah yang saya observasi ini saya menemukan kebiasaan anak-anak yang sering bermain PlayStation (PS). ketika sore dan malam hari, ditempat-tempat penyewaan/rental-rental game ini selalu ramai di penuhi oleh anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang kecanduan dengan game online.

 

 

 

 

Gambar: 01                                         Gambar:  02

 

Anak-anak yang tinggal disekitar perumahan “matoa Residence” yang asyik bermain PlayStation (PS)

Ditengah-tengah kehidupan modern ini terutama yang hidup diperkotaan banyak sekali anak-anak yang kurang belajar tentang ilmu keagamaan, maka tidak heran semakin hari semakin banyak anak-anak yang tidak mempunyai moral yang baik, karena tidak adanya asupan pelajaran untuk rohaninya. Salah satunya yaitu ”mengaji/belajar membaca Al-Qur’an”.  Hidup yang serba modern ini tentu akan menjadi budaya atau kebiasaan-kebiasaan yang berdampak pada penerus-penerus dimasa yang akan datang.

Setelah saya pelajari maka Perbedaan yang menonjol antara kehidupan kota dan desa yang telah saya sebutkan di atas (pendahuluan), maka selain masyarakat kota yang idealis juga terdapat kebiasaan atau aktifitas anak-anak yang berada diperkotaan dengan anak-anak yang tinggal dipedesaan. Misalnya; aktifitas yang biasa dilakukan  oleh anak-anak yang ada didesa adalah mengaji jika sore atau malam hari.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

Penutup atau Kesimpulan

 

Masyarakat kota cenderung hidup dengan sifat individualistik atau kurang sosialisasi maupun interaksi antara sesama, mereka hidup dengan kesibukan pekerjaanya masing-masing, adapun jenis pekerjaannyapun bersifat heterogen. Maka dengan kesibukan aktifitas tersebut menjadi sebab bahwa masyarakat kota kurang untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat.

Berbeda dengan masyarakat yang ada dipedesaan, mereka hidup dengan rasa solidaritas yang tinggi, karena seringnya berintearaksi dengan masyarakat lainnya, adapun jenis pekerjaanya bersifat homogen yaitu bekerja dikebun maupun dipersawahan. Aktifitas anak-anak perkotaanpun lebih diisi dengan alat-alat elektronik/alat-alat canggih yang mungkin jarang ditemukan oleh anak-anak yang tinggal dipedesaan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

  1. Darmansyah. M, lalu Agus Faturrahman, Fadmi Susutiwi, M. Fadzri, ”Ilmu Sosial Dasar Kumpulan Essai)” Surabaya: Usaha Nasional
  2. Margarete. M. Polomo, “Sosiologi kontemporer” Jakarta: Rajawali Persada

 

 

 

 


[1] Study Kasus ini saya lakukan untuk Mata Kuliah Sosiologi Perkotaan

[2] Wahyudin, (Masyakat yang tinggal di Jakarta)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s