Kedermawanan Dalam Islam kajian Terhadap Zakat, Infaq dan Shadaqoh

Posted: 10 Maret 2012 in Kumpulan Makalah SM I

TUGAS MANDIRI AKHLAK TASAWUF

Disusun untuk memenuhi persyaratan Ujian Akhir Semester (UAS)

dalam mata kuliah Akhlak Tasawuf

 

KEDERMAWANAN DALAM ISLAM

KAJIAN TERHADAP ZAKAT, INFAQ DAN SHODAKOH

Di Susun oleh;

Nama                           : Ahmad Suheri

NIM                            : 1110054000037

Fakultas                       : Ilmu Da’wah Dan Komunikasi

Jurusan                        : Pengembangan Masyarakat Islam

Semester                      : I (Satu)

 

 

 

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2010

 

BAB I

Pendahuluan

 

 

Kedermawanan Dalam Islam;

Kajian Terhadap Hakikat Zakat, Infaq dan shadakoh

 

Zakat, infaq dan shadakoh adalah suatu pembuktian kita bahwa kita beriman kepada Allah SWT. oleh karena-Nya kita sebagai orang muslim seakan peduli terhadap sesama muslim yang membutuhkannya. Jika kita melihat dari penggunaan ayat-ayat Al-Qur’an istilah zakat, infaq dan shadakoh, sebetulnya menunjuk kepada satu pengertian yaitu sesuatu yang dikeluarkan. Zakat, infak dan shodakoh memiliki persamaan dalam peranannya memberikan kontribusi yang signifikan dalam pengentasan kemiskinan.

Adapun perbedaannya yaitu, zakat hukumnya wajib sedangkan infaq dan shodakoh hukumnya sunnah. Atau zakat yang dimaksudkan adalah sesuatu yang wajib dikelurkan, sementara infaq dan shadakoh adalah istilah yang digunakan untuk sesuatu yang tidak wajib dikeluarkan. Jadi pengeluaran yang sifatnya sukarela itu disebut infaq dan shadaqoh. Zakat ditentukan nisabnya sedangkan infaq dan shadaqoh tidak memiliki batas, zakat ditentukan siapa saja yang berhak untuk menerimanya, sedangkan infaq boleh diberikan kepada siapa saja.

Perbedaan antara zakat, infaq dan shadakoh dapat dicermati antara lain sebagai berikut:

  1. Zakat itu sifatnya wajib dan ada ketentuannya/batasan jumlah harta yang harus dizakatkan dan siapa saja yang boleh menerimanya
  2. Infaq adalah sumbangan sukarela atau seikhlasnya  (materi)
  3. Shadakoh artinya lebih luas dari infaq, karena yang dishadakohkan tidak terbatas pada materi saja.

 

 

 

 

BAB II

Pembahasan

 

Pengertian Zakat, infaq dan shadakoh

  1. I.                   Zakat

Makna kata zakat dari segi bahasa Arab adalah bersih, suci, berkah, dan berkembang. Yang dimaksud  dengan bersih dan suci dalam istilah zakat ialah membersihkan harta dan membersihkan diri orang kaya dari sifat bakhil dan egois. Adapun pengertian zakat  menurut syari’at adalah mengeluarkan sebagian harta yang diberikan kepada beberapa golongan (ashnaf) yang berhak menerimanya setelah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan oleh syari’at dengan niat beribadah kepada Allah SWT.

Seseorang yang membayar zakat karena keimanannya niscaya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah SWT  berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103 yang artinya “Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (Qs. At-Taubah :103). Zakat juga berarti derma yang telah ditetapkan jenis, jumlah dan waktu suatu kekayaan atau harta yang wajib diserahkan dan pendayagunaannya-pun ditentukan pula, yaitu dari umat Islam untuk umat Islam. Atau zakat adalah nama dari sejumah harta tertentu yang telah mencapai syari’at tertentu (nishabnya) yang diwajibkan Allah SWT. untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula. Ulama Hanafiyah mendefinisikan zakat dengan menjadikan hak milik bagian harta tertentu dan harta tertentu untuk orang tertentu yang telah ditentukan oleh syari’at karena Allah SWT.

Demikian halnya menurut madzhab Imam Syafi’i zakat adalah sebuah ungkapan keluarnya harta atau tubuh sesuai dengan secara khusus. Sedangkan menurut madzhab Imam Hambali zakat ialah hak yang wajib dikeluarkan dari harta yang khusus untuk yang khusus pula, yaitu kelompok yang disyaratkan dalam Al-Qur’an.[1]

  1. Macam-macam zakat

Dalam ajaran Islam, zakat dikelompokkan menjadi dua macam, yakni zakat fitrah dan zakat mal (harta). Berikut ini akan dibahas secara lebih detail tentang pengertian dan ketentuan masing-masing dari keduanya:

  1. Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan untuk membersihkan jiwa setiap muslim laki-laki atau perempuan, besar maupun kecil, merdeka atau budak, yang memiliki kelebihan harta diakhir bulan Ramadhan. Adapun syarat bagi seseorang yang wajib mengeluarkan zakat fitrah adalah sebagai berikut:

  1. Islam
  2. Masih hidup sampai pada malam hari raya Idul Fitri atau bagi yang lahir sebelum terbenamnya matahari pada malam Idul Fitri. Batasan untuk  menentukan terkena wajib zakat fitrah adalah ketika seseorang mengalami dua masa; masa akhir Ramadhan dan awal Syawal yang ditandai dengan terbenamnya matahari malam Idul Fitri. Dengan demikian, orang yang meninggal sebelum terbenam matahari atau bayi yang lahir setelah terbenam matahari tidak diwajibkan membayar zakat fitrah.
  3. Memiliki kelebihan makanan bagi diri dan keluarganya pada malam Idul Fitri dan siang harinya.

Setiap orang yang memenuhi syarat diatas wajib mengeluarkan zakat fitrah, baik untuk dirinya atau orang yang menjadi tanggungannya, seperti istri, anak maupun pembantu.

Adapun waktu pembayaran zakat fitrah dapat dilakukan sejak awal Ramadhan, pertengahan, atau akhir Ramadhan sampai menjelang shalat Idul Fitri. Sementara waktu yang afdhol adalah pada akhir Ramadhan setelah terbenam matahari sampai menjelang pelaksanaan shalat Idul Fitri. Pembayaran setelah selesai sholat Idul Fitri tidak sah dan dianggap sebagai Shodakoh Biasa.

Harta atau benda yang dikeluarkan untuk zakat fitrah adalah makanan pokok yang biasa dimakan, misalnya beras, jagung, gandum dan sejenisnya. Zakat fitrah dapat dibayarkan dengan uang seharga makanan pokok lebih memudahkan dan memenuhi kebutuhan fakir miskin. Jumlah harta yang wajib dibayarkan untuk setiap jiwa sebesar 1 sha’ yang setara dengan 3,5 liter atau 2,5 kg.

  1. Zakat Mal (Harta)

Zakat Mal atau zakat harta ialah mengeluarkan sebagian harta benda yang menjadi hak milik seseorang sesuai dengan ketentuan syari’at dengan tujuan untuk membersihkan atau menyucikan harta tersebut.

Zakat Mal hanya wajib bagi orang yang berharta (aghniya’), karena didalam harta orang tersebut pada hakikatnya terdapat hak orang-orang fakir miskin.

Ketentuan zakat harta diatur oleh agama, baik berupa jenis harta yang harus dizakati, kadar minimal harta yang wajib dizakati, dan waktu pembayarannya.

Dalam zakat Mal dikenal beberapa istilah yang harus dipahami pertama adalah istilah nishab, yakni batas minimal harta yang dimiliki seseorang dan sekaligus menjadi syarat wajib zakat. Kedua adalh istilah Haul, yaitu batas waktu kepemilikannya harta seseorang.

Pada dasarnya, semua harta yang dimiliki seseorang wajib dizakati, harta tersebut meliputi:

  1. Emas, perak, dan uang
  2. harta  perniagaan
  3. hasil pertanian
  4. hewan ternak (hasil peternakan)
  5. hasil tambang
  6. barang temuan

Berikut ini akan dijelaskan “Nishab” dan ”Haul” masing-masing jenis harta yang wajib untuk dizakati :

1). Emas , perak dan uang

Sejarah telah membuktikan bahwa emas dan perak merupakan logam berharga. Kedua jenis logam ini memiliki kegunaan yang sangat besar dan telah dijadikan sebagai uang dan alat tukar sejak beberapa kurun waktu yang lalu. Oleh sebab itulah syariat memandang emas dan perak sebagai jenis kekayaan yang memiliki nilai lebih dan mengibaratkannya sebagai suatu kekayaan alam yang hidup. Syariat mewajibkan zakat untuk kedua jenis benda tersebut jika memang berbentuk uang atau leburan logam, atau yang berbentuk bejana, souvenir, maupun ukiran. Sementara apabila dipergunakan untuk perhiasan kaum hawa (perempuan) tidak termasuk dalam harta yang wajib dikeluarkan zakatnya.

Batas minimal nishab untuk logam emas sebanyak 20 mitsqol atau setara dengan 93,6 gram. Sedangkan nishab untuk logam perak sebanyak 200 dirham atau setara dengan 624 gram. Adapun haul untuk jenis emas dan perak sama-sama waktunya yaitu setelah dimiliki selama setahun. Apabila emas dan perak telah memenuhi syarat nishab dan haul, maka kadar zakat yang dikeluarkan adalah 2,5% dari jumlah emas atau perak yang dimilikinya. Mengenai zakat mata uang, baik berupa uang atau deposito, maka nishab dan haulnya disamakan dengan nishab emas atau perak dan dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5%.

Sebagian pendapat mewajibkan pegawai yang memiliki gaji tetap mencapai nilai emas 93,6 gram dalam setahun maka wajib untuk mengeluarkan zakat. Cara pembayaran zakat tersebut dapat dikeluarkan setiap bulan sebesar 2,5% dari gajinya yang diterima atau dikumpulkan dahulu sampai satu tahun. Zakat inilah yang dewasa ini dikenal dengan istilah zakat profesi.

2). Zakat harta perniagaan (Tijarah)

Semua jenis perniagaan tersebut wajib dikeluarkan zakatnya, adapun nishab zakat  harta perniagaan sama dengan nishab emas, yaitu seharga emas 93,6 gram dan haulnya juga selama setahun. Kadar zakat yang dibayarkan sebesar 2,5% dari seluruh harta perniagaan tersebut. Namun yang perlu diketahui, hitungan nishab harta perniagaan setelah dikurangi dengan jumlah utang-utang yang menjadi tanggungan sipedagang. Jika ternyata setelah dikurangi beban utang jumlahnya tidak sampai dengan nishab emas, maka pedagang tersebut tidak wajib mengeluarkan zakat.

3). Zakat hasil pertanian (Zira’ah)

Hasil pertanian atau perkebunan berupa biji-bijian, seperti padi, jagung, gandum, dan tanaman sejenis atau buah-buahan seperti kurma dan anggur wajib dizakati jika mencapai nishab. Zakat untuk hasil pertanian tidak memerlukan haul. Nishab untuk zakat hasil pertanian adalah 5 wasaq (7 Kwintal) pada biji-bijian yang sudah bersih dari kulitnya atau 10 wasaq (14 kwintal) bila masih berkulit. Adapun bandingan 1 wasaq  setara dengan 60 sha’. Sementara 1 sha’ sama dengan 3,1 liter.

Zakat hasil pertanian dikeluarkan setiap kali panen dan tidak menunggu haul. Kadar zakat yang dikeluarkan adalah 5% jika pengairan pertaniannya itu dengan menggunakan biaya dan 10% jika pengairan pertaniannya menggunakan system tadah hujan yang tidak memerlukan biaya.

4). Zakat binatang ternak (An’am)

Ternak yang wajib dizakati adalah unta, kerbau, sapi, dan kambing. Namun demikian, hewan ternak lain juga dikenakan kewajiban yang sama jika telah mencapai nihab seharga hewan-hewan tersebut.

Nishab untuk hewan unta adalah 5 ekor, sapi/kerbau 30 ekor, dan kambing 40 ekor. Sedangkan haul untuk hewan-hewan tersebut sama yakni setelah dimiliki selama 1 (satu) tahun. Berikut ini akan disebutkan tabel nishab  untuk hewan ternak yang wajib dizakati.

Nishab Unta

Zakat yang harus dikeluarkan

Umur

5-9

1 ekor kambing

2 tahun lebih

10-14

2 ekor kambing

2 tahun lebih

15-19

3 ekor kambing

2 tahun lebih

20-24

4 ekor kambing

2 tahun lebih

25-35

1 ekor anak unta

1 tahun lebih

36-45

1 ekor anak unta

2 tahun lebih

46-60

1 ekor anak unta

3 tahun lebih

61-75

1 ekor anak unta

4 tahun lebih

76-90

2 ekor anak unta

2 tahun lebih

91-120

2 ekor anak unta

3 tahun lebih

121

2 ekor anak unta

2 tahun lebih

Mulai dari hitungan 121 ekor, untuk setiap 40 ekor zakatnya adalah seekor ,untuk setiap 40 ekor zakatnya adalah seekor anak unta berumur 2 tahun lebih. Setelah itu dihitung setiap 50 ekor zakatnya seekor anak unta berumur 3 tahun.

Nishab Sapi/kerbau

Zakat yang harus dikeluarkan

Umur

30-49

1 ekor anak sapi/seekor kerbau

2 tahun lebih

40-59

1 ekor anak sapi/seekor kerbau

2 tahun lebih

60-69

2 ekor anak sapi/2 seekor kerbau

1 tahun lebih

70

2 ekor anak sapi/2 seekor anak kerbau

2 tahun lebih

Untuk selanjutnya, setiap 30 ekor sapi/kerbau zakat yang harus dikeluarkan seekor anak sapi/kerbau. Kemudian setiap 40 ekor sapi/kerbau zakatnya seeokr sapi/kerbau.

Nishab Kambing

Zakat yang harus dikeluarkan

Umur

40-120

1 ekor kambing betina

2 tahun lebih

121-200

2 ekor kambing betina

2 tahun lebih

201-399

3 ekor kambing betina

2 tahun lebih

400

4 ekor kambing betina

2 tahun lebih

Selanjutnya untuk setiap 100 ekor kambing zakat yang harus dibayar sebanyak seekor kambing biasa yang berumur 2 tahun lebih.

5) Zakat hasil tambang ( Rikaz )

Hasil tambang baik berupa emas, perak, tembaga, dan barang tambang yang lain wajib di keluarkan zakatnya bila mencapai nishab. Nishab untuk zakat tambang di samakan dengan nisab emas, yaitu senilai emas 93,6 gram. Zakat hasil tambang dikeluarkan saat barang itu ditemukan tanpa menuggu haul.

6) Zakat barang temuan ( luqatbab )

Barang temuan ( luqatbab ) yang berbentuk apa pun wajib dikeluarkan zakatnya pada saat ditemukan. Nishab barang temuan disamakan dengan nishab  emas atau perak. Adapun besarnya zakat yang harus dibayarkan adalah 20% dari harta temuan tersebut. Sebagian ulama mengatakan bahwa mendapatkan undian berhadiah termasuk dalam katagori  luqatbab. Oleh karma itu, zakatnya harus dikeluarkan sebanyak 20%.

3.      Mustahik Zakat

Yang dimaksud dengan mustahik zakat adalah orang-orang yang berhak menerima pembagian harta zakat. Menurut ajaran islam, ada delapan golongan ( ashnaf )  yang berhak mendapatkan harta zakat. Kedelapan absnaf tersebut sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT. sebagai berikut,

ﺇﻧﻤﺂﺍﻟﺻﺪﻗﺖﻟﻟﻓﻗﺭﺁﺀﻭﺍﻟﻤﺴﻜﻴﻦﻭﺍﻟﻌﻟﻤﻠﻴﻥﻋﻠﻴﻬﺎﻭﺍﻟﻤﻭﺀﻠﻔﺔﻗﻟﻮﺒﻬﻢﻮﻒﻲﺍﻠﺮﻗﺎﺐﻮﺍﻟﻐﺎﺮﻤﻴﻦﻮﻓﻲﺴﺒﻴﻞﺍﷲﻮﺍﺒﻦﺍﻟﺴﺒﻳﻞۖ ﻓﺮﻳﻀﺔ ﻤﻦﺍﷲﻮﺍﷲﻋﻟﻴﻡ ﺤﻛﻳﻢ                                                                               

 

Artinya : “ Sesungguhnya zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan batinnya (mu’allaf ) untuk (memerdekakan) hamba sahayanya, untuk membebaskan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah; Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana, “ ( QS. At-Taubah/9:60).

Adapun penjelasan masing-masing dari kedelapan ashnaf adalah sebagai berikut;

  1. Fakir, yaitu orang yang tidak memiliki harta dan tidak mempunyai penghasilan tetap untuk memenuhi kebutuhan makan, pakaian, perumuhan pendidikan, kesehatan dan kebutuhan primer lainnya.
  2. Miskin, yaitu orang yang memiliki harta dan penghasilan, namun belum cukup untuk memenuhi minimum bagi dirinya dan keluarga yang menjadi tanggungannya.
  3. Amil, yaitu orang yang melaksanakan segala urusan kegiatan pengumpulan dan pendayagunaan zakat, termasuk administrasi pengelolaan mulai dari merencanakan, mengumpulkan, mencatat, meneliti, menghitung, menyetor dan menyalurkan zakat.
  4. Mualaf,yaitu orang yang perlu diluluhkan hatinya kepada islam (karena baru memeluk agama islam) agar lebih mantap keyakinannya.
  5. Riqab, yaitu pembebasan budak belian atau usaha menghilangkan segala bentuk perbudakan.
  6. Gharim, yaitu orang yang mempunyai utang untuk kemaslahatan dirinya sendiri maupun umat.
  7. Sabilillah, yaitu usaha perorangan atau kelompok yang bertujuan untuk menegakkan kepentingan islam atau kemaslahatan umat.
  8. Ibnu sabil, yaitu orang yang sedang mengadakan perjalanan bukan untuk maksud maksiat dari suatu daerah ke daerah lain dan kehabisan bekal.
  1. 4.      Hubungan Antara Zakat dan Pajak

Secara sepintas, zakat dan pajak akan dipandang sebagai sesuatu yang sama, yakni menyetorka sejumlah harta untuk dibayarkan kepada lembaga tertentu. Ketika zakat diserahkan kepada lembaga yang ditangani oleh amil, maka pajak diberikan kepada pemerintah. Disamping itu, zakat dan pajak sbernarnya memiliki tujuan yang hampir sama, yakni menginginkan terciptanya kesejahteraan umat. Hasil yang dipungut baik dari zakat maupun pajak juga didistribusikan untuk bantuan atau subsidi.

Namun demikian, kedua hal ini memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Zakat merupakan perintah Allah SWT. dan Rasulullah SAW. kapada kaum muslim untuk mengharapkan keridhaan-Nya dengan beberapa ketentuan syari’at, sedangkan pajak merupakan kewajiban warga Negara yang memperoleh penghasilan dan pemungutannya didasarkan pada undang-undang yang dapat dipaksakan.

Dengan disyahkannya Undang-undang nomor 17 tahun 2000 tentang pajak penghasilan, mulai tahun 2001 para pembayar zakat penghasilan (mal) bias menjadikan jumlah zakat yang dibayar sebagai faktor pengurang atas Penghasilan Kena Pajak  (PKP) dari Pajak Peghasilan. Dalam hal ini, secara tidak langsung pemerintah telah menghargai zakat sebagai salah satu kewajiban (rukun) bagi umat Islam.

5.      Hikmah Zakat

Beberapa hikmah disyari’atkannya zakat adalah sebagai berikut.

  1. Membersihkan harta kekayaan dan menyucikan hati sehinggan terhindar dari sifat kikir
  2. Memperoleh keberkahan harta berkat do’a para mustahiq.
  3. Mempertebal keimanan serta ketaqwaan kepada Allah SWT.
  4. Meringankan beban fakir miskin dan mustahiq zakat lainya, sehingga dapat hidup lebih banyak.
  5. Mengurangi kesenjangan sosial atau memperkecil jurang pemisah antara si kaya dengan si miskin.
  6. Mengentaskan kemiskinan.
  7. Membiasakan hidup saling tolong menolong antar sesama.
  8. Terhindar dari tindak kriminal karena hak fakir miskin telah diberikan.
  9. Meningkatkan kesejahteraan umat Islam secara umum dan meningkatkan kualitas dakwah Islamiyah.
  1. II.                 Infak dan shadakoh

Infaq berasal dari kata anfaqa “(ﺍﻧﻔﻖ)” yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan sesuatu. Secara istilah infaq berati mengeluarkan sebagian dari harta atau pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan islam.

Pengertian ini terdapat dalam firman Allah SWT,

ﺒﺴﻢ ﺍﷲ ﻟﺮﺤﻤﻦ ﻠﺮﺤﻴﻢ

ﺇﻦﱠﺍﻠﱠﺬﻴﻦ ﻜﻔﺮﯚﺍﻴﻨﻔﻘﯚﻦ ﺃﻤﻮﺍﻠﻬﻢ ﻠﻴﺼﺪﱡﻮﺃﻋﻦ ﺴﺑﻴﻝ ﺁﷲۚ ﻓﺴﻴﻨﻔﻘﻮﻨﻬﺎ ﺛﻢ ﮅﮑﻮﻥ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺤﺴﺭۃ ًﺛمّ ﻴﻐﻠﺑﻮﻦۗ ﻮاﻠّذﻴﻦﮐﻔﺮﻮاﺇﯽﺠﻬﻨّﻢ ﻴﺤﺸﺮﻮﻦ ﴿ﺍﻸﻨﻔﻞ׃٨׃٣٦﴾

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menginfaqkan harta mereka untuk menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan (terus) menginfaqkan harta itu, kemudian mereka akan menyesal sendiri, dan akhirnya mereka akan dikalahkan. Kedalam neraka jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan. “(Q.S. Al-Anfal /8:36)

Jika zakat ada nishabnya, sedangkan infaq tidak mengenal nishab. Infaq dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman kepada Allah SWT, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, banyak maupun sedikit, dan apakah ia di saat lapang atau sempit. Jika zakat harus diberikan kepada mustahik tertentu (8 ashnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya, untuk kedua orang tua, anak yatim-piatu dan sebagainya.

Infaq adalah pengeluaran harta sukarela yang dilakukuan oleh seseorang, setiap kali ia memperoleh rezeki dan sebanyak yang ia kehendakinya. Allah SWT. memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis harta, dan berapa jumlah yang sebaiknya ia keluarkan  (diserahkan).

Terkait dengan infaq ini Rasulullah SAW bersabda dalam suatu hadist yang diriwayatkan  Buckhori dan Muslim ada malaikat yang senantiasa berdo’a setiap pagi dan sore ; “ Ya Allah SWT berilah orang yang berinfaq, gantinya. Dan berkata yang lain ; “Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infaq, kehancuran”. (HR. Buckhori)

Berinfaq juga menjadi ciri utama orang-orang yang bertaqwa. Karena orang mukmin hanya akan mengharapkan keuntungan yang bersifat abadi, yaitu memperoleh pahala yang berlipat ganda di sisi Allah SWT. hal ini sebagaimana terungkap dalam firman Allah, yang artinya;

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan sholat dan menginfaqkan sebagian rezeki  yang kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Al-baqarah/2:3)

Dalam ayat yang lain juga disebutkan;

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan melaksanakan sholat dan menginfaqakan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (Q.S. Al-Fathir/35:29)

Didalam mengerjakan perbuatan  atau melakukan amal kebajikan hendaklah semuanya itu diniatkan dengan ikhlas karena Allah SWT, agar apa yang dikerjakan serta dilakukan oleh kita dapat bernilai ganjaran pahala disisi Allah SWT, karena semua perbuatan harus berdasarkan pada niatnya terlebih dahulu. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya sahnya perbuatan itu hanyalah dengan niat”.(HR. Muslim). Jika bapak mengeluarkan harta diniatkan shadaqoh maka akan bernilai ibadah shadaqoh yang besar ganjarannya dari Allah SWT. demikian pula jika diniatkan berinfaq akan bernilai pahala infaq. Tentunya hendaklah jika mengerjakan/melakukan sesuatu perbuatan atau amal sholeh terlebih dahulu di mantapkan dengan niat yang manakah amal karikatif (shadaqoh atau infaq) yang di pilih dan akan ditunaikan/dikerjakan.

Shadakoh, disamping anjuran untuk berinfaq dalam islam juga dikenal istilah shadakoh, kata shadaqoh berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang senang bershadaqoh adalah orang yang benar pengakuan imannya. Sebenarnya secara bahasa, pengertian shadaqoh dan infaq tidak terlalu jauh berbeda, yakni memberikan sesuatu kepada orang lain untuk tujuan tertentu. Namun jika dilihat dari aturan tata caranya, terdapat sedikit perbedaan antara keduanya. Menurut para ulama, infak lebih bersifat materi (harta), sementara shadaqoh tidak harus berupa materi.

Adapun secara terminology syariat shadaqoh makna asalnya adalah tahqiqu syai’in bisyai’i, atau menetapkan / menerapkan sesuatu pada sesuatu. Sikapnya suka rela dan tidak terikat pada syarat-syarat tertentu dalam pengeluarannya baik mengenai jumlah, waktu dan kadarnya. Atau pemberian suka rela yang dilakukan oleh seseorang kepada orang lain, terutama kepada orang-orang miskin setiap kesempatan terbuka yang tidak di tentukan baik jenis, jumlah maupun waktunya, shadaqoh tidak tertabas pada pemberian yang bersifat material saja tetapi juga dapat berupa jasa yang dilakukan oleh seseorang dan bermanfaat bagi orang lain. Bahkan senyum yang dilakukan dengan ikhlas untuk menyenangkan orang lain termasuk kategori shadaqoh. Shadaqoh mempunyai banyak cakupan yang sangat luas dan digunakan Al-Qur’an untuk mencakup segala jenis sumbangan.

Shadaqoh berarti memberi derma, termasuk memberikan derma untuk memenuhi hukum dimana kata zakat digunakan didalam Al-Qur’an dan Sunnah. Zakat telah disebut pula shadaqoh karena zakat merupakan sejenis derma yang diwajibkan, sedangkan shadaqoh adalah suka rela, zakat dikumpulkan oleh pemerintah sebagai suatu pungutan wajib, sedangkan shadaqoh lainnya dibayarkan secara suka rela. Jumlah dan nishab zakat ditentukan, sedangkan jumlah shadaqoh yang lainnya sepenuhnya tergantung keinginan yang memberikannya atau yang menyumbangkannya.

Pengertian shadaqoh sama juga dengan pengertian infaq, termasuk hukum dan ketentuan-ketentuanya. Hanya saja shadaqoh mempunyai makna yang lebih luas dibandingkan dengan infaq. Jika infaq berkaitan dengan materi, shadaqoh memiliki arti yang lebih luas menyangkut juga pada hal-hal yang bersifat nonmaterial. Shadaqoh ialah segala bentuk nilai kebajikan yang tidak terikat oleh jumlah, waktu dan juga tidak terbatas pada pada materi tetapi juga terdapat dalam bentuk nonmateri, misalnya menyingkirkan rintangan dijalan, menuntun orang yang buta, memberikan senyuman dan wajah yang manis pada saudaranya, menyalurkan syahwatnya kepada istri dan lain sebagainya. Dan shadaqoh adalah ungkapan kejujuran (shiddiq) iman seseorang.

Hadist riwayat Imam Muslim dari Abu Dzar, Rasulullah menyatakan bahwa “jika tidak mampu beshadaqoh dengan harta, maka membaca tasbih, takbir, tahmid, tahlil, berhubungan suami istri, atau melakukan kegiatan amal ma’ruf nahi munkar adalah suatu perbuatan Shadaqoh juga.

Dalam hadist Rasulullah memberi jawaban kepada orang-orang miskin yang cemburu terhadap orang kaya yang banyak bershadaqoh dengan hartanya, Beliau bersabda “Setiap tasbih adalah Shadaqoh, setiap takbir adalah shadaqoh, setiap tahmid adalah shadaqoh, setiap amarma’ruf adalah shadaqoh, nahi munkar shadaqoh dan menyalurkan syahwatnya kepada istri adalah shadaqoh”. (HR. Muslim).

  1. III.              Pendayagunaan Zakat, Infaq dan Shadaqoh

Upaya pemberdayaan kaum duafadan perbaikan kondisi ekonomi umat merupakan pekerjaan besar yang terprogram secara sistematis dan terstruktur. Upaya ini tentunya memerlukan dukungan penuh berupa komitmen yang serius dan konsisten secara terkoordinasi dari berbagai pihak terhadap upaya tersebut. Hal yang tak kalah penting dalam pemberdayaan ini adalah dukungan yang memadai. Khusus umat islam, mereka sangat potensial untuk mendukung pelaksanaan program tersebut melalui institusi sosial keagamaan yaitu zakat.

Adapun lembaga-lembaga / badan-badan pengelola Zakat konvensional yang ada selama ini perlu dioptimalkan agar lebih fungsional lagi , sehingga kerja-kerjanya bisa mencapai hasil yang maksimal.

Dalam melakukan optimalisasi kerja, Lembaga Amil Zakat (LAZ) hendaknya mempertimbangkan hal sebagai berikut.

  1. Melibatkan tokoh-tokoh terkemuka para ulama yang amal dan berwibawa dikalangan umat
  2. Transformasi manajemen dengan pelatihan yang berdedikasi, tekun cakap, trampil dan profesional dalam menghimpun dana, menyalurkan dan memanfaatkannya
  3. Menata struktur organisasi dan mekanisme kerja badan pengelola, sehingga bisa berjalan fungsional  dan efektif serta laporan publik secara berkala dan teraudit agar memudahkan kontrol dan pemantauan timbal balik untuk menghindari kekhilafan, kealfaan dan fitnah.[2]
    1. Zakat Sebagai solusi Krisis Sosial

Dalam rangka mengatasi krisis sosial, Al-Qur’an menunjukkan banyak cara yang harus ditempuh, diantaranya melalui tiga etos, yaitu; menjadikan kerja dan usaha sbagai kewajiban setiap individu, menjadikan solidaritas sosial sebagai kewajiban masyarakat muslim, dan menetapkan beberapa fungsi dan peranan yang wajib dijalankan pemerintah.

  1. Individu wajib berusaha dan bekerja

Kerja dan usaha merupakan cara utama yang ditekankan oleh kitab suci Al-Qur’an, karena hal inilah yang sejalan dengan nurani manusia, sekaligus juga merupakan kehormatan dan harga dirinya.

  1. Kewajiban solidaritas dan jaminan sosial dalam bentuk zakat dan sedekah wajib

Dalam hal ini Al-Qur’an walaupun menganjurkan sumbangan suka rela dan menekankan keinsafan pribadi, namun dalam beberapa menekankan hak dan kewajiban, baik melalui kewajiban zakat, yang merupakan hak delapan kelompok yang sudah ditetapkan dalam Al-Qu’an maupun melalui sedekah wajib yang merupakan hak bagi yang menerima atau yang tidak, namun membutuhkan bantuan. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”[3]

Hak dan kewajiban tersebut mempunyai kekuatan tersendiri, karena keduanya dapat melahirkan paksaan untuk melaksanakannya. Bukan hanya paksaan dari lubuk hatinya, tetapi juga atas dasar bahwa pemerintah dapat tampil memaksakan pelaksanaan kewajiban tersebut kepada pemilik haknya.

     BAB III

Penutup

 

Zakat, infaq dan shadaqoh adalah merupakan suatu pembuktian keimanan seseorang kepada Allah SWT dan kepada sesama muslim, Seseorang yang membayar zakat karena keimanannya niscaya akan memperoleh kebaikan yang banyak. Allah SWT  berfirman dalam surat At-Taubah ayat 103 yang artinya “Pungutlah zakat dari sebagian kekayaan mereka dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka”.

Zakat terbagi kedalam 2 (dua) bagian yakni; zakat fitrah (jiwa) dan zakat mal (harta) adapun zakat fitrah itu afdholnya dilakukan atau dilaksanakan pada awal bulan Ramadhan, pertengahan bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan tepatnya setelah terbenam mata hari hingga menjelang sholat I’dul fitri, jika pembayaran ataupelaksanaan setelah selesai sholat I’dul Fitri tidak sah dan dianggap sebagai Shodakoh Biasa.

Jika zakat ada nishabnya, sedangkan infaq dan shadaqoh tidak mengenal nishab. Infaq dan shadaqoh dikeluarkan oleh setiap orang yang beriman kepada Allah SWT, baik yang berpenghasilan tinggi maupun rendah, banyak ataupun sedikit, dan apakah ia sedang dalam keadan lapang atau sempit. Jika zakat harus diberikan kepada mustahik tertentu (8 ashnaf), maka infaq boleh diberikan kepada siapapun. Misalnya, untuk kedua orang tua, teman, anak yatim-piatu dan sebagainya.

Infaq adalah pengeluaran harta sukarela yang dilakukuan oleh seseorang, setiap kali ia memperoleh rezeki dan sebanyak yang ia kehendakinya. Allah SWT. memberi kebebasan kepada pemiliknya untuk menentukan jenis harta, dan berapa jumlah yang sebaiknya ia keluarkan  (diserahkan).

Dengan mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqoh sebetulnya kita telah men-sucikan diri dari sifat bakhil dan egois, serta dapat men-sucikan harta kita karena didalam harta kita terdapat haknya orang-orang faqir miskin, selain mengeluarkan zakat kita juga dianjurkan atau disunnahkan untuk memberikan infaq dan shadaqoh pada sesama umat muslim, infaq dan shadaqoh disini tidak terikat dengan materi (harta) saja, tetapi nonmateri.

Berinfaq dan bershadaqoh juga menjadi ciri utama orang-orang yang bertaqwa. Karena orang mukmin hanya akan mengharapkan keuntungan yang bersifat abadi dan kekal di akhirat nanti, yaitu orang mukmin yang berinfak dan bershadaqoh akan memperoleh pahala dan ganjaran yang berlipat ganda yang diberikan oleh Allah SWT. hal ini sebagaimana terungkap dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah, yang artinya;

“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, melaksanakan sholat dan menginfaqkan sebagian rezeki  yang kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Al-baqarah/2:3)

Dalam ayat yang lain juga disebutkan;

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan melaksanakan sholat dan menginfaqakan sebagian rezeki yang kami anugerahkan kepadanya dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.” (Q.S. Al-Fathir/35:29)

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

  1. Masdar F. Mas’udi, Fathurrahman Djamil dkk. REINTERPRETASI PENDAYAGUNAAN ZIS. Jakarta; PIRAMEDIA. 2004
  2. Wawan Djunaedi, “Pendidikan Agama Islam”. Jakarta:  PT. Sakanindo Printama. 2006

[1] Wawan Djunaedi “Pendidikan Agama Islam”  Tahun 2006

[2] Setiawan Budi Utomo, Reinterpretasi ZIS

[3] QS. Al-Dzariyat : 19

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s