Kajian Sholat Khusu’

Posted: 10 Maret 2012 in Kumpulan Makalah SM 2

BAB I

PENDAHULUAN

Memahami Sholat : Ilmu dan Amal (2)

Kajian Sholat Khusu’

Sholat merupakan ibadah yang paling utama, paling mulia, dan paling di cintai oleh Allah SWT. Tetapi apakah sholat hanya di jadikan sebagai rutinitas sehari-hari saja, tanpa adanya pemaknaan dalam sholat itu?

Padahal sholat itu dilakukan/dikerjakan sebagai suatu proses dialog antara makhluk dengan Rabbnya. Sebuah pertemuan yang sangat dirindukan oleh kaum muslimin. Tak heran jika kita melihat seorang muslim yang berderai tangis ketika sedang melaksanakan sholat, karena merasa seakan melihat Rabbnya.

Pun demikian sering kita mencari dan berusaha untuk mencapai sholat khusu’ tetapi jarang atau tidak dapat menemukan kekhusuan, karena sholat kita sering diikuti campur dengan syetan, yaitu adanya rasa gelisah ketika sholat, fikiran kita melayang jauh memikirkan hal keduniaan atau aktivitas kita dalam keseharian.

Tentunya kita akan sangat rugi. Karena dalam proses kegiatan tersebut (shalat) kita bisa meminta tolong sepuasnya, memuji-Nya, mengeluh kepada-Nya, dan mendapatkan ampunan serta bimbingan-Nya.

Dan dalam makalah ini kami mencoba untuk memahami lebih lanjut merasakan kembali shalat kita yang “hilang”. Dan mencoba mengerti serta menikmati perjalanan rohani maknawi melalui liku-liku makalah atau tulisan yang terkandung dalam gerakan-gerakan shalat kita, sebagai sebuah aplikasi teknis dari khusu’.[1]

BAB   I I

PEMBAHASAN

 

      SEBUAH PENGERTIAN

Secara etimologis shalat adalah do’a, sedangkan menurut terminologis shalat adalah suatu bentuk ibadah mahdhoh, yang terdiri dari gerak dan ucapan yang diawali dengan takbir dan di akhiri dengan salam. Shalat merupakan tata cara mengingat Allah secara khusus, di samping akan menghindarkan pelakunya dari berbagai perbuatan tercela, shalat juga bisa menjadikan kehidupan lebih tentram.

ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7ø‹s9Î) šÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ

 “ Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu alkitab (Al-qur’an) dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar…..” { QS. Al-ankabut:45.}

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ’ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ɋÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ɋÎ/ «!$# ’ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah…..” { QS. Ar-rad:28}

      DASAR HUKUM

Dasar perintah untuk menjalankan atau mendirikan ibadah Shalat salah satunya terdapat pada firman Allah SWT. Shalat juga ibadah yang diwajibkan untuk manifestasi keimanan seseorang, bahkan ibadah Shalat juga dijadikan sebagai sebuah indicator orang yang bertakwa dan merupakan syarat sahnya diterima iman seseorang.

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada Ku”. {QS. Al-Dzariyat:56}

tûïÏ%©!$# tbqãZÏB÷sムÍ=ø‹tóø9$$Î/ tbqãK‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# $®ÿÊEur öNßg»uZø%y—u‘ tbqà)ÏÿZムÇÌÈ

Yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugrahkan kepada mereka” { QS. Al-baqoroh:3}.

Shalat, ibadah shalat ini jika di bandingkan dengan ibadah-ibadah lainnya merupakan ibadah yang pertama kalinya di perintahkan, shalat juga merupakan wasiat nabi yang terakhir kepada umatnya, shalat juga merupakan tiang agama yang semuanya sudah mengerti. Shalat, seperti halnya kewajiban-kewajiban agama lainnya, merupakan perintah yang diwajibkan kepada setiap muslim yang telah mukalaf, yaitu setiap mereka yang sudah dewasa dan berakal sehat.

TUJUAN SHALAT

Adapun tujuan dari Shalat itu sendiri ialah:

  1. Untuk mengingat Allah SWT.

Shalat merupakan ibadah yang diwajibkan kepada manusia agar ia selalu ingat kepada Allah SWT. dimanapun dan dalam keadaan apapun.

tA$s% Éb>u‘ @yèô_$# þ’Ík< Zptƒ#uä ( tA$s% y7çGtƒ#uä žwr& zOÏk=x6è? }¨$¨Y9$# spsW»n=rO BQ$­ƒr& žwÎ) #Y“øBu‘ 3 ä.øŒ$#ur y7­/§‘ #ZŽÏWŸ2 ôxÎm7y™ur ÄcÓÅ´yèø9$$Î/ ̍»x6ö/M}$#ur ÇÍÊÈ

… dan sebutlah nama Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbilah di waktu petang dan siang hari” {QS. Ali-Imron: 41}

  1. Untuk Mencegah Manusia dari Perbuatan Keji dan Munkar

Shalat adalah ibadah yang di wajibkan untuk mencegah manusia dari perbuatan tercela dan jahat.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Ankabut ayat 45,

ã@ø?$# !$tB zÓÇrré& y7ø‹s9Î) šÆÏB É=»tGÅ3ø9$# ÉOÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# ( žcÎ) no4qn=¢Á9$# 4‘sS÷Zs? ÇÆtã Ïä!$t±ósxÿø9$# ̍s3ZßJø9$#ur 3 ãø.Ï%s!ur «!$# çŽt9ò2r& 3 ª!$#ur ÞOn=÷ètƒ $tB tbqãèoYóÁs? ÇÍÎÈ

Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat iu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan” {QS. Al-ankabut:45}

  1. Sebagai Kafarat atas dosa-dosa yang telah dilakukannya.

Dalam haditsnya, Rasulullah  SAW. menegaskan bahwa shalat merupakan kafarat penebus atas dosa-dosa yang telah di perbuat dimasa lalu.

إن ألصلوات ألخمس كفارة لما بينهن ما جتنبت الكبا ٮر

Sesungguhnya shalat yang lima waktu itu merupakan kafarat (penebus dosa-dosa)yang dilakukan antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya, kecuali atas dosa-dosa yang besar ” {HR. Muslim}.

  1. Cara untuk Mengadu kepada Allah SWT.

Dengan ibadah shalat juga merupakan cara untuk mengadukan kekurangan kita kepada Allah SWT.

(#qãZŠÏètFó™$#ur Ύö9¢Á9$$Î/ Ío4qn=¢Á9$#ur 4 $pk¨XÎ)ur îouŽÎ7s3s9 žwÎ) ’n?tã tûüÏèϱ»sƒø:$# ÇÍÎÈ

 Jadikanlah sabar dan Shalat sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk ” {QS. Al-baqarah:45}

  1. Sebagai tata cara untuk mengingat Allah  SWT. secara Khusus

Shalat merupakan tata cara mengingat Allah secara khusus agar hidup tentram.

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä ’ûÈõuKôÜs?ur Oßgç/qè=è% ̍ø.ɋÎ/ «!$# 3 Ÿwr& ̍ò2ɋÎ/ «!$# ’ûÈõyJôÜs? Ü>qè=à)ø9$# ÇËÑÈ

Ingatlah. Hanya mengingat Allah lah hati menjadi tentram ” {Ar-rad:28}

  1. Disiplin Waktu

Shalat merupakan ibadah yang telah di tetapkan waktu-waktunya, sehingga untuk itu setiap Mukmin wajib memeliharanya.

#sŒÎ*sù ÞOçFøŠŸÒs% no4qn=¢Á9$# (#rãà2øŒ$$sù ©!$# $VJ»uŠÏ% #YŠqãèè%ur 4’n?tãur öNà6Î/qãZã_ 4 #sŒÎ*sù öNçGYtRù’yJôÛ$# (#qßJŠÏ%r’sù no4qn=¢Á9$# 4 ¨bÎ) no4qn=¢Á9$# ôMtR%x. ’n?t㠚úüÏZÏB÷sßJø9$# $Y7»tFÏ. $Y?qè%öq¨B ÇÊÉÌÈ

Sesungguhnya shalat itu fardhu yang ditentukan waktu-waktunya atas orang-orang yang beriman ” {QS. An-nisa:103}

  1. Untuk diperintahkan pula kepada keluarga

Firman-Nya:

مرواصيا بكم بالصلأ ة لسبع سنين. واضربواعليها لعشرسنين وفرقو ا بينهم فى المضا جع

 “ Dan perintahlahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu, dan akibat yang baik itu adalah bagi orang yang bertakwa ” {HR. Akhmad dan Abu Daud}

  1. Untuk Menyelamatkan Manusia dari siksa Api Neraka

Orang yang menyia-nyiakan shalat hidupnya akan sesat dan di akhirat kelak akan mendapat ahzab yang menyakitkan.

* y#n=sƒmú .`ÏB öNÏdω÷èt/ ì#ù=yz (#qãã$|Êr& no4qn=¢Á9$# (#qãèt7¨?$#ur ÏNºuqpk¤¶9$# ( t$öq|¡sù tböqs)ù=tƒ $†‹xî ÇÎÒÈ

Maka datanglah sesudah mereka, penganut (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat, dan memperturtkan hawa nafsunya. Maka mereka akan menemui sebuah kesesatan ” {QS.Maryam:59}[2]

      TATA CARA SHALAT DAN BACAAN SHALAT

  1. 1.      Takbiratul Ihram

Shalat diawali dengan takbiratul ihrom yaitu dengan mengucapkan “Allahu Akbar” adalah upaya untuk menghadirkan keMaha Besaran Allah, merasakan keagungan Allah, dan mengecilkan semua hal-hal selain –Nya. Karena memang lebih besar dari yang besar, dari yang besar, serta lebih besar dari setiap pemilik kekuasaan dan kekuatan.

Agar dapat khusu’ ketika takbiratul ihram, maka angkatlah kedua tangan sejajar dengan kedua bahu, atau kedua daun telinga, dan arah kedua telapak tangan lurus ke kiblat denagn merapatkan jari-jemari seiring dengan perasaan bahwa kita sedang berada pada kondisi tunduk secara mutlak kepada Allah SWT. Seperti yang telah di contohkan oleh Rosulallah SAW.

Sewaktu bertakbir (Takbiratul Ihram), nabi Muhammad SAW. Mengangkat kedua tangannya dengan membuka jari-jemari lurus ke atas, tidak menggenggamnya dan tidak pula merengganggkannya. Terkadang beliau juga mengangkat kedua tangan seperti itu pada setiap gerak naik atau turun di dalam shalat.

كا ن رسول الله ص م ٳذا قا م ٳلى الصلاة رفع يد يه مدا

Jika melakukan shalat , Rasulallah mengangkat kedua tangannya denngan merenggangkan jari-jemarinya” {HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i}

Dan sewaktu berdiri (kecuali setelah rukuk). Nabi Muhammad meletakkan telapak tangan kanan di atas punggung telapak tangan kiri dan lengan bawah kiri, tetapi juga terkadang menggenggamkan jari-jari tangan kanan pada lengan bawah kiri. Dan beliau menempatkan kedua tangan (bersedekap) di dada (antara pusar dan tetek). [3] Yang di terangkan dalam hadits

ثم وضع يده اليمن على ظهر كفه اليسرى والسغ والسا عد

“ … Lalu, beliau meletakkan tangan kanannya pada punggung pergelangan tangan kirinya, menutupi pergelangan dan lengan (kiri )nya.” {HR. Abu Daud yang di sahihkan Ibnu Khuzaimah}.

Ketika mengangkat kedua belah tangan, bersihkan diri kita dari segala perasaan merasa memiliki berbagai kekayaan dunia dan gemerlapnya. Yakinlah kita sedang berdiri tegak di hadapan Allah SWT. Bila sudah tercipta kondisi seperti itu ketika takbiratul ikhrom, maka rasa khusu’ Insya Allah akan memenuhi hati dan rasa patuh yang utuh akan mengendalikan seluruh anggota badan, sehingga ketika hati bertakbir, seluruh anggota tubuh juga serempak mengatakan bahwa “ Tiada Maha Agung dan Maha Besar kecuali Allah SWT. ”

Sesungguhnya Takbiratul ihram “Allahu Akbar” adalah pendekatan terbesar bagi sebuah jiwa pada kebebasan, keberanian, karena ia merasakan Robbnya Maha Besar dari semua yang besar, Maha Agung dari semua yang agung, Raja dari segala raja, semua makhluk akan datang kepada-Nya sebagai hamba pada hari kiamat. Seorang hamba jika mengucapkan “Allahu Akbar” atau bertakbiratul ihram dan ketika iftitah, hendaklah ingatannya pada Allah dalam hatinya lebih besar dan agung dari pada ingatan selain-Nya. hal itu ditunjukkan sebagai penghormatan dan pengagungan-Nya.

Do’a Iftitah (QS. An-am : 79, 162-163)

öqs9ur $uZø9¨“tR y7ø‹n=tã $Y7»tFÏ. ’Îû <¨$sÛöÏ% çnqÝ¡yJn=sù öNÍk‰Ï‰÷ƒr’Î/ tA$s)s9 tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ÷bÎ) !#x‹»yd žwÎ) ֍ósř ×ûüÎ7•B ÇÐÈ ö@è% ¨bÎ) ’ÎAŸx|¹ ’Å5Ý¡èSur y“$u‹øtxCur †ÎA$yJtBur ¬! Éb>u‘ tûüÏHs>»yèø9$# ÇÊÏËÈ Ÿw y7ƒÎŽŸ° ¼çms9 ( y7Ï9ºx‹Î/ur ßNöÏBé& O$tRr&ur ãA¨rr& tûüÏHÍ>ó¡çRùQ$# ÇÊÏÌÈ

 

Yang artinya : “ Sesungguhnya diriku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan  langit dan bumi dengan cendrung agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, Katakanlah: ‘sesungguhnya sembahyang ku, ibadat ku, dan mati ku, hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama meyerahkan diri (kepada Allah)

Dengan tahmid, tasbih, dan memuliakan-Nya, seorang hamba membuka pintu munajat dengan do’a ini dan memulai shalatnya. Hal yang membuat dahi berkerut ialah kebanyakan orang yang shalat, khususnya pada zaman kemunduran dan kehinaan yang menimpa kaum muslimin sekarang ini, banyak orang yang tidak mengetahui sedikitpun do’a iftitah.[4]

Setelah takbiratul ihram mereka langsung membaca Al-Fatihah. Mereka tidak menyadari bahwa semua ritual shalat adalah pujian, pemuliaan tasbih. Mereka tidak memahami bahwa pujian, pemuliaan, dan tasbih adalah tumpuk dari mahabbah (kecintaan), serta puncak shalat dan ibadah, dimana untuk beribadahlah kita datang kebumi.

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbr߉ç7÷èu‹Ï9 ÇÎÏÈ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” {QS. Adz-Dzariyat: 56}.

Rasulullah SAW. bersabda, “Maka, aku diilhamkan bacaan pujian yang tidak aku mampui sekarang, maka aku memuji-Nya dengan bacaan pujian itu, kemudian aku bersimpuh sujud.”  Kemudian, (ada suara) yang berkata kepada beliau, “Angkatlah kepalamu, mintalah, kami akan memberi. Mintalah pertolongan (syafaat), kami akan memberinya.”

Ta’awwudz dan Membaca Al-fatihah

Membaca Ta’awwudz merupakan benteng atau tameng antara orang yang meminta perlindungan dan hal yang diusirnya. Adapun ta’awwudz yang dimaksud disini adalah berlindung dari segala sumber kejahatan yang bertebaran dibumi Allah, yaitu berindung dari godaan syaitan yang terkutuk. Surah Al-fatihah dalam shalat diwajibkan pada setiap rakaat, baik dalam setiap shalat fardhu maupun shalat sunnah lainnya, karena Al-fatihah merupakan rukun dalam shalat, yang berlaku pada shalat sendiri (munfarid) maupun shalat jamaah, menjadi imam maupun makmum.

Bacaan Al-fatihah merupakan Umm Al-qur’an yang di awali dengan Basmalah. Dan membaca Basmallah dengan dibaca lirih.

صليث خلف رسول الله ص م وخلف ٲبى بكر وعمر وعثما ن وكا نوا لايجهرون ببسم الله الرحمن الحيم

Aku salat di belakang Rosulallah., juga dibelakang Abu BAkar, Umar, dan Usman, mereka mereka tidak mengeraskan bacaan ‘Bismi’llahi I-Rahmani I-Rahim’” {HR. Nasai, Ibnu Hibban, dan Thahawi}.

Ruku’

Ruku’ ialah membungkukkan badan sebagai tanda kepasrahan dengan posisi punggung rata dengan kuduk, sementara kedua tangan menahannya dengan memegang kedua lutut. Gerakkan ini di awali dengan mengangkat kedua tangan sepert ketika takbiratul Ihram sambil membaca ‘Allahu akbar’.[5]

Dan adapun bacaan ketika ruku’ ialah:

سبحا ن ربي العظيم وبحمده

Yang artinya: maha suci Allah yang Maha Agung, serta memujilah aku kepada-Nya.

Sewaktu ruku’ Rosulallah meletakkan kedua telapak tangan pada kedua lutut. Seolah-olah menggenggam kedua lutut. Beliau merengganggangkan jari-jari tangannya[6]. Kemudian, pada setiap perubahan gerak (intiqal), dari berdiri menuju ruku’ harus dilakukan dengan thuma’ninah (tenang). Dengan demikian pada setiap perubahan posisi yang di sertai takbir intiqal (takbir karena perubahan posisi). Harus dilakukan secara Thuma’ninah  juga.

Iktidal

Iktidal ialah gerakkan yang bangkit dari ruku’ sambil mengangkat kedua tangan sampai sebatas bahu hingga posisi badan tegak lurus, dan seraya membaca

سمع الله لمن حمده

Yang artinya:  semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya.

kemudian di ikuti bacaan

ربنا لك الحمد مل ء السمواث ومل ء الارض ومل ء ما شٮت من شيى بعد

Yang artinya : Ya Allah tuhan kami bagi-Mu segala puji, sepenuh langit dan bumi, dan sepenuh barang yang Kau kehendaki sesudah itu”.[7]

Dan Nabi SAW mengkhususkan dalam sabdanya: “ Allah tidak melihat shalat seorang hamba yang tidak tegak tulang belakangnya saat antara ruku’ saat antara ruku’ dan sujudnya (I’tidal). (HR. Akhmad, At-Tirmidzi, dan Abu Daud. Lafal menurut riwayat Akhmad). Barang siapa yang melalaikan rukun ini maka shalatnya tidak dianggap, dan bahkan tidak dilihat oleh Allah.

Dan Nabi SAWmengkhususkan dalam sabdanya: “ Allah tidak melihat shalat seorang hamba yang tidak tegak tulang belakangnya saat antara ruku’ dan sujudnya (I’tidal)” ( HR. Akhmad, At-Tirmidzi, dan

Sujud

Sewaktu bergerak turun untuk bersujud, Rosulallah bertumpu pada kedua telapak tangan, dan tangannya dibeberkannya, dan merapatkan jari-jarinya. Dan saat sujud, beliau menekankan kedua telapak kaki ketanah, serta menghadapkan punggung kedua kaki dan ujung-ujung jari kaki kearah kiblat, merapatkan kedua tumit, dan menegakkan kedua telapak kaki. Beliau terbiasa menekuk jari-jari kaki (kearah kiblat)

Dan bacaan saat sujud:

سبحا ن ربي الا على وبحمده

Yang artinya : “ Maha Suci Tuhan Maha Tinggi, serta memujilah aku kepada-Nya”

Tiada pemandangan yang lebih agung, lebih khusuk, dan lebih indah dalam shalat selain dari sujud. Posisi terdekat seorang hamba dari Rabb-nya adalah ketika dia dalam posisi sujud sebagaimana yang telah dinyatakan oleh Rosulallah SAW. Yang sejalan dengan firman Allah:

ô‰ßÚó™$#ur >ΎtIø%$#ur ) ÇÊÒÈ

:dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Rabb-mu)” (Al-alaq, 19)

Pemandangan dan rukun ini salah satu tujuan yang dicapai oleh seorang hamba dalam shalatnya setelah berdiri dan ruku’. Oleh karena itu, didalam sujud disunnahkan memperbanyak doa yang pasti akan dikabulkan. Allah SWT, memilih pemandangan dan posisi ini diantara yang lain sebagai ekspresi yang jujur bagi ketundukkan dan kerendahan seorang hamba kepada Allah SWT.

Duduk antara dua sujud

Saat melakukan sikap ini Rosulallah membentangkan kedua telapak kaki kiri, kemudian duduk di atas telapak kaki kiri dengan tenang atau thuma’ninah. Beliau menegakkan telapak kaki kanan dan menghadapkan jari-jari kaki kanan ke kiblat, dan terkadang beliau duduk dengan menegakkan telapak dan tumit kedua kaki.[8]

Dan dalam posisi duduk antara dua sujud membaca:

رب ٳغفرلى وارحمنى واجبرنى وارفعنى وارزقنى واهدنى وعا فنى واعف عنى

Yang artinya : “Ya Allah, ampunilah dosaku, belaskasihanilah aku dan cukupkanlah segala kekurangan dan angnkatlah derajat kami dan berilah rizqi kepadaku, dan berilah aku petunjuk dan berilah ampunan kepadaku”.

Posisi duduk diantara dua sujud ini disebut dengan iftrasy, yaitu pantat menduduki telapak kaki kiri, sedangkan kaki menahannya dengan posisi ujung jari-jarinya di hadapkan ke arah kiblat.[9] Hal ini adalah rukun yang dijadikan untuk menyampaikan hasrat, permintaan maaf, ampunan, dan rahmat. Karena seorang hamba ketika telah menyelasaikan rukun berdiri, memuji, memuliakan, lalu dia tunduk, mensucikan dan mengagungkan Allah, serta dilanjutkan dengan memuji dan menyempurnakan dengan penuh kehinaan, ketundukan, dan kerendaha, maka tinggalah baginya untuk meminta hajat, permohonan maaf, dan permintaan ampunan dari dosa. Hal ini tercermin dalam bacaan posisi ini.

Untuk itu, ia diharuskan untuk menghadap dan duduk layaknya seorang hamba hina yang duduk dengan bersimpuh diatas kedua lututnya, seperti seorang yang menghadap kepada tuannya dengan berharap cemas, sambil minta maaf pada tuhannya.

Tahiyat

Tahiyat adalah menyatakan penghormatan kepada Allah atau Tasyahhud membaca syahadat,  yang di lakukan ketika duduk pada rakaat kedua dan rakaat terakhir setelah sujud yang dilakukan secara Thuma’ninah. Dan ketika Rosulallah duduk Tawarruk, yaitu pantat kiri menempel ke tanah berada pada satu sisi (yaitu sisi kanan), dan menjadikan kaki kiri berada di bawah paha dan betis (kaki kanan). Dan Rosulallah menegakkan telapak kaki kanan, tetapi terkadang menghamparkannya.

Adapun bacaan saat Tahiyat adalah:

ٲلتحيا ت المبا ركا ت الصلوات الطيبا ت لله. السلأم عليك أيهاا لنبي ورحمة الله وبركا ته. السلا م علينا وعلى عبا د الله الصا لحين. أشهدان لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله. اللهم صل على سيد نا محمد.

Didalam duduk yang penuh keberkahan ini, dipanjatkanlah sebaik-baik ucapan penghormatan (At-tahiyyah)  yang jauh lebih baik dari ucapan penghormatan dari makhluk pada makhluk jika bertemu atau mengunjunginya.

Dan ketika pada posisi tahiyat akhir, posisinya pun hampir sama dengan posisi tahiyat pertama. Dan bacaannya pun hampir sama pula dan adapun bacaan tahiyat akhir adalah sebagai berikut:

ٲلتحيا ت المبا ركا ت الصلوات الطيبا ت لله. السلأم عليك أيهاا لنبي ورحمة الله وبركا ته. السلا م علينا وعلى عبا د الله الصا لحين. أشهدان لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله. اللهم صل على سيد نا محمد وعلى الى سيدنا محمد كما صليت على سيدنا إبراهيم, وعلى ألى سيدنا إبراهيم, وبا رك على سيدنا محمد وعلى ألى سيدنا محمد كما باركت على سيدنا إبراهيم وعلى ألى سيدنا إبراهيم فى العا لمين إنك حميدمجيد

Salam

Sebagai akhir dari kegiatan shalat, maka kita mengakhirinya dengan salam. Ketika salam, jari-jari tangan kanan dibuka. Salam di lakukan dua kali, dengan memalingkan kepala ke kanan dan ke kiri, hingga pipi kanan dan pipi kiri tampak jelas dari belakang

Shalat yang menentramkan hati menyerupai nikmat yang akan dirasakan manusia didalam surga. Sesungguhnya, ketentraman dan kenikmatan Nabi SAW ada pada shalat, sebagaimana sabdanya, : “ tenangkanlah kami dengannya (shalat), wahai Bilal. Demikian pula, ketentraman seorang hamba ada pada surga. Allah berfirman:

Ÿxsù ãNn=÷ès? Ó§øÿtR !$¨B u’Å”÷zé& Mçlm; `ÏiB Ío§è% &ûãüôãr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇÊÐÈ

“ tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka atas apa yang mereka kerjakan.” (As-sajdah: 17).

Hakikat

Hakikat dalam melaksanakan ibadah shalat dengan ilmu kita dapat berkomunikasi dengan Allah dengan artian mi’raj, bahwasanya kita seakan-akan melihat dan merasakan kehadiran Allah SWT, selain itu dengan melaksanakan ibadah sholat dengan khusu’ dapat menentramkan dan membahagiakan hati yang sedih, gundah dan gelisah serta dapat pula menjadikan kita menjadi lebih dekat dengan sang pencipta yaitu Allah SWT.

Dampak social

Tentu kami sangat yakin apabila seseorang telah mampu mengerjakan amalan ibadah shalat secara sempurna atau yang biasa dikatakan telah mampu khusyuk menjalani ibadah ini, pasti seseorang ini akan mampu dan dapat pula mengerjakan segala sesuatunya dengan lebih serius dan tekun sehingga hasil yang telah dikerjakan mampu memiliki nilai yang lebih maksimal dalam kehidupannya. Hal ini tentu akan membuat manusia ini menjadi lebih sangat baik dari sebelumnya. Dan disini dapat disebutkan dari sedikit dari sekian banyak dampak social yang bisa dihasilkan dari kekhusyuan dari ibadah kita, berikut dampak yang ditimbulkan dalam pelaksanaan shalat khusu’ adalah:

  1. Mencegah dari perbuatan keji dan mungkar,
  2. Menjadikan manusia menjadi lebih baik,
  3. Memperkokoh/memperkuat tiang agama,

BAB III

KESIMPULAN

Dari sekian beberapa ibadah yang disukai oleh Allah adalah ibadah Shalat kita. Ibadah shalat juga tidak bisa hanya dikerjakan begitu saja, ibadah ini harus dikerjakan dengan kita yang memiliki cukup ilmu. Karena dari semua gerakan dan bacaan dari awal sampai akhir dalam ibadah yang satu ini mempunyai suatu makna yang sangat cukup besar. Maka sangat sayang bagi kta apabila kita melaksanakan ibadah ini tanpa adanya ilmu-ilmu pengetahuan tentang makna yang terdapat pada ibadah ini.

Serta selain membutuhkan dan mendapatkan ilmu-ilmu pengetahuan dari ibadah ini, kita dalam pelaksanaanya juga diharapkan mampu untuk mengamalkannya. Pengamalan dalam bentuk ibadah ini menurut kami juga sudah sangat jelas dalam pelaksanaanya, yaitu mengimplimentasikan atau menerapakan atau mengerjakannya secara wajib dalam lima kali sehari dalam satu malam. Tetapi sebanarnya tidak hanya itu yang bisa dikerjakan untuk dapat mengamalkannya. Ibadah ini juga bisa dikerjakan lebih dari lima kali sehari, atau yang biasa disebut dengan ibadah-ibadah sunah lainnya.

Dan dalam menjalankan dan menerapkan ilmu dan amal dari pemahaman ibadah shalat ini, semoga bisa menjalankan dan menerapkannya seperti yang dikerjakan oleh Rosulallah SAW sehingga apa-apa yang sudah dikerjakan dengan ilmu dan mengamalkannya dalam keseharian bisa diterima oleh Allah AWT. Dan semoga semua dapat mengerti dan paham dalam mengerjakan ibadah shalat, dan melakukannnya tidak hanya sebagai untuk penggugur kewajiban. Amin……


[1] Syaikh Mu’min Al-Haddad, Perbarui shalat anda. AQWAM.

[2] H.E Hasan Saleh, Kajian FIQH Nabawi & FIQH Kontemporer, (PT. Raja Grafindo Persada). Hal. 53-64

[3]  M. Shodiq Mustika, Pelatihan Shalat Smart, (PT. Mizan Publika). Hal. 140

[4] Syaikh Mu’min Al-Haddad “Perbarui Shalat Anda” Hal.. 62

[5] Ibid; no. 1 hal 83

[6] Ibid; no. 2 hal 140

[7] Ibid; no. 2 hal. 85

[8] Ibid; no.1 hal. 141

[9] Ibid; no. 5 hal. 87

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s