Struktur Pengetahuan Ilmiah

Posted: 9 Maret 2012 in Uncategorized

TUGAS MAKALAH

STRUKTUR PENGETAHUAN ILMIAH

Dibuat untuk memenuhi tugas kelompok pada

mata kuliah Filsafat ilmu

Di Susun Oleh;

1. Sri Rahmayani               : 1110054000015

2. Ahmad Suheri               : 1110054000037

3. Fiqri Dzulkarnaen         : 1110054000032

 

 

JURUSAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM

FAKULTAS ILMU DA’WAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2010

STRUKTUR PENGETAHUAN ILMIAH

          Pengetahuan yang diproses menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengaqn demikian dan dapat disebut dengan pengetahuan ilmiah atau ilmu. Penetahuan ilmiah ini diproses lewat serangkaian langkah-langkah tertentu yang dilakukan dengan penuh kedisiplinan, dan dari karakteristik inilah maka ilmu sering dikonotasikan sebagai disiplin.

Disiplin inilah yang yang memungkinkan ilmu berkembang relatif lebih cepat bila di bandingkan dengan pengetahuan-pengetahuan lainnya. Sebuah hipotesis yang telah teruji secara formal mdi akui sebagai pernyataan pengetahuan ilmiah yang baru yang memperkaya khasanah ilmu yang telah ada.Sekiranya pengetahuan ilmiah yang baru ini yang kemudian ternyata salah, disebabkan kelengahan dalam salah satu langkah dari proses penemuannya, maka cepatatau lambat kesalahan ini akan di ketahui dan pengetahuan ini akan dibuang dari khsanah keilmuan. Metode ilmiah mempunyai mekanisme umpan balik yang bersifat korektif yang memungkinkan upaya keilmuan menemukan kesalahan yang mungkin diperbuatnya. Dan apabila sebaliknya, jika sebuah pengetahuan ilmiah yang baru itu adalah benar, dan dapat dipergunakan sebagai premis kerangka pemikiran yang menghasilkan hipotesis-hipotesis baru, yang kemudian dibenarkan maka hasil dari pengetahuan akan dijadikan sebagai ilmu pengetahuan ilmiah yang baru.

Pada dasarnya ilmu di bangun secara bertahap dan sedikit demi sedikit dimana para ilmuan menyumbangkan menurut kemampuannya. Ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut bedasarkan penjelasan yang ada.

Secara garis besar terdapat 4 (empat) jenis pola penjelasan :

  1. Deduktif;
  2. Probabilistik;
  3. Funsional/teologis;
  4. dan Genetik.

Teori merupakan pengetahuan ilmiah yang mencakup penjelasan mengenai suatu faktor tertentu dari sebuah disiplin keilmuan. Tujuan akhir dari tiap disiplin keilmuan adalah mengembangkan sebuah teori keilmuan yang bersifat utuh dan konsisten.

Pengetahuan ilmiah dalam bentuk teori harus mempunyai tingkat keumuman yang tinggi, atau secara idealnya harus bersifat universal. Dalam usaha mengembangkan tingkat keumuman yang lebih tinggi ini maka dalam sejarah perkembangan ilmu kita melihat berbagai contoh dimana teori-teori yang mempunyai tingkat keumuman yang lebih rendah disatukan dalam suatu teori umum yang mampu mengikat keseluruhan teori-teori tersebut.

 

 

Secara logis maka hal ini tidak sukar untuk dimengerti, sebab makin teoritis sebuah konsep maka makin jauh pula kaitan langsung konsep tersebut dengan gejala fisik yang nyata ; padahal dalam kehidupan kita sehari-hari adalah berhubungan dengan gejala  yang bersifat kongkret tersebut. Kegunaan praktis dari sebuah konsep yang bersifat teoritis baru dapat dikembangkan sekiranya konsep yang bersifat mendasar tersebut diterapkan pada masalah-masalah yang bersifat praktis. Dan dari pengertian inilah kita sering mendengar istilah konsep dasar dan konsep terapan yang juga diwujudkan dalam bentuk ilmu dasar dan ilmu terapan serta penelitian dasar dan penelitian terapan.

Beberapa disiplin keilmuan sering mengembangkan apa yang disebut postulat dalam menyusun teorinya. Kebenaran ilmiah pada hakikatnya harus disahkan lewat sebuah proses yang disebut dengan metode keilmuan. Postulat ilmiah ditetapkan tanpa melalui prosedur ini melainkan ditetapkan begitu saja. Secara filsafati sebenarnya eksistensi postulat ini tidak sukar untuk dimengerti, mengapa kehadirannya menyimpang dari prosedur yang ada, sebab bukankah sebuah argumentasi harus didasarkan pada sesuatu? Seperti kita ingin mengelilingi sebuah lingkaran maka kita harus memulainya dari sebuah titik. Dan postulat adalah ibarat titi dalam  sebuah lingkara , yang eksistensinya kita tetapkan secara sembarang.

Bila postulat dalam pengajuannya tidak memerlukan bukti tentang kebenarannya maka hal ini berlainan dengan asumsi yang harus ditetapkan dalam sebuah argumentasi ilmiah.

Asumsi harus merupakan pernyataan yang kebenarannya secara empiris dapat diuji. Sebagai contoh umpanya kita dapat mngambil cara orang mengemudikan mobil dijalan raya. Sekiranya orang itu beranggapan bahwa keadaan jalan raya pada waktu pagi buta adalah aman disebabkan jarangnya kendaraan yang lalu lalang, kemungkianan besar orang itu akan mengendarai mobilnya secara kuang berhati-hati , karena dia berasumsi bahwa jika pada pagi buta jalan sepi tak ada kendaan lain yang lalu lalang. Tapi sebaliknya mungkin terdapat orang lain yang mempunyai pendapat berbeda, Menurut penilaiannya bahwa mengendarai mobil pada pagi buta adalah tidak aman, disebabkan banyaknya orang yang mengendarai mobilnya secara sembrono. Oleh sebab itu maka dia memilih asumsinya bahwa keadaan jalan raya tidak aman. Itulah sebabnya maka asumsi ini harus dibuktikan kebenarannya sebab dengan asumsi yang tidak benar kita akan memilih cara yang tidak benar pula.

Sebuah teori yang berlaku di Negara tertentu belum tentu cocok dengan negara lain sekiranya asumsi tentang manusia dalam teori umpanya tidak berlaku. Dekian juga dengan bermacam-macam teori lainnya yang tersedia dalam khasanah pengetahuan ilmiah. Kita harus memilih teori yang terbaik dari sejumlah teori-teori yang adaberdasarkan kecocokan asumsi yang dipergunakannya.

Penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah di ketahui dinamakan penelitian murni atau penelitian dasar.Sedangkan penelitian yang bertujuan untuk memecahkan masalah kehidupan yang bersifat praktis dinamakan penelitian terapan . dengan menguasai pengetahuan ini maka manusia mengembangkan teknologi atau peralatan yang berfungsi sebagai sarana yang memberi kem udahan dalam kehidupannya.

Diperlukan waktu yang cukup lama untuk dapat menerapkan penemuan-penemuan ilmiah yang baru kepada pemanfaatan yang berguna.terdapat selang waktu selama 250 tahun antara percobaan yang pertama tentang magnet oleh William Gilbert dengan dikembangkannya teori elektro magnetic oleh Clerk Maxwell sekitar 1870. Terdapat selang beberapa waktu yang makin lama makin pendek antara penemuan suatu teori ilmiah dengan penerapannya kepada masalah-masalah yang bersifat praktis.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar. (Jakarta : Pustaka Sinar harapan, 2007)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s