Filsafat Ilmu & Logika

Posted: 9 Maret 2012 in Uncategorized

TUGAS MAKALAH MANDIRI

“FILSAFAT ILMU ”

Penulis Jujun S. Suriasumantri

Makalah Mandiri ini dibuat untuk memenuhi tugas UTS pada

mata kuliah Filsafat dan Logika

Di Susun Oleh;

Nama                     : Ahmad Suheri

NIM                      : 1110054000037

Fakultas                 : Ilmu Dakwah dan Komunikasi

Prodi                     : Pengembangan Masyarakat Islam

Semester                : I (Satu)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2010

 

Bab I

Pendahuluan

 

  1. Latar belakang

Dalam pembuatan makalah ini ditujukkan untuk memenuhi persyaratan pengganti dalam UTS pada mata kuliah FILSAFAT ILMU DAN LOGIKA, dalam pembuatan makalah resensi ini saya memilih buku Filsafat ilmu dimana penulis tersebut bernama “Jujun S. Suriasumantri”.

Dalam proses pengerjaannya banyak sekali daftar-daftar buku yang diberikan oleh dosen didalam silabus, tetapi saya memilih buku filsafat Ilmu tersebut karena menurut hasil bacaan saya buku ini sangat baik, karena didalamnya terdapat penjelasan-penjelasan yang sangat ditel berupa contoh-contoh serta gambaran-gambaran yang ada di lingkungan sekitar.

  1. Pokok pembahasan

Dalam makalah hasil resensi ini saya akan memberikan gambaran pembahasan pada buku yang saya baca yang disusun berupa makalah, yaitu pengertian ilmu dan filsafat, dasar-dasar pengetahuan, ontology, hakikat apa yang dikaji dan seterusnya.

Lalu apakah filsafat dalam pembahasan buku ini bisa digunakan atau dipakai pada mata kuliah filsafat ilmu? Dan materi-meteri pembahasan yang didalamnya dapat menjawab semua pertanyaan dalam mata kuliah tersebut?

Maka, dalam makalah resensi ini khususnya pada bab pembahasan saya mencoba mengutip partanyaan yang timbul, dan saya berharap dalam makalah ini bisa memberikan suatu jawaban.

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

Pembahasan

 

I. Ilmu Dan Filsafat

Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu – ragu dan Filsafat di mulai dengan  kedua-duanya. Bersfilsafat di dorong untuk menggtahui apa yang telah kita tahu dan apa yang kita belum tahu.Bersfisalfat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita  tahu dan apa yang belum kita tahu .berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau.

Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Berfilsafat tentang ilmu berarti kita berterus terang kepada diri kita sendiri :

Demikian juga berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui:

I.1. Filsafat: peneratas pengetahuan

Filsafat , meminjam pemikiran Will Durant,dapat diibaratkan pasukan mariner yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri .Pasuakan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang di antaranya adalah  ilmu.Filsafat yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan . Setalah itu ilmiah yang membelah gunung  dan merambah hutan , menyempurnakan kemenagan ini menjadi `pengetahuan yang dapat diandalkan .Semua ilmu – ilmu baik ilmu alam maupun ilmu sosial, bertolak dari pengembangannya bermula sebagai filsafat.

Nama asal fisila adalah filsafat moral ( moral philosophy). Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu maka terdapat taraf peralihan . dalam taraf peralihan ini maka di bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit,tidak lagi menyeluruh melainkan  sektoral .Di sini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara ke seluruhan melainkan di kaitkan dengan kegiatan manusia dalam memmenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi.secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada ilmu – ilmu filsafat Metode yang di  pakai adalah normative dan deduktif berdasarkan asas – asas moral yang di filsafati . Pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya otonom dari konsep – konsep filsafta dan mendasarkan sepenuhnya kepada alam sebagaimana adanya.Di menyusun pengetahuan tentang alam dan isinya ini maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat  normative dan deduktif melainkan kombinasi antara deduktif dan induktif dengan jabatan yang berupa pengajuan hopotesis yang di kenal sebagai metode logica – hypothetico – verifikatif

I.2. Bidang Telaah Filsafat

Apakah yang sebenarnya ditelaah filsafat?

Selaras dengan dasarnya yang spekulatif , maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat di fikirkan oleh manusia.Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir dia memepermasalahkan  hal – hal  yang  pokok : tejawab masalah yang satu , dia pun mulai mertambah pertayaan lain.

I.3. Cabang – cabang Filsafat

Pokok permasalahan yang di kaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang di sebut benar dan apa yang disebut salah (logika), maka yang di anggap baik dan mana yang di anggap buruk(etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang apa yangtermasuk jelek (estetika). Ketiga cabang utama filsafat ini kemudian  ini bertmbah lagi yaki ,pertama teori tentang ada : tentang hakikat keberadaan zat, tentang hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran yang semuanya terangkum dalam metafisika ;dan , kedua ,politik : yakni  kajian mengenai kajian organisasi sosial/ pemerintahan yang ideal .`kelima cabang utama ini kemudian berkembang lagi menjadi cabang – cabang filsafat yang mempunyai bidang kajian yang lebih sepesipik di antaranya filsafat ilmu.

I.4. Filsafat Ilmu

Filsafat ilmu merupakan bagian dari estemologi ( filsafat pengetahuan ) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu ( pengetahuan ilmiah ). Ilmu merupakan cabang pengetahuan mempunyai cirri – cirri tertentu. Meskipun secara metodologis ilmu tidak membedakan antara ilmu – ilmu alam dengan ilmu-ilmu sosial, namun karena permasalahan – permasalahan teknis yang bersifat kas, maka filsafat ilmu ini seriang di bagi menjadi filsafat ilmu – ilmu alam dan filsafat ilmu- ilmu sosial . pembagian ini lebih merupakan pembatasan masing – masing bidang  yang ditelaah, yakni ilmu – ilmu alam atau ilmu –ilmu sosial, dan tidak mencirikan cabang filsafat yang bersifat otonom.

Filsafat ilmu merupakan telaahan secara filsafat yang ingin menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Dari semua pengetahuan maka ilmu merupakan pengetahuan yang aspek ontologism, epistemologis dan aksiologisnya telah jauh lebih berkembang di bandingkan dengan pengetahuan – pengetaahuan lain dan di laksanakan secara konsekwen dan penuh disiplin. untuk mebedakan jenis pengetahuan yang satu dari pengetahuan – pengetahuan lainnya maka pertanyaan yang dapat di ajukan adalah : apa yang dikaji oleh pengetahuan itu ( ontologi ) ? bagai mana caranya mendapatkan pengetahuan  tersebut ( epistomologi ) ? serta untuk apa pengetahuan termaksud di pergunakan ( aksiologi ) ? dengan mengetahui jawaban dari ketiga pertanyaan ini maka dengan mudah kita dapat membedakan berbagai jenis pengetahuan yang terdapat dalam khasanah kehidupan manusia .

II. Dasar-dasar pengetahuan

 II.1. Penalaran

Kemampuan menalar ini meyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan – kekuasaannya . Manusia adalah satu  – satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh – sungguh. Namun, pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya ( survival ). Bahwa manusia itu dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi sekadar kelangsungan hidupnya. inilah yang menyebabkan manusia mengembangkan pengetahuanya dan pengetahuan ini yang mendorong manusia menjadi mahluk yang bersifat khas di muka bumi ini.

Pengetahuan ini mampu di kembangkan manusia di sebabkan dua hal utama yakni , pertama, manusia mempunyai bahasa yang mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua yang menyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuanya dengan cepat dan mantap, adalah kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu. secara garis besar cara berpikir ini di sebut penalaran . binatang mampu berpikir namun tidak mampu berpikir nalar.

II. 2. Hakikat Penalaran

Penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang berfikir . sikap dan tindakannya ya ng bersumber pada pengetahuan yang di dapatkan lewat kegiatan merasa atau  berfikir. Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berfikir dan bukan dengan perasaan. Meskipun demikian patut kita sadari behwa tidak semua kegiatan berfikir menyadarkan diri dari penalaran. Jadi penalara merupakan kegiatan berfikir yang mempunyai karakteristik tertentu dalam menemukan penalaran. Penalaran merupakan suatu proses penemuan kebenaran dimana tiapa-tiap jenis penalaran mempunyai criteria kebenarannya masing-masing.

Penalaran mempunyai cirri-ciri tertentu, yaitu; pertama, adanya suatu pola fakir yang secara luas dapat di sebut logika. Yang kedua, penalaran adalah sifat analitik dari proses berfikirnya. Penalaran merupakan suatu kegiatan berfikir yang menyadarkan diri kepada suatu analisis dan kerangka berfikir yang dipergunakan untuk analisis tersebut adalah logika penalaran yang bersangkutan. Tanpa adanya pola berfikir tersebut maka tidak akan ada kegiatan analisis, sebab analisis pada hakikatnya merupaka suatu kegiatan berfikir berdasarkan langkah-langkah tertentu.

Ditinjau dari hakikatnya maka dalam rangka menemukan kebenaran, kita dapat bedakan dua jenis pengetahuan, yaitu;

  1. Pengetahuan yang didapatkan sebagai hasil usaha yang aktif dari manusia untuk menemukamn kebenaran, baik melalui penalaran maupun lewat kegiatan lain seperti perasaan dan intuisi.
  2. Pengetahuan yang bukan merupakan kebenaran yang didapat sebagai hasil usaha aktif manusia. Dalam hal ini maka pengetahuan yang didapat itu bukan berupa kesimpulan sebagai produk dari usaha aktif manusia dalam menemukan kebenaran, melainkan berupa pengetahuanyang diberikan, seperti wahyu yang diberikan Tuhan melalui Malaikat dan Nabi-nabi.

II.3. Logika

Logika secara luas dapat diartikan sebagai pengkajian untuk berfikir secara benar. Terdapat beberapa macam penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang seksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yaitu penarikan kesimpulan secara induktif dan penarikan kesimpulan secara deduktif .

Penalaran Induktif adalah penarikan yang dimulai dengan mengemukakan pernyatan-pernyatan yang mempunyai ruang lingkup yang khas dan terbatas dalam menyusun argumentasi yang diakhiri dengan pernyataan-pernyataan yang bersifat umum. Penalaran Deduktif adalah kegiatan berfikir yang sebaliknya dari penalaran Induktif .

II.4. Sumber Pengetahuan

Baik logika deduktif maupun logika induktif, dalam proses penalarannya, memepergunakan premis-premis yang berupa pengetahuan yang dianggapnya benar. Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusi untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, yaitu; pertama: mendasarkan diri pada rasio, kedua: mendasarkan diri pada pengalaman (Empiris).

Kaum rasionalis menggunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Berlaianan dengan kaum rasionalis, maka kaum empirisme berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat penglaman yang kongkret. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum  empiris adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan pancaindera manusia.

II.5. Kriteria Kebenaran

Teori kebenaran yang didasarkan pada suatu pernyataan yang dianggap benar jika pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataansebelumya yang dianggap benar.

Matematika ialah bentuk pengetahuan yang penyusunannya dilakukan pembuktian berdasarkan teori koheren. System matemetika disusun di atas beberapa dasar pernyataan yang dianggap benar yakni aksioma. Dengan menggunakan beberapa aksioma maka disusun suatu teorema. Diatas teorema maka dikembangkan kaidah matematika yang secara keseluruhan meupakan suatu system yang konsisten.

III. Ontologi: Hakikat Yang Dikaji

III.1. Metafisika

Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah. Dapat kita ibaratkan fikiran adalah sebuah roket yang meluncur ke bintang-bintang, menembus galaksi dan awan-gemawan, maka metafisika adalah landasan peluncurannya. Dunia yang sepintas lalu kelihatan sangat nyata ini, ternyata menimbulkan berbagai spekulasi filsafati tentang hakikatnya.

III.2. Beberapa Tafsiran Metafisika

Tafsiran yang paling pertama yang diberikan oleh manusia terhadapalam ini adalah terdapat ujud-ujud yang bersifat gaib (supernatural) dan ujud-ujud ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa dibandingkan dengan alam yang nyata.

Sebagai lawan dari supernaturalisme, maka terdapat paham naturalisme yang menolak pendapat bahwa terdapat ujud-ujud yang bersifat supernatural ini. Materialisme, yang merupakan paham berdasarkan naturalisme ini, berpendapat bahawa gejala-gejala alam tidak disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib, melainkan oleh kekuatan yang terdapat dalam alam itu sendiri, yang dapat dipelajari dan dengan demikian dapat kita ketahui.

III.3. Batas-batas Penjelajahan Ilmu

Ilmu memulai penjelajahanya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris. Ruang penjelajahan keilmuan kemudian kita menjadi “kapling-kapling” berbagai disiplin keilmuan. Kapling ini semakin lama semakin sempit sesuiai dengan perkembangan kuantitatif disiplin keilmuan. Kalu pada fase permualaan hanya terdapat ilmu-ilmu alam dan ilmu –ilmu sosial, maka dewasa inio terdapat lebih dari650 cabang keilmuan. Seperti juga pemilik kapling yang sah, maka tiap ilmuan harus tahu benar batas-batas penjelajahan cabang keilmuannya masing-masing. Mengenal batas-batas keilmuan ini, disamping menunjukan kematangan keilmuan dan professional kita, juga dimaksudkan agar kita mengenal tetangga-tetangga kita.

Cabang-cabang Ilmu

Ilmu berkembang dengan sangat pesat dan demikian juga jumlah cabang-cabangnya. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu alamdan filsafat moral yang kemudian berkembang kedalam ilmu-ilmu social. Tiap-tiap cabang kemudian membuat ranting-ranting baru seperti fisika berkembang manjadi mekanika, hidrodinamika, bunyi, cahaya, panas, kelistrikan dan magnetism, fisika nuklir dan kimia fisik.  Hingga tahap ini maka kelompok ilmu tersebut termasuk kedalam ilmu-ilmuj murn. Ilmu-ilmuj murni kemudian berkembang menjadi ilmu-ilmu terapan.

IV.Epistemologi: Cara mendapatkan pengetahuan yang benar

IV.1. Jarum Sejarah Pengetahuan

Dengan berkembangnya abad penalaran maka konsep dasar berubah dari kesamaan kepada perbedaan. Mulailah terdapat pembedaan yang jelas antara berbagai pengnetahuan, yang mengakibatkan timbulnya spesialisasi pekerjaan dan kosekuensinya mengubah struktur kemasyarakatan.pohon pengetahuan mulai dibeda-bedakan paling tidak berdasarkan apa yang diketahui, bagaimana cara mengetahui dan untuk apa pengetahuan itu dipergunakan.

IV.2. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung atau tidak langsung turut memperkaya kehidupan kita. Sukar untuk dibayangkan bagaimana kehidupan manusia seandainya pengetauan itu tidak ada, sebab pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai pertanynaan yang muncul dalam kehidupan. Setiap jenis pengetahuan mempunyai cirri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontology), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut di susun. Ketiga lndasan ini saling berkaitan.

Ilmu mempelajari alam sebagaimana adanya dan terbatas pada lingkup pengalaman kita. Pengetahuan dikumpulkan oleh ilmu dengan tujuan untuk menjaaaawab permasalahankehidupan yang sehari-hari dihadapimanusia, dan untuk diunakan dalam menawarkan berbagaikemudahan kepadanya.

Ilmu mencoba mencarikan penjelasan mengenai alam menjadi kesimpulan yang bersifat umum dan impersonal. Sebaliknya, seni tetap bersifat individual dan personal, dengan memusatkan perhatiannya pada pengalaman hidup manusia perseorangan.

IV.3. Metode Ilmiah

Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Tidak semua pengetahuan dapat disebut ilmu karena ilmu merupakan pengatahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syarat-syarat tertentu.

Seperti diketahui berfikir adalah kegiatan mental yang menghasilkan pengetahuan. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja fikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan di harapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnyamerupakan pengetahuan yang dapat diandalkan. Dalam hal ini maka metode ilmiah mencoba menggabungkan tubuh pengetahuannya.

IV.4. Struktur Pengetahuan Ilmiah

Pengetahauan yang diproses menurut metode menurut metode ilmiah merupakan pengetahuan yang memenuhi syarat-syarat keilmuan, dan dengan demikian dapat disebut pengetahuan ilmiah atau ilmu.

Ilmu pada dasarnya merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan ntuk menguasai gejala tersebutberdasakan penjelasan yang ada. Penjelasan keilmuan memungkinkan  kita meramalkan apa yang akan terjadi, dan berdasarkan ramalan tersebut kita bias melakukan upaya yang mengontrol agar ramalan itu menjadi kenyataan atau tidak.

V. Sarana Berfikir Ilmiah

V.1. Sarana Berfikir Ilmiah

Sarana berfikir ilmiah ini, dalam proses pendidikan kita, merupakan bidang studi tersendiri. Artinya kita mempelajarisarana berfikir ilmiah ini seperti kita mempelajari berbagai cabang ilmu. Dalam hal ini kita harus memperhatikan dua hal, yaitu:

  1. Sarana ilmiah bukan merupakan ilmu dalam pengertian bahwa sarana ilmiah itu merupakan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmiah.
  2. tujuan mempelajari sarana ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakuakan penalaran ilmiah secara baik., sedangkan tujuan mempelajari ilmmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk bias memecahkan masalah kita sehari-hari.

V.2. Bahasa

Keunikan manusia sebenarnya bukanlah terletak pada kemampuannya dalam berfikir, melainkan teletak pada kemampuannya berbahasa. Manusia dapat berfikir dengan baik karena dia mempunyai bahasa. Tanpa bahasa maka manusia tidak akan dapat berfikir secara rumit dan abstrak seperti apa yang kita lakukandalam kegiatan ilmiah.

Bahasa memungkinkan manusia berfikir secara abstrak dimana obyek-obyek yang actual di transformasikan menjadi simbol-simbol bahasa yang bersifat abstrak. Adanya symbol bahasa yang bersifat abstrak ini memungkinkan manusia untuk memikirkan sesuatu secara berlanjut. Demikian juga ahasa memberikan kemampuan untuk berfikir secara teratur dan sistematis. Transformasi obyek factual menjadi symbol abstrak yang diwujudkan lewat perbendaharaan kata-kata ini dirangkaikan oleh tata bahasa untuk mengemukakan suatu jalan pemikiran atau ekspresi perasaan.

V.3. Matematika

Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin kita sampaikan. Lambing-lambang matematika bersifat “artifial” yang baru mempunyai arti setelah sebuah makna diberikan padanya. Tanpa itu maka metematika hanyalah suatu kumpulan rumus-rumus yang mati.

  • Sifat Kuantitatif dari Matematika

Matematika mempunyai kelebihan lain dibandingkan dengan bahasa verbal. Matematika mengembangkan bahasa numerik yang memungkinkan kita untuk melakukan pengukuran secara kuntitatif. Bahasa verbal hanya mampu mengemukakan pernyataan yang bersifat kualitatif. Demikian juga bahwa penjelasan da ramalan yang dinerikan oleh ilm u dalam bahasa verbal. Semuanya bersifat kualitatif.

  • Matemetika Saran Berfikir Deduktif

Seperti diketahui berfikir deduktif adalah proses pengambilan kesimpulan yang didasarkan kepada premis-premis yang kebenarannya telah ditentukan.

V.4. Statistika

Statistika dan Cara Barfikir Induktif

Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Semua pernyataan ilmiah adalah bersifat factual, dimana konsikuensinya dapat diuji baik dengan jalan mempergunakan pancaindera, maupun dengan mempergunakan alat-alat yang membantu panca indera tersebut.

Penarikan kesimpulan induktif pada hakikatnya berbeda dengan penarikan kesimpulan secara deduktif. Penarikan kesimpulan secar induktif  menghadapkan kita kepada sebuah permasalahan mengenai banyaknya kasus yang harus kita amati sampai kepada suatu kesimpulan yang bersifat umum.

VI. Aksiologi

VI.1. Ilmu dan Moral

Merupakan kenyataan yang tidak bias dipungkiri bahwa peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu dan teknologi. Berkat kemajuan dalam bidang ini maka pemenuhan kebutuhan manusia bila dilakukansecara lebih cepat dan lebih mudah disamping penciptaan berbagai kemudahan dalam bidang-bidang seperti kesehatan, pengangkutan, pemukiman, pendidikan dan komunikasi.

Sejak dalam tahap-tahap pertama pertumbuhannya ilmu ilmu sudajh dikaitkan dengan tujuan perang. Ilmu bukan saja digunakan untuk menguasai alam melainkan juga untuk memerangi sesama manusia dan menguasai mereka. Bukan hanya bermacam-macam senjata pembunnuh berhasil dikembangkan namun juga berbagai teknik penyiksaan dan cara memperbudak masa.

VI.2. Tanggung Jawab Sosial Ilmuan

Ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Seorang ilmuan mempunyai tanggung jawab social yang terpikul dibahunya. Bukan saja karena dia adalah warga masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di masyarakat namun yang lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu dalam kelangsungan hidup bermasyarakat.

Bagaimana sikap seorang ilmuan menghadapi cara berfikir yang keliru? Pada hakikatnya seorang ilmuan adalah manusia yang biasa berfikir yang teratur dan teliti. Bukan saja jalan fikirannya mengalir yang teratur namun juga segenap meteri yang menjadi bahan pemikirannya dikaji dengan teliti. Seorang ilmuan tidak menolak atau menerima sesuatu secara begitu saja tanpa sesuatu pemikiran yang cermat. Disinilah kelebihan seorang ilmuan  dibandingkan dengan cara berfikir seorang awam.

VI.3. Nuklir dan Pilihan Moral

Seorang ilmuan secar moral tidak akan membeiarkan hasil penemuannya dipergunakan untuk menindas suatu bangsa, meskipun yang mempergunakannya itu adalah bangsanya sendiri. Sejarah telah mencatat bahwa para ilmuan bangkit dan bersikap terhadap politik pemerintahnya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusiaan.

VI.4. Revolusi Genetika

Revolusi genetika merupakan babakan baru dalam sejarah keilmuan manusia sebab sebelum ini ilmu tidak pernah menyentuh manusia sebagai objek penelaahan itu sendiri. Hal itu bukan berarti bahwa sebelumnya tidak pernah ada penelaahan ilmiah yang berkaiatan dengan jasad manusia, tentu saja banyak sekali, namun penelaahan-penelaahan ini dimaksudkan untuk menegmbangkan ilmu dan teknologi, dan tidak membidik secara langsung manusia sebagai objek penelaahan.

Pembahasan ini didasarkan pada asumsi bahwa penemuan dalam riset genetika akan dipergunakan dalam itikad baik untuk keluhuran manusia. Bagaimana sekitranya penemuan ini jatuh kepada pihak yang tidak bertanggung jawab dan mempergunakan penemuan ilmiah ini untuk kepentingannya sendiri yang bersifat destruktif.

VII. Ilmu dan Kebudayaan

VII.1. Manusia dan Kebudayaan

Kebudayaan diartikan untuk pertama kali oleh E.B Taylor pada tahun 1871, lebih dari seratus tahun yang lalu, dalam bukunya Primitive Culture dimana kebudayaan diartikan sebagai keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hokum, adapt serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.

VII. 2. Ilmu dan Pengembangan Kebudayaan Nasional

Ilmu merupakan bagian dar pengetahuan dan pengetahuan merupakan unsure dari kebudayaan. Kebudayaan disini merupakan seperangkat sistem nilai, tata hidup dan sarana bagi manusia dalam kehidupannya.

Ilmu dan kebudayaan berada dalam posisi yang saling tergantung dan saling mempengaruhi. Pada satu pihak pengembangan ilmu dalam suatu masyarakat tergantung dari kondisi kebudayaannya. Sedangkan dipihak lain, pengembangan ilmu akan dipengaruhi jalannya kebudayaan.

VII.3. Dua Pola Kebudayaan

Adanya dua pola kebudayaan yang terbagi kedalam ilmu-ilmualam dan ilmu-limu social ini sayangnya masih terdapat di Indonesia. Hal ini dicerminkan dengan adanya jurusan Pasti-Alam dan Sosial-Budaya dalam system pendidikan kita. Sekiranya kita menginginkan kemajuan dalam bidang keilmuan yang mencakup baik ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu social maka dualisme kebudayaan ini harus dibongkar.

Pembangkitan jurusan berdasarkan Pasti-Alamdan Sosial-Budaya harus dihilangkan. Adanya pembagian jurusan ini merupakan hambatan psikologis dan intelektual bagi pengembangan keilmuan di Negara kita. Sudah merupakan rahasia umum bawa jurusan Pasti-Alam dianggap lebih mempunyai prestise dibandingkan dengan jurusan Sosial-Budaya. Hal ini akan menyebabkan mereka yang mempunyai minat dan bakat baik dibidang ilmu-ilmu social akan terbujuk memilih jurusan ilmu-ilmu alam karena alasan-alasan social psikologis.

Dipihak lain mereka yang sudah terkontak dalam jurusan Sosial-Budaya dalam proses pendidikannya kurang mendapatkan bimbingan yang cukup dalam pengetahuan matematikanya untuk menjadi ilmuan kelas satu yang sungguh-sungguh mampu.

VIII. Ilmu dan Bahasa

VIII.1. Tentang Terminologi; Ilmu, Ilmu Pengetahuan dan Sains?

Ketahuan atau Knowledge ini merupakan terminology generic yang mencakup segenap bentuk yang kita tahu seperti filsafat, ekonomi, seni, bela diri dan cara menyulam dan biologi itu sendiri.

VIII.2. Politik dan Bahasa Nasional

Bahasa pada hakikatnya mempunyai dua fungsi utama, yaitu; pertam sebagai sarana komunikasi antar manusia, kedua sebagai sarana yang mempersatukan kelompok manusia yang mempegunakan bahasa tersebut. Fungsi yang pertama dapat disebutkan sebagai fungsi komunikatif dan fungsi yang kedua sebagai fungsi kohesif atau integrative.

Selaku alat komunikasi pada pokoknya bahasa mencakup tiga unsure, yaitu;

  1. bahasa selaku alat komunikasi untuk menyampaikan pesan yang berkonotasi perasaan (emotif)
  2. berkonotasi sikap (efektif)
  3. berkonotasi fikiran  (penalaran)

IX. Penelitian dan Penulisan Ilmiah

IX.1. Struktur Penelitian dan Penulisan Ilmiah

Penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan. Untuk itu maka diperlukan penguasaan yang baik mengenai hakikat keilmuan agar dapat melakukan penelitian dan sekaligus mengkomunikasikannya secara tertulis.

Penyusunan kerangka teoritis dan pengajuan hipotesis:

  • Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis
  • Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan
  • Penyusunan kerangka berfikir dalam pengejuan hipotesis dengan mempergunakan premis-premis sebagai tercantum dalam butir 1 dan butir 2 dengan menyatakan secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan (sekiranya diperlukan)
  • Perumusan hipotesis.

Metodologi penelitian;

  • Tujuan penelitian secara lengkap dan operasional dalam bentuk pernyataan yang mengidentifikasi variabel-variabel dan karakteristik hubungan yang akan diteliti
  • Tempat dan waktu penelitian dimana akan dilakukan generalisasi mengenai variabel-variabel yang diteliti
  • Metode penelitian yang ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian dan tingkat generalisasi yang diharapkan
  • Teknik pengambilan contoh yang relevan dan tujuan penelitian, tingkat keumuman dan metode penelitian
  • Teknik pengumpulan data yang mencakup identifikasi variabel yang akan dikumpulkan, sumber data, teknik pengukuran, instrument dan teknik mendapat data
  • Teknik analisis data yang mencakup langkah-langkah dan teknik analisis yang dipergunakan dan ditetapkan berdasarkan pengajuan hipotesis (sekiranya mempergunakan statistika maka tuliskan hipotesis nol dan hipotesis tandingan: H0/H1).

IX.2. Teknik Penulisan Ilmiah

Teknik penulisan ilmiah mempunyai dua aspek yakni gaya penulisan dalam membuat pernyataan ilmiah serta teknik notasi dalam menyebutkan sumber dari pengetahuan ilmiah yang dipergunakan dalam penulisan. Komunikasi ilmiah bharus bersifat jelas dan tepat yang memungkinkan proses penyampaian pesan yang bersifat reproduktif dan impersonal .

Bahasa yang digunakan harus jelas dimana pesan mengenai objek yang ingin dikomunikasikan mengandung informasi yang disampaikan sedemikian rupa sehingga sipenerima betul-betul mengerti akan isi pesan yang disampaikan kepadanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 3

Penutup

Manfaat

Dengan selesainya buku yang saya baca dan saya resensi sehingga menjadi makalah ini, saya (penulis) mendapatkan banyak sekali manfaat dari buku ini, teruma saya jadi mendapatkan dan menambah ilmu selain dari ilmu-ilmu lain, tadinya saya tidak tahu “apa itu filsafa?” karena ketika saya masih duduk di bangku sekolah sebelumnya, saya tidak menganal apa itu filsafat.

Akhirnya saya tertarik dan mencari pengertian tentang filsafat. Yaitu Filsafat adalah study yang menerangkan tentang suatu kebenaran, dimana kebenaran itu adalah teori kebenaran yang didasarkan pada suatu pernyataan yang dianggap benar jika pernyataan itu bersifat koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataansebelumyayang dianggap benar. Selain itu saya mendapatkan tentang tata cara berfikir logis (berfikir secara benar).

Komentar

Dari buku yang saya baca dan saya resensi sehingga menjadi makalah ini, buku “FILSAFAT ILMU” Sebuah Pengantar Populer ini menurut saya adalah buku yang sangat bagus, karena didalam buku ini selain menerangkan juga terdapat contoh-contoh yang sangat kongkret dan dilengkapi dengan gambar-gambar yang menarik untuk dilihat selepas membaca. Jadi, dengan kelengkapan yang ada didalam buku ini, kemungkinan para pembaca buku ini (Filsafat Ilmu) pasti akan menegerti isi dalam buku ini.

Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ini adalah Ilmu dan filsafat  suatu Pengetahuan yang dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu – ragu dan Filsafat di mulai dengan  kedua- duanya. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. Pokok permasalahan yang di kaji filsafat mencakup tiga segi yakni apa yang di sebut benar dan apa yang disebut salah (logika), maka yang di anggap baik dan mana yang di anggap buruk(etika), serta apa yang termasuk indah dan apa yang apa yangtermasuk jelek (estetika).

Kemampuan menalar ini meyebabkan manusia mampu mengembangkan pengetahuan yang merupakan rahasia kekuasaan – kekuasaannya . Manusia adalah satu  – satunya mahluk yang mengembangkan pengetahuan ini secara sungguh – sungguh. Namun, pengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya ( survival ).

Penalaran merupakan suatu proses berfikir dalam menarik suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.

Logika secara luas dapat diartikan sebagai pengkajian untuk berfikir secara benar. Terdapat beberapa macam penarikan kesimpulan namun untuk sesuai dengan tujuan studi yang memusatkan diri kepada penalaran ilmiah, kita akan melakukan penelaahan yang seksama hanya terhadap dua jenis cara penarikan kesimpulan, yaitu penarikan kesimpulan secara induktif dan penarikan kesimpulan secara deduktif .

Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika ini merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati termasuk pemikiran ilmiah.

Ilmu secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya.

Penulisan ilmiah pada dasarnya merupakan argumentasi penalaran keilmuan yang dikomunikasikan lewat bahasa tulisan.

Penyusunan kerangka teoritis dan pengajuan hipotesis:

  • Pengkajian mengenai teori-teori ilmiah yang akan dipergunakan dalam analisis
  • Pembahasan mengenai penelitian-penelitian lain yang relevan
  • Penyusunan kerangka berfikir dalam pengejuan hipotesis dengan mempergunakan premis-premis sebagai tercantum dalam butir 1 dan butir 2 dengan menyatakan secara tersurat postulat, asumsi dan prinsip yang dipergunakan (sekiranya diperlukan)
  • Perumusan hipotesis.
Komentar
  1. dheaqotrunnada mengatakan:

    Reblogged this on Dhea Qotrunnada and commented:
    bahan tugas filsafat logika dan sains.izin copas yaa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s