“Teknik Membuka dan menutup Pidato”

Posted: 2 April 2012 in Kumpulan Makalah SM 3

Tugas Makalah

“Teknik Membuka dan menutup Pidato”

Dibuat untuk memenuhi persyaratan tugas

pada mata kuliah Retorika/Ilmu Khitobah

 

 

 

 

 

                                                                                                                                  

 

 

 

 

Disusun Oleh;

 

  1. 1.      Ahmad Suheri                             1110054000037
  2. 2.      Badzlia Rusyidina F.                   1110054000033
  3. 3.      Ujang Kosasih                             1110054000027
  4. 4.      Anisa Fatonah                             1110054000034

                 

 

Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam

Fakultas Ilmu Dakwah dan Komunikasi

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2011

 

Bab I

Pendahuluan

 

Manusia memiliki fitrah untuk menjadi makhluk sosial atau yang lebih dikenal dengan Zoon Politicon hidup secara bersama-sama dan bermasyarakat saling membutuhkan satu sama lain, selain difitrahkan menjadi makhluk sosial, manusia juga difitrahkan oleh Allah SWT sebagai makhluk yang beragama atau Homo Religion.
Sebagai makhluk yang memiliki fitrah untuk beragama ada beberapa manusia yang memiliki kekurangan pengetahuan tentang beragama dan tata cara peribadatannya, sehingga manusia membutuhkan sosok pengajar dalam kehidupannya tentang agama dan tata cara beribadahnya, guru yang pertama kali mengajarkan pada manusia adalah orang tuanya jika tidak mempunyai orangtua maka guru yang pertama kali mengajarkan ialah lingkungan sekitarnya.
Sehingga jika seseorang yang memiliki lingkungan baik dan kondusif belajar agama maka dia akan menjadi sesosok manusia yang tahu dan dimungkinkan memahmi agamanya tersebut, namun jika seseorang tersebut lahir dan berkembang pada kelurga dan lingkungan yang tidak baik dan kondusif dalam beragama maka dia akan menjadi sesososk yang awam akan agamanya sendiri, dia menjadi manusia yang memiliki agama namun tidak memahami agama.
Dalam posisi inilah seorang da’i sangat berperan dalam memberikan pengetahuan terhadap ummat, baik menggunakan metode belajar dikelas maupun metode menyeru diatas mimbar podium, namun proses mengajar ummat dengan metode menyeru diatas mimbar podium memiliki ilmu dan karakteristik khusus yang lebih dikenal dengan ilmu retorika.
Ilmu retorika mempelajari metode tata cara menyampaikan pesan dengan baik dan benar serta menarik minat ummat, didalamnya terdapat teknik membuka dan menutup pidato yang akan dibahas dan dikaji dalam makalah ini.

 

 

 

 

 

 

 

Bab II

Pembahasan

Proses Penyampaian Pidato

  1. 1.      Cara/Teknik Membuka Pidato

Pembukaan pidato adalah bagian penting dan menentukan. Tujuan utama pembukaan pidato adalah membangkitkan perhatian, memperjelas latar belakang pembicaraan dan menciptakan kesan yang baik. Bagaimana cara membuka pidato dan berapa lama waktu yang dibutuhkan, sangat tergantung pada topik, tujuan situasi, khalayak, dan hubungan antar pembicara dan pendengar.

Sebagai pedoman dalam membuka pidato, ada beberapa hal yang dapat dipilih diantaranya:

*        Langsung menyebutkan pokok masalah

*        Melukiskan latar belakang masalah

*        Menghubungkan dengan peristiwa aktual atau kejadian yang tengah menjadi perhatian khalayak

*        Menghubungkan dengan peristiwa yang diperingati

*        Menghubungkan dengan tempat dimana pidato itu dilaksanakan

*        Menghubungkan dengan suasana emosi (mood) yang tengah meliputi

*        Menghubungkan dengan peristiwa sejarah masa lalu dan masih banyak lagi yang lainnya yang dapat menggugah perhatian pendengar.

  1. Prinsip-prinsip penyampaian pidato

Ada sebagian orang memandang sebagai jenis percakapan yang diperluas (an enlarged conversation) karena itu, kita tidak perlu mempelajarinya, tetapi cukup dengan menguasai bahan yang dipergunakan. Ada sebagian lagi memandang pidato merupakan peristiwa yang khas, yang memerlukan bakat dan keterampilan khas juga. Tidak semua orang dapat menyampaikan pidato.

Memang benar pidato itu tidak berbeda dengan percakapan. Akan tetapi, seseorang yang menjadi lawan bicara yang baik belum tentudapat berpidato dengan baik. Sering kali irama dan gerak tubuh yang muncul secara alamiah dalam percakapan justru hilang dalam berpidato. Begitu tampil diatas mimbar suaranya datar dan pandangannya kosong. Ia membeku seperti patung. Memang benar juga bahwa pidato merupakan peristiwa yang khas. Akan tetapi, kekhasan pidato ialah semua orang akan dapat menyampaikan pidato dengan baik.

Berikut ini ada beberapa hal yang akan dikemukakan yang ada dalam kaitannya denga penyampaian pidato, yaitu;

  • Kontak visual dan mental

Pidato merupakan komunikasi tatap muka yang bersifat dua arah. Walaupun pembicara lebih banyak mendominasi pembicaraan, tetapi ia harus mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan para pendengarnya baik berupa kata-kata ataupun isyarat lainnya.

  • Olah Vokal

Mekanisme olah vokal mengubah bunyi menjadi kata, ungkapan atau kalimat. Tetapi cara mengeluarkan suara memberikan makna tambahan atau bahkan  membelokan makna kata. Ada tiga hal yang harus diperhatikan dalam olah vokal, yaitu: Intelligibility (kejelasan), Variety (keragaman), dan rhythm (Ritma). Termasuk keragaman adalah pause (hentian), untuk menyadari pentingnya olah vocal maka perlu memelihara suara bagi seorang ahli pidato.

  • Olah Visual

Sebenarnya ketika bebicara dengan wajar, pada waktu bercakap-cakap. Kita menggunakan olah visual itu dengan sendirinya. Secara alamiah anak-anak belajar berbicara dengan tangan, wajah, dan seluruh tubuhnya. Tetapi ketika kita tampil dihadapan orang banyak, kita hanya dapat berbicara dengan kata-kata lisan saja. Jadi sebenarnya fungsi gerak fisik, muka, tangan dan gerak tubuh lainnya perlu digunakan untuk menyampaikan makna, menarik perhatian dan menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat. Juga dapat digunakan untuk menggambarkan ukuran atau bentuk sesuatu. Gerak fisik ini bisa juga disebut isyarat empatik (Empatik Gesture).

2. Cara Menutup Pidato

Membuka dan menutup pidato merupakan bagian-bagian yang paling menentukan. Bila permulaan pidato harus dapat mengantarkan pikiran dan menambatkan perhatian pendengar kepada pokok pembicaraan, maka penutup pidato harus dapat memfokuskan pikiran dan perasaan khalayak pada gagasan utama atau kesimpulan penting dan seluruh isi pidato.[1] Oleh karena itu, penutup pidato harus dapat menjelaskan seluruh tujuan komposisi, memperkuat daya persuasi, mendorong pemikiran dan tindakan yang diharapkan, menciptakan klimaks dan menimbulkan kesan terakhir yang positif. Ada beberapa cara dalam  menutup pidato, yaitu diantarannya:

a)      Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar pembicaraan. Manusia mampu meningat banyak hal, tetapi hanya sanggup mengingat dengan jelas beberapa hal saja. Oleh karena itu, menutup pidato perlu disebutkan kembali hal-hal yang dianggap penting.

b)      Menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat dan kata yang berbeda.

c)      Mendorong khalayak untuk bertindak (Appeal of Action) tindakan ini bisa berupa respon fisik atau respon lainnya.

d)     Menceritakan contoh yang berupa ilustrasi dari tema pembicaraan dan memuji serta menghargai khalayak. Masih banyak lagi cara untuk menutup suatu pidato, dengan mengetahui tentang teknik-teknik pidato ini tapi pada akhirnya mutu teknik-teknik itu  bergabung kepada kreatifitas dari masing-masing pembicara.[2]

Tehnik Penutup Pidato
Menutup pidato memiliki tujuan untuk memfokuskan pikiran dan perasaan khalayak pada gagasan utama atau kesimpulan. Penutup pidato juga harus dipersiapkan sebelumnya dan sebaiknya dihafal.
Beberapa cara dalam menutup pidato :
1. Menyimpulkan atau mengemukakan ikhtisar pembicaraan materi pidato yang diberikan sejak awal hingga sebelum penutup;
2. Menyatakan kembali gagasan utama dengan kalimat yang berbeda, sehingga pendengar tidak merasa jenuh dan diulang-ulang terus;
3. Mendorong khalayak untuk bertindak (appeal for action), seorang ahli retorika juga harus mampu memberikan semangat dan motivasi kepada pendengarnya untuk mau melakukan apa yangdisampaikan oleh ahli pidato tersebut;
4. Mengakhiri dengan klimaks, maksud klimaks disini ialah mengakhiri pidato dengan tempo yang tinggi, saat suasana pendengar benar-benar terfokus dan tertarik kepada ahli pidato dan materi yang diberikan
5. Mengatakan kutipan peribahasa, sajak pengambilan peribahasa atau sajak yang sesuai dengan materi disampaikan ialah salah satu bentuk improvisasi untuk menyampaikan materi yang menarik didengar
6. Menceritakan contoh sebagai ilustrasi tema pembicaraan, sangat penting dalam penyampaian pidato serta penutupan diberikan ilustrasi cerita yang sesuai dengan materi disampaikan, sehingga pendengar tidak merasa jenuh karena dari awal hingga akhir mendengarkan pidato hanya materi saja yang disampaikan.
7. Menerangkan maksud pribadi pembicara yang sebenarnya, menjelaskan kepada pendengar dasar motivasi menyampaikan materi yang diberikan saat pidato tersebut kepada para pendengar.
8. Menghargai khalayak, sepandai apapun seorang ahli pidato kalau tidak memiliki sikap dan sifat yang santun dan menghargai pendengar kepandaian tersebut hanya percuma, karena subtansi pidato dan retorika ialah berbicara terhadap pendengar atau audiens.
9. Membuat pernyataan yang humoris, selingan humor pada saat materi dan menutup memberikan kesan segar dan tidak jenuh pada saat pidato maupun saat penutupan, namun tidak diperbolehkan memakai humor yang berlebihan, yang memiliki kemungkinan menyinggung pendengar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab III

Penutup dan Kesimpulan

Dalam beretorika diantaranya dalam berpidato, tentu terdapat beberapa unsur dalam penyampaiannya, diantaranya ada yang namanya pembukaan dalam berpidato, isi pidato dan penutup pidato.

Pembukaan pidato, umunya Pembukaan pidato adalah bagian yang terpenting dalam berpidato, Tujuan utama pembukaan pidato adalah membangkitkan perhatian, memperjelas latar belakang pembicaraan dan menciptakan kesan yang baik.

Pada retorika terdapat juga isi pidato, isi pidato termasuk bagian yang sangat penting dalam sebuah pidato, karena isi pidato merupakan tujuan dalam penyampaian apa yang akan di sampaikan oleh seorang  penceramah atau pembicara.

Membuka dan menutup pidato merupakan bagian-bagian yang paling menentukan. Bila permulaan pidato harus dapat mengantarkan pikiran dan menambatkan perhatian pendengar kepada pokok pembicaraan, maka penutup pidato harus dapat memfokuskan pikiran dan perasaan khalayak pada gagasan utama atau kesimpulan penting dan seluruh isi pidato. Oleh karena itu, penutup pidato harus dapat menjelaskan seluruh tujuan komposisi, memperkuat daya persuasi, mendorong pemikiran dan tindakan yang diharapkan, menciptakan klimaks dan menimbulkan kesan terakhir yang positif.

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

*Saputra, Wahidin. 2010. Retorika Monologika “Kiat dan Tips Praktis Menjadi Mubaligh”. Bogor-Jawa Barat : Titian Press

 


[1] Glenn R. Capp and Richard Capp Jr. Op. Cit,. Hlm 85.

[2] Jalaludin Rahmat, Op, cet,. Hlm 63.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s